Inisiatif Dosen Budidaya Perairan Undana, Angkat Ekonomi Pesisir dari Rumput Laut Kappaphycus Alvarezii Sebagai Harapan Baru Bagi Masyarakat Rote Ndao

oleh -2782 Dilihat
Hasil Olahan Makanan dari Rumput Laut. (Foto Istimewa)

Oleh Prof. Dr. Ir. Marcelien Dj Ratoe Oedjoe, M.Si. (Dosen Prodi Budidaya Perairan, Fakultas Peternakan, Kelautan dan Perikanan, Universitas Nusa Cendana, Kupang)

Latar Belakang

Suarantt.id, Kupang-Program pemerintah dalam meningkatkan pendapatan masyarakat adalah  memberdayakan masyarakat itu sendiri (World Bank, 2014). Salah satu target dari program ini adalah masyarakat pesisir pantai, mengingat bahwa sebagian besar masyarakat Indonesia berdomisili dan menggantungkan mata pencahariannya di wilayah pesisir (Kementerian Kelautan & Perikanan, 2021). Program yang ditawarkan adalah memanfaatkan komoditi perikanan yang memiliki nilai ekonomis penting seperti rumput laut (Oedjoe dkk, 2019). 
Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan daerah  kepulauan, terdiri dari 1.192 pulau besar kecil dan memiliki panjang garis pantai 5.700 km. Sebagai daerah kepulauan, NTT memiliki potensi 15.141.773,10 Ha areal perikanan laut dan pantai. Selain sebagai lahan penangkapan ikan, perairan pantai juga dimanfaatkan untuk usaha budidaya perairan (marine aquaculture). Dari areal lahan pantai seluas 15.141.773,  Ha, hanya 929,9 Ha atau kurang dari 0,006  persen yang dimanfaatkan untuk produksi, dengan potensi produksi 51.500 ton/tahun (Statistik Diskan NTT., 2020). Salah satu bidang aquaculture (budidaya perairan) yang berkembang dewasa ini adalah budidaya rumput laut (seaweed culture) terutama budidaya rumput laut jenis Kappaphycus Alvarezii (Eucheuma Cottoni)i. Selanjutnya luas lahan potensial untuk budidaya rumput laut seluas 51.870 Ha atau 5 persen dari garis pantai, namun lahan yang baru termanfaatkan  sebesar 5.205,70 Ha, dengan potensi produksi sebesar 1,7 juta ton rumput laut basah atau 250.00 ton kering/tahun. Apabila seluruh lahan bisa dimanfaatkan maka akan dapat dicapai 13,013 juta ton kering per tahun dengan harga Rp.130.013 juta per tahun. Dengan kisaran jumlah produksi dan tingkat harga tersebut, akan diperoleh nilai Rp.75.582 miliar. Namun dari potensi area yang sangat luas ini, NTT saat ini hanya mampu mengusahakan 0,006 % dari potensi lahan yang ada (DKP NTT, 2020). Untuk memanfaatkan peluang pasar, maka usaha-usaha di bidang rumput laut yang sangat potensial untuk dikembangkan adalah: (1) pembukaan usaha budidaya rumput laut, atau pengembangan perluasan usaha dengan perluasan areal budidaya, (2) pengolahan pasca panen untuk memperoleh nilai tambah, (3) industri pemproses rumput laut untuk produk makanan siap saji (bakso, perem, mie, dodol, es dll), Alkali Treated Cottonii  (ATC) dan Semi Refined Carrageenan (SRC).
Usaha budidaya rumput laut telah banyak dilakukan oleh masyarakat pesisir di Propinsi NTT, mengingat kondisi perairan pesisir yang sesuai untuk kegiatan budidaya rumput laut ( Yayasan Gerbang Alam Timur, 2021). Di Kabupaten Rote Ndao, potensi lahan untuk budidaya rumput laut mencapai sekitar 32.000 hektare, namun baru sekitar 6,9 persen yang dimanfaatkan ( Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia, 2021).  Masyarakat pesisir di daerah ini, dengan jumlah pembudidaya sekitar 4.615 orang, menjadikan budidaya rumput laut sebagai mata pencaharian utama mereka (Dinas Keluatan dan Perikanan Nusa Tenggara Timur, 2021).  Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) telah membangun model budidaya rumput laut seluas 50 hektare di Rote Ndao sebagai bagian dari upaya hilirisasi dan penerapan ekonomi biru. Produksi rumput laut dari Kabuapten Rote Ndao sebesar 88.028,00 ton nomor dua setelah kabupaten Kupang 1.175.124,00 ton ( Dinas Kelautan dan Perikanan NTT, 2023). Sampai saat ini sebagian pembudidaya rumput laut di Kabupaten Rote Ndao menjual produknya dalam bentuk kering ataupun basah sehingga harga jualnya rendah yaitu Rp. 5.000 – 12.000,-/Kg berat kering (info dari penyuluhan, 2025).  Padahal apabila diolah menjadi produk siap jadi, misalnya dodol, mie, bakso,stek, es dll , maka dapat meningkatkan nilai jual produk tersebut sehingga pendapatan petani meningkat.

BACA JUGA:  Kopi NTT Menuju Panggung Global, Pemprov dan Komunitas Siap Bersinergi

Potensi Rumput Laut yang Belum Tergarap Optimal

Kabupaten Rote Ndao, dikenal sebagai salah satu wilayah penghasil rumput laut di baik di Provinsi NTT maupun Indonesia, khususnya jenis Kappaphycus alvarezii. Kappaphycus Alvarezii merupakan komoditas unggulan yang ramah lingkungan karena mampu menyerap CO2 dan tumbuh cepat dalam 45 hari tanpa memerlukan pupuk atau pestisida. Kappaphycus Alvarezii ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena menjadi bahan baku utama pembuatan karaginan, suatu zat aditif yang banyak digunakan dalam industri pangan, kosmetik, dan farmasi. Namun, selama ini rumput laut dari Rote Ndao sebagian besar dijual dalam bentuk mentah atau kering, sehingga nilai tambah yang diterima masyarakat masih relatif rendah. Namun, keterbatasan pengetahuan dan akses teknologi membuat pembudidaya maupun masyarkat hanya menjualnya dalam bentuk mentah (raw material) sehingga keuntungan yang didapat tidak maksimal. Oleh karena itu program pemberdayaan masyarakat perlu diperkuatkan seperti  UMKM. Selain pengolahan produk rumput laut, permasalahan lain yang dihadapi dalam pengembangan industri agro pada masa perubahan iklim  adalah metode pemasarannya. Sebagai upaya untuk meningkatkan pendapatan masyarakat pesisir, pemerintah daerah dan berbagai pihak terkait telah menginisiasi pelatihan pengolahan rumput laut. Pelatihan ini bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan praktis kepada para pembudidaya  dan pelaku usaha lokal agar dapat mengolah rumput laut menjadi produk bernilai jual tinggi, seperti bakso rumput laut, permen rumput laut, mie rumput laut, stek rumput laut, es rumput laut. Pelatihan ini dilaksanakan di Kabupaten Rote Ndao pada tanggal 30-31 Mei 2025 berlokasi di Rote Barat tepatnya di kelompok Tulufali . Kelompok Tulufali merupakan kelompok pembudidaya rumput laut yang memiliki permasalahan pokok yaitu kurangnya pengetahuan dan ketrampilan pengolahan rumput laut serta metode pemasaran berbasis online yang tepat. Pengolahan rumput laut menjadi produk siap saji sangat penting untuk meningkatkan nilai tambah dari rumput laut yang akan dijual. Metode pemasaran produk olahan rumput laut secara daring diharapkan mampu meningkatkan pendapatan sehingga kesejahteraan kelompok petani rumput laut semakin meningkat.

BACA JUGA:  Inisiatif Dosen Undana, Angkat Ekonomi Pesisir Lewat Olahan Rumput Laut Kappaphycus Alvarezii di Rote Ndao

Penjelasan Judul 

Judul ini merupakan suatu gambaran nyata dari dosen Program Studi Budidaya Perairan Universitas Nusa Cendana (Undana), yang mengambil inisiatif dalam memberdayakan masyarakat pesisir di Kabupaten Rote Ndao melalui pengembangan dan pengolahan rumput laut jenis Kappaphycus alvarezii. Inisiatif ini lahir dari keprihatinan terhadap kondisi ekonomi masyarakat pesisir yang masih menghadapi banyak tantangan, seperti keterbatasan akses pasar, teknologi budidaya yang belum optimal, dan ketergantungan pada hasil laut yang tidak selalu stabil.  Rumput laut Kappaphycus alvarezii dipilih karena memiliki nilai ekonomis tinggi dan permintaan pasar yang stabil, baik nasional maupun internasional, khususnya untuk industri pangan, non pangan, obat-obata dan kosmetik. Harga Rumput Laut Kering: Di beberapa daerah seperti Nusa Tenggara Timur, harga rumput laut kering mencapai sekitar Rp 9.000-Rp 12.000 per kilogram. Harga Karaginan sekitar Rp 210.000 per kilogram (PT Astil Sumba Timur). Nilai Tambah untuk Industri: Menurut penelitian di Nusa Tenggara Timur, nilai tambah tertinggi diperoleh oleh industri pengolahan rumput laut, mencapai sekitar Rp 41.000 per kilogram . Harga karaginan dari Kappaphycus alvarezii di pasar internasional bervariasi tergantung pada kualitas dan jenisnya. Sebagai contoh, harga karaginan murni gel press di pasar internasional dapat mencapai sekitar USD 15-20 per kilogram. Dengan pendekatan ilmiah, pelatihan teknis, dan pendampingan lapangan, para dosen Undana berharap kegiatan ini tidak hanya meningkatkan produksi rumput laut, tetapi juga menciptakan kemandirian ekonomi lokal dan memperkuat ketahanan masyarakat pesisir.

Judul ini menyiratkan bahwa kolaborasi antara dunia akademik dan masyarakat bisa menjadi jembatan menuju kesejahteraan. Kata “Harapan Baru” menegaskan bahwa inisiatif ini tidak hanya bersifat sementara, tetapi menjadi fondasi pembangunan berkelanjutan di wilayah pesisir Rote Ndao yang selama ini kurang tersentuh program pemberdayaan berbasis ilmiah.

Pelatihan Pengolahan dan Pemasaran Online

Pelatihan ini tidak hanya berfokus pada aspek teknis pengolahan, tetapi juga mencakup manajemen usaha kecil, pemasaran, dan pemanfaatan teknologi sederhana yang sesuai dengan kondisi lokal. Adapun tujuan utama dari pelatihan ini adalah: (a) Meningkatkan keterampilan masyarakat dalam mengolah rumput laut menjadi produk siap jual., (b) Menumbuhkan usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) berbasis sumber daya lokal, (c) Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat pesisir, (d) Mengurangi ketergantungan pada penjualan bahan mentah (raw material)
Keuntungan pemasaran online: (-) menjangkau konumen lebih banyak, (-)menyasar audiens lebih spesifik, (-) mudah untuk mengukur performa, (-) biasa yang di keluarkan lebih terjangkau.
Strategi Pemasaran di Era Digital 
Mengembangkan sebuah bisnis tidak hanya berbicara tentang menghasilkan produk, tapi juga erat kaitannya dgn teknik marketing.  Jika tidak menguasai teknik marketing maka akan sulit untuk memperkenalkan produk kepada masyarakat.
Strategi pemasaran online yang perlu di pahami : (-) tentukan target audiens, (-) Manfaatkan berbagai media pemasaran online; (-) susun rencana pemasaran yang matang, (-) buatlah alat pemasaran yang tepat

BACA JUGA:  DPD Demokrat NTT Gelar Rakerda, Fokus Konsolidasi dan Penguatan Struktur Partai

Materi Pelatihan

Beberapa materi yang diberikan dalam pelatihan meliputi: (a) Teknik pengolahan dasar menjadi mie, bakso, dodol dan stek , sebagai makanan ringan, (b) Teknik pengemasan dan pelabelan produk, (c) Strategi pemasaran digital dan manajemen usaha kecil.

Dampak Positif bagi Masyarakat

Pelatihan ini diharapkan dapat membuka peluang ekonomi baru bagi  kelompok Tulufali, masyarakat di Rote Ndao. Dengan kemampuan mengolah sendiri hasil panen, kelompom Tulufali, masyarakat tidak lagi bergantung pada tengkulak dan dapat menjual produknya langsung ke pasar dengan harga lebih tinggi. Selain itu, diversifikasi produk juga mendorong terciptanya lapangan kerja baru, khususnya bagi kelompok Tulufali dan generasi muda.

Harapan ke Depan

Dengan dukungan berkelanjutan dari pemerintah, LSM, dan sektor swasta, Kabupaten Rote Ndao berpotensi menjadi sentra industri rumput laut olahan yang berdaya saing tinggi. Inovasi dan kolaborasi menjadi kunci untuk mengoptimalkan potensi alam dan sumber daya manusia lokal. Pelatihan ini merupakan langkah strategis dalam mengubah paradigma masyarakat dari sekadar pengumpul bahan mentah menjadi pelaku industri kreatif berbasis sumber daya lokal. Jika diterapkan secara konsisten, upaya ini akan membawa dampak jangka panjang yang signifikan bagi pembangunan ekonomi daerah.

Penutup

Dari hitungan proyeksi seperti di atas bisa dibayangkan besarnya nilai dalam iklim bisnis rumput laut. Sungguh besar nilai tambahnya jika kita melakukan sistem bisnis rumput laut dengan paradigma  dengan dasar keilmuan yang benar.  Ada tanda kesyukuran atas nikmat Tuhan yang telah dilimpahkan berupa produk rumput laut di negeri ini. 
Alam laut yang sedemikian bersahabat ini rupanya telah menyediakan menghamparkan nikmat yang lebih besar seandainya kita bisa mensyukurinya dengan memperlakukan rumput laut dengan perlakuan produksi,  pengolahan, penyimpanan  serta pemasaran yang benar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.