Tancap Gas Jalankan Perintah Prabowo, Menteri Kehutanan Sidak Fatukoa: Jutaan Bibit Disiapkan Hijaukan Indonesia!

oleh -18 Dilihat
Menteri Kehutanan RI, Raja Juli Antoni Didampingi Kepala BPDAS Benain Noelmina, Kludolfus Tuames Tinjau Persemaian Fatukoa Kota Kupang. (Foto Istimewa)

Suarantt.id, Kupang-Gerak cepat ditunjukkan Kementerian Kehutanan dalam menindaklanjuti arahan Presiden RI, Prabowo Subianto, terkait penguatan gerakan penghijauan nasional. Tak berselang lama usai kunjungan kerja Presiden di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni langsung turun ke lapangan dengan meninjau Pesemaian Permanen Fatukoa, Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), Jumat (31/7/26).

Langkah ini menjadi sinyal tegas bahwa instruksi Presiden untuk mengembalikan kehijauan alam Indonesia tidak hanya berhenti pada wacana, tetapi segera dieksekusi secara konkret. Dalam arahannya, Presiden Prabowo menegaskan komitmen pemerintah untuk melakukan transformasi lingkungan melalui penanaman pohon dalam skala besar.

“Kalau pohon sudah banyak berkurang, kita tanam ratusan juta pohon,” tegas Presiden dalam kunjungan tersebut.

Menindaklanjuti arahan itu, Menteri Kehutanan memastikan kesiapan infrastruktur pembibitan, termasuk ketersediaan stok dan kualitas bibit di daerah. Pesemaian Permanen Fatukoa yang berada di bawah UPT BPDAS Benain Noelmina menjadi salah satu titik strategis dalam mendukung program nasional tersebut.

Dibangun sejak tahun 2010, persemaian ini awalnya hanya mampu memproduksi sekitar 100 ribu batang bibit. Namun kini, kapasitasnya melonjak signifikan hingga mencapai 1 juta batang per tahun. Di tengah kondisi alam NTT yang dikenal keras dan kering, capaian ini menjadi bukti nyata keberhasilan pengelolaan lingkungan secara berkelanjutan.

Beragam jenis bibit diproduksi di lokasi ini, mulai dari tanaman kehutanan seperti merbau, mahoni, trembesi, hingga tanaman produktif atau Multi Purpose Tree Species (MPTS) seperti jambu biji, alpukat, kopi, dan jeruk bali. Selain berfungsi menjaga ekologi, tanaman tersebut juga memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat.

Bibit-bibit ini dimanfaatkan untuk rehabilitasi hutan dan lahan kritis, penghijauan kawasan, pemulihan daerah aliran sungai, serta peningkatan tutupan vegetasi sebagai bagian dari upaya mitigasi perubahan iklim.

Tak hanya sebagai pusat produksi, Pesemaian Permanen Fatukoa juga berfungsi sebagai sarana edukasi. Lokasi ini menjadi tempat pembelajaran bagi pelajar, mahasiswa, kelompok tani hutan, hingga masyarakat umum dalam memahami teknik pembibitan dan pentingnya pelestarian lingkungan.

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengapresiasi upaya yang telah dilakukan oleh jajaran BPDAS Benain Noelmina dalam mengelola kawasan tersebut.

“Kita apresiasi upaya luar biasa ini. Dari kondisi yang awalnya ditolak masyarakat, melalui pendekatan persuasif akhirnya berubah menjadi kawasan hijau. Bahkan sumber air yang sebelumnya kering kini kembali mengalir,” ujarnya.

Ia menegaskan, pihaknya akan terus meningkatkan produksi bibit serta memperluas pembangunan persemaian di seluruh Indonesia, dengan dukungan teknologi yang lebih modern guna meningkatkan kualitas dan tingkat keberhasilan tanaman.

“Kita akan memproduksi lebih banyak lagi bibit, membangun lebih banyak persemaian, dan mengembangkan teknologi agar kualitas bibit semakin baik. Ini bagian dari dukungan terhadap program Presiden untuk menciptakan lingkungan yang asri, aman, dan berkelanjutan,” tambahnya.

Saat ini, Kementerian Kehutanan telah memiliki lebih dari 5 juta stok bibit nasional, didukung oleh 55 persemaian aktif yang tersebar di 34 provinsi di bawah naungan 37 unit BPDAS. Fasilitas ini diharapkan mampu memenuhi kebutuhan bibit secara cepat dalam mendukung program penghijauan nasional.

Untuk mempermudah akses masyarakat, Kementerian Kehutanan juga menyediakan layanan informasi stok bibit melalui platform digital, sehingga publik dapat memperoleh bibit pohon secara gratis dan terarah.

Dengan langkah cepat ini, pemerintah menunjukkan keseriusannya dalam membangun masa depan Indonesia yang lebih hijau, sekaligus memperkuat ketahanan lingkungan di tengah ancaman perubahan iklim. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.