Wagub Johni Asadoma: Gereja Mitra Strategis Pemerintah Bangun Manusia Seutuhnya di NTT

oleh -3116 Dilihat
Wagub NTT Didampingi Bupati Sumba Timur dan Para Tamu Undangan Hadiri Acara Pembukaan Sidang IV Majelis Sinode Gereja Kristen Sumba (GKS) Tahun 2025 di Laboya, Sumba Barat. (Foto Biro Adpim Setda NTT)

Suarantt.id, Waikabubak-Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Johni Asadoma, menghadiri pembukaan Sidang IV Majelis Sinode Gereja Kristen Sumba (GKS) Tahun 2025 yang digelar di GKS Jemaat Laboya, Klasis Laboya, Kabupaten Sumba Barat, pada Selasa (4/11/2025) malam.

Acara pembukaan berlangsung khidmat dan penuh semangat pelayanan. Hadir pula sejumlah tokoh penting seperti Bupati Sumba Barat Yohanis Dade, Bupati Sumba Timur Umbu Lili Pekuwali, Wakil Bupati Sumba Barat Thimotius Tede Ragga, Wakil Bupati Sumba Tengah Martinus Umbu Djoka, Staf Ahli Gubernur Bidang Politik dan Pemerintahan Petrus Seran Tahuk, Ketua Umum Badan Pelaksana Majelis Sinode GKS Pdt. Marlin Lomi, unsur Forkopimda Kabupaten Sumba Barat, pimpinan dan anggota DPRD setempat, serta jemaat dan tokoh masyarakat.

Sidang Sinode sebagai Peristiwa Iman

Dalam sambutannya, Wakil Gubernur Johni Asadoma menegaskan bahwa Sidang Sinode bukan sekadar agenda organisasi gerejawi, melainkan peristiwa iman yang mengajak seluruh warga Gereja untuk merenungkan kembali panggilannya sebagai tubuh Kristus yang hidup — menjadi terang dan garam di tengah dunia.

“Sidang ini hendaknya menjadi ruang untuk memperbaharui hati, semangat pelayanan, dan meneguhkan kembali arah pengabdian Gereja agar tetap setia pada kehendak Tuhan,” ujar Johni.

Ia menekankan pentingnya gereja sebagai tempat pembaruan spiritual dan moral yang menjadi dasar dalam membangun masyarakat yang berintegritas, berbelarasa, dan berkeadilan.

Gereja sebagai Mitra Strategis Pemerintah

Lebih lanjut, Johni menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi NTT memandang Gereja sebagai mitra strategis dalam membangun manusia seutuhnya. Menurutnya, gereja memiliki peran besar dalam membentuk karakter masyarakat, menanamkan nilai-nilai kejujuran, kerja keras, solidaritas, dan kasih kepada sesama tanpa membeda-bedakan agama maupun latar belakang.

“Dalam setiap pelayanan GKS, saya melihat wajah kasih Kristus yang nyata — kasih yang bergerak keluar dan menyentuh kehidupan banyak orang. Kasih itu nyata dalam bidang pendidikan, kesehatan, pemberdayaan ekonomi, dan perdamaian di tengah masyarakat,” tutur Johni.

Pemerintah, kata dia, terus membuka ruang kolaborasi dengan lembaga keagamaan termasuk GKS dalam berbagai program sosial dan kemasyarakatan.

BACA JUGA:  DPD RI Soroti Penataan Ruang dan Pengelolaan Sampah di Kota Kupang

GKS Didorong Adaptif dan Kontekstual

Wagub Johni juga mengingatkan bahwa di tengah cepatnya perubahan zaman, gereja perlu terus beradaptasi dengan kemajuan teknologi, perubahan iklim, serta tantangan sosial dan moral yang semakin kompleks.

“GKS harus tampil sebagai Gereja yang kontekstual dan relevan, tanpa kehilangan roh Injil. Melalui refleksi dan doa dalam sidang ini, kiranya lahir keputusan-keputusan yang membawa pembaruan bagi Gereja dan berdampak bagi kesejahteraan masyarakat,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya generasi muda gereja dibekali dengan kemampuan berpikir kritis, literasi digital, dan tanggung jawab sosial agar mampu menjadi pelaku perubahan positif di tengah masyarakat.

Kolaborasi Gereja dan Pemerintah untuk Sejahterakan Umat

Dalam kesempatan itu, Wakil Gubernur menyoroti tantangan pembangunan di NTT seperti stunting, kemiskinan, serta rendahnya tingkat pendidikan dan literasi masyarakat. Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan lembaga keagamaan seperti GKS.

“Gereja memiliki peran moral dan sosial untuk ikut mendukung program-program pemerintah dalam menurunkan angka stunting, mengentaskan kemiskinan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tegas Johni.

Ia juga mengajak GKS untuk ikut berperan dalam sektor-sektor potensial seperti pertanian, peternakan, perikanan, kelautan, dan pariwisata, agar umat tidak hanya bertumbuh secara spiritual, tetapi juga mandiri secara ekonomi.

“Saat ini banyak investor dan mitra pembangunan datang ke Sumba. Mari kita manfaatkan peluang ini untuk bersama-sama membangun Sumba dan seluruh Nusa Tenggara Timur,” ajaknya.

Menjaga Persaudaraan dan Semangat Kasih

Menutup sambutannya, Johni Asadoma mengajak seluruh peserta sidang dan warga gereja untuk menjaga semangat persaudaraan dan toleransi di tengah masyarakat yang majemuk.

“Marilah kita terus bekerja bersama dalam kasih untuk mewujudkan NTT yang maju, sehat, cerdas, sejahtera, beriman, dan berkelanjutan. Semoga Yesus Kristus memberkati seluruh umat, gereja, dan pemerintah dalam setiap langkah pelayanan dan pembangunan,” pungkasnya.

Sidang IV Majelis Sinode GKS Tahun 2025 ini diharapkan melahirkan keputusan-keputusan penting yang tidak hanya memperkuat peran Gereja dalam kehidupan rohani, tetapi juga memberi kontribusi nyata bagi pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat Sumba serta Nusa Tenggara Timur secara keseluruhan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.