Suarantt.id, Kupang-Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Johni Asadoma, menegaskan bahwa kepala sekolah harus menjadi pemimpin yang adaptif (agile), inovatif, berani mengambil risiko, serta memiliki komitmen kuat untuk melayani demi mendorong transformasi pendidikan di NTT.
Penegasan tersebut disampaikan Johni Asadoma saat menutup Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) Bakal Calon Kepala Sekolah (BCKS) Tahap I Tahun 2026 yang berlangsung pada 3-12 Oktober 2026.
Menurut Johni, kepala sekolah tidak boleh hanya berfokus pada urusan administrasi, tetapi harus mampu menjadi penggerak perubahan, membangun budaya sekolah yang positif, serta menciptakan lingkungan belajar yang mendukung perkembangan guru dan peserta didik.
“Kepala sekolah adalah pemimpin yang menentukan arah dan wajah sekolah. Karena itu, jangan menjadi kepala sekolah yang biasa-biasa saja. Jadilah pemimpin yang agile, yang mampu beradaptasi terhadap perubahan, tetapi tetap teguh pada visi dan tujuan,” tegas Johni.
Ia menjelaskan, kepemimpinan agile bukan berarti pemimpin mudah kehilangan arah ketika menghadapi perubahan. Sebaliknya, seorang pemimpin harus mampu menyesuaikan diri dengan berbagai situasi tanpa mengorbankan visi, prinsip, dan tujuan yang telah ditetapkan.
Johni juga menekankan pentingnya penerapan servant leadership atau kepemimpinan yang melayani. Baginya, jabatan kepala sekolah bukan sekadar posisi atau status, melainkan kesempatan untuk memberikan manfaat bagi orang lain.
“Orientasi seorang pemimpin harus melayani dan memberi. Kalau orientasinya melayani, pekerjaan akan menjadi sesuatu yang menyenangkan karena kita hadir untuk memberikan manfaat bagi orang lain,” ungkapnya.
Kepala Sekolah Jadi Ujung Tombak Transformasi Pendidikan
Johni menegaskan, peningkatan kualitas pendidikan merupakan investasi penting bagi masa depan NTT. Karena itu, pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan harus memiliki komitmen bersama dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Dalam konteks tersebut, kepala sekolah memegang peran strategis. Selain kompetensi akademik, seorang kepala sekolah dituntut memiliki integritas, karakter, keberanian, kepedulian, kemampuan berkolaborasi, serta komitmen untuk melayani.
Ia meminta para calon kepala sekolah agar mampu membangun komunikasi yang efektif, terbuka terhadap masukan, mendorong inovasi, serta memberikan ruang bagi guru dan peserta didik untuk berkembang sesuai potensi masing-masing.
Dengan kepemimpinan yang tepat, sekolah diharapkan menjadi ruang pembelajaran yang mindful, joyful, dan meaningful, yakni pembelajaran yang penuh kesadaran, menyenangkan, serta bermakna bagi seluruh warga sekolah.
Wagub Johni juga mengingatkan para peserta agar tidak berhenti pada pemahaman teori selama mengikuti diklat. Pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh harus diterapkan secara nyata ketika mereka dipercaya memimpin satuan pendidikan.
“Jadilah pemimpin yang adaptif, inovatif dan melayani. Gerakkan guru dan siswa untuk tumbuh bersama. Tinggalkan perubahan yang baik dan kesan yang berarti selama Saudara dipercaya memimpin,” pesannya.
157 Peserta Ikuti Diklat BCKS Tahap I Tahun 2026
Dalam pelaksanaan Diklat BCKS Tahap I Tahun 2026, sebanyak 157 dari 159 peserta yang diundang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan.
Para peserta mendapatkan pembekalan berbagai kompetensi penting, mulai dari kompetensi manajerial, kepribadian, sosial, hingga supervisi akademik.
Mereka juga memperoleh pengalaman praktik melalui kunjungan ke sekolah mentor serta menyusun proyek kepemimpinan transformatif sebagai bagian dari persiapan menjalankan tugas sebagai kepala sekolah.
Pada kesempatan tersebut, Johni menyampaikan apresiasi kepada Balai Guru dan Tenaga Kependidikan Provinsi NTT, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, serta seluruh pihak yang telah menyelenggarakan kegiatan tersebut.
“Atas nama Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur, saya menyampaikan apresiasi kepada Balai Guru dan Tenaga Kependidikan Provinsi NTT, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, serta seluruh pihak yang telah menyelenggarakan kegiatan ini dengan baik,” ujarnya.
Sementara itu, perwakilan peserta diklat menyampaikan bahwa kegiatan tersebut memberikan manfaat bagi para kepala sekolah dan bakal calon kepala sekolah dalam mempersiapkan diri menjalankan tugas kepemimpinan di satuan pendidikan.
Menurutnya, materi dan pembelajaran yang diperoleh selama diklat menjadi bekal untuk membangun tata kelola sekolah yang efektif, efisien, akuntabel, dan berkelanjutan.
Para peserta juga menyatakan komitmen untuk mendukung peningkatan kualitas proses belajar-mengajar, memperkuat mutu pendidikan, serta mempersiapkan generasi penerus NTT yang lebih berkualitas.
Melalui diklat tersebut, diharapkan para calon kepala sekolah mampu menerjemahkan konsep kepemimpinan adaptif dan melayani ke dalam tindakan nyata, sehingga perubahan di lingkungan sekolah dapat dirasakan langsung oleh guru, peserta didik, dan masyarakat.







