Suarantt.id, Kupang-Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Johni Asadoma, mendorong pengembangan Bendungan Raknamo di Kabupaten Kupang menjadi destinasi wisata air yang mampu menggerakkan perekonomian masyarakat setempat.
Dorongan tersebut disampaikan saat Wagub Johni mengunjungi Bendungan Raknamo, Jumat (9/10/2026), untuk meninjau kondisi tampungan air sekaligus mengidentifikasi potensi pengembangan kawasan bendungan sebagai pusat wisata berbasis alam dan air.
Dalam kunjungan tersebut, Johni berdialog dengan jajaran Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II dan Dinas PUPR Provinsi NTT. Pembahasan mencakup kondisi ketersediaan air, kebutuhan masyarakat, dukungan terhadap sektor pertanian, serta peluang pengembangan usaha produktif di kawasan bendungan.
Dorong Wisata Air hingga Jetski
Johni menilai Bendungan Raknamo memiliki potensi yang dapat dikembangkan lebih jauh, tidak hanya sebagai infrastruktur penyedia air, tetapi juga sebagai kawasan wisata yang memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat.
Ia mempertanyakan peluang investasi wisata air di kawasan tersebut agar potensi yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal.
“Kenapa tidak dibuat wisata air? Kalau kita bicarakan untuk investasi wisata air, bisa atau tidak?” ujar Johni dalam dialog bersama jajaran teknis.
Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan BBWS Nusa Tenggara II, Bernadeta Tea, ST., MT., menjelaskan bahwa kawasan Bendungan Raknamo telah memiliki speedboat serta potensi pengembangan perikanan dan aktivitas memancing.
Menanggapi penjelasan tersebut, Johni mendorong penataan fasilitas wisata, termasuk penyediaan lokasi pemancingan yang terorganisasi, aman, dan dikelola secara baik.
“Harus dibuat tempat pemancingan,” tegasnya.
Selain pemancingan, Johni menggagas pengembangan berbagai aktivitas wisata, seperti jetski, perahu wisata, perikanan, pembibitan aneka jenis tanaman, arena berkemah, hingga kawasan perlindungan rusa untuk mendukung pelestarian lingkungan dan keanekaragaman hayati.
Menurutnya, pengembangan berbagai potensi tersebut perlu dirancang secara terarah agar dapat membuka peluang usaha baru, menarik investasi, dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat di sekitar bendungan.
Tampungan Air Tersisa Sekitar 5 Juta Meter Kubik
Di tengah rencana pengembangan pariwisata, kondisi ketersediaan air tetap menjadi perhatian utama Pemerintah Provinsi NTT.
Dalam pertemuan tersebut, Bernadeta Tea menjelaskan bahwa Bendungan Raknamo memiliki kapasitas tampungan sekitar 14 juta meter kubik. Namun, akibat rendahnya curah hujan dan musim kemarau berkepanjangan, volume air yang tersisa diperkirakan hanya sekitar 5 juta meter kubik.
Kondisi ini mendorong perlunya langkah antisipasi untuk menjaga ketersediaan air bagi masyarakat dan sektor pertanian.
“Perkiraan dari BMKG kalau kemarau akan panjang, apa antisipasi?” tanya Johni kepada jajaran teknis.
Ia menekankan pentingnya pengaturan distribusi air dan penyesuaian pola tanam agar sumber daya air yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efektif, terutama ketika menghadapi kemarau panjang.
Dengan demikian, pengembangan pariwisata tidak boleh mengabaikan fungsi utama Bendungan Raknamo sebagai infrastruktur sumber daya air yang mendukung kebutuhan masyarakat dan pertanian.
Fasilitas Wisata Harus Dikelola Profesional
Johni menegaskan bahwa pengembangan wisata di Bendungan Raknamo harus dilakukan dengan memperhatikan keseimbangan antara kepentingan ekonomi, kebutuhan air, dan pelestarian lingkungan.
Ia juga mengingatkan bahwa fasilitas wisata yang disediakan perlu ditata dan dikelola secara profesional, sehingga pengunjung memperoleh layanan yang memadai dan aktivitas wisata dapat memberikan kontribusi ekonomi.
“Bendungan air memang disiapkan untuk masyarakat, tetapi kalau pariwisata yang tersedia fasilitasnya harus dibayar,” ujar Johni.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya pengelolaan fasilitas wisata yang memiliki nilai ekonomi, dengan tetap memperhatikan kepentingan masyarakat serta keberlanjutan fungsi bendungan.
Pengembangan kawasan ini diharapkan dapat membuka ruang bagi tumbuhnya usaha masyarakat, mulai dari jasa wisata air, perikanan, penyediaan fasilitas rekreasi, hingga usaha pendukung lainnya.
Namun, seluruh rencana tersebut tetap memerlukan perencanaan teknis, pengaturan keselamatan pengunjung, serta koordinasi dengan pihak pengelola bendungan agar tidak mengganggu operasional dan keamanan infrastruktur.
Perkuat Kolaborasi Pengembangan Raknamo
Kunjungan Wagub Johni Asadoma turut dihadiri Kepala Unit Pengelola Bendungan (UPB) BBWS, Jefri Mandolang, S.ST.; Kepala Bidang Operasi dan Pemeliharaan BBWS Nusa Tenggara II, Bernadeta Tea, ST., MT.; Pejabat Pembuat Komitmen Operasi dan Pemeliharaan IV BBWS Nusa Tenggara II, Lalu Siswadi, ST., MT.; Kepala Seksi Randal Bidang Sumber Daya Alam Dinas PUPR Provinsi NTT, Yosualdus Mashur; serta Kepala Bidang Sumber Daya Air Dinas PUPR Provinsi NTT, Frumensius A. Paju.
Pemerintah Provinsi NTT berharap koordinasi dengan BBWS Nusa Tenggara II, pemerintah kabupaten, dan pemangku kepentingan lainnya dapat memperkuat pengelolaan Bendungan Raknamo secara berkelanjutan.
Optimalisasi kawasan bendungan diharapkan mampu berjalan beriringan dengan upaya menjaga ketersediaan air, mendukung pertanian, melestarikan lingkungan, dan membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Dengan perencanaan dan pengelolaan yang tepat, Bendungan Raknamo berpotensi dikembangkan sebagai kawasan yang tidak hanya menunjang kebutuhan air, tetapi juga menjadi salah satu pilihan wisata alam dan air di Kabupaten Kupang yang memberikan manfaat bagi perekonomian lokal.






