NTT Rawan Kerusakan Lingkungan, Gubernur Melki Serukan Tata Kelola Ekologi Berkelanjutan

oleh -1947 Dilihat
Gubernur NTT Paparkan Materi dalam Acara Seminar Nasional STT IKAT Jakarta. (Foto Biro Adpim Setda NTT)

Suarantt.id, Kupang-Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, mengingatkan pentingnya pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan untuk mencegah kerusakan lingkungan di NTT.

Hal ini disampaikan dalam Seminar Nasional Sekolah Tinggi Theologia (STT) IKAT Jakarta bertema “Bersahabat dengan Alam” di Hotel Swiss Bellcourt, Kelapa Lima, Kota Kupang, Selasa (23/9/2025). Seminar ini merupakan rangkaian Dies Natalis ke-40 STT IKAT Jakarta.

“NTT ini kalau kita salah urus, potensi kerusakan lingkungannya besar sekali,” tegas Gubernur Melki di hadapan peserta seminar.

Melki menyebutkan empat prinsip utama dalam pengelolaan ekologi berkelanjutan, yakni efisiensi penggunaan sumber daya, keadilan antar generasi, partisipasi masyarakat sebagai aktor utama, serta integrasi pembangunan yang memperhitungkan dampak ekologis.

Ia menambahkan, pemerintah provinsi telah memperkuat komitmen perlindungan lingkungan melalui sejumlah regulasi, termasuk Perda tata ruang laut dan pulau kecil, Pergub tentang pengawasan ruang laut dan konservasi, serta kebijakan konservasi khusus di Taman Nasional Komodo.

Gubernur juga mencontohkan tawaran untuk membuka kembali pertambangan mangan yang hingga kini belum disetujui. “Sampai semua pihak sepakat, baru kemudian kita jalan. Tanpa kesepakatan bersama, tidak mungkin jalan,” ujarnya.

Melki menyebut pengelolaan SDA ramah lingkungan perlu dijalankan melalui program konservasi dan rehabilitasi alam, tata kelola air dan adaptasi iklim, pertanian dan perikanan berkelanjutan, energi terbarukan, penguatan kelembagaan, serta pendidikan dan literasi ekologis.

Meski demikian, ia mengakui masih banyak tantangan di NTT seperti kekeringan, deforestasi, degradasi lahan, tekanan pemanfaatan sumber daya akibat kemiskinan, lemahnya penegakan hukum, kurangnya data, minimnya partisipasi masyarakat adat, dan keterbatasan infrastruktur dan teknologi.

Untuk mengatasi hal itu, Melki mendorong kolaborasi multi pihak, termasuk akademisi, dunia usaha, media, masyarakat sipil, dan tokoh agama. Ia juga mengajukan empat strategi: keseimbangan pemanfaatan dan pelestarian lingkungan, penguatan tata kelola dan regulasi, pemberdayaan masyarakat lokal, dan pemanfaatan IPTEK untuk inovasi pertanian, energi, dan konservasi.

BACA JUGA:  Gubernur Melki Ajak KSP Kopdit Swasti Sari untuk Dukung Koperasi Desa Merah Putih dalam Pengembangan Ekonomi Masyarakat

“Saya bersyukur kemarin para Uskup dan tokoh-tokoh lingkungan protes soal geotermal. Kalau tidak ada protes itu, kita tidak tahu bahwa geotermal di lapangan bermasalah,” ujarnya. Menurutnya, dialog yang baik penting untuk mengatasi informasi yang simpang siur.

Pada kesempatan yang sama, Rektor STT IKAT Jakarta, Dr. Jimmy Lumintang, MBA, M.Th., menegaskan tema “Bersahabat dengan Alam” diangkat untuk mengingatkan kembali spiritualitas ekologis. “Kita percaya menjaga alam adalah bagian dari menjaga manusia,” katanya.

Ketua Panitia Seminar yang juga Direktur Pascasarjana STT IKAT, Pdt. Dr. Abdon Amtiran menyampaikan kegiatan ini merupakan satu dari 40 seminar dan 40 program pengabdian masyarakat dalam rangka Dies Natalis ke-40 STT IKAT Jakarta.

Selain Gubernur NTT, seminar ini juga menghadirkan Pdt. Dr. Andreas Yewangoe dan Prof. Dr. Zainur Wula, dengan penanggap Pdt. Emmy Sahertian, dan RD. Sintus Runesi. Kegiatan dimoderatori Pdt. Dr. Nelman A. Weny.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.