Suarantt.id, Kupang-Olahraga hocky kembali menggeliat di Nusa Tenggara Timur (NTT) setelah sekian lama vakum. Salah satu tokoh penting di balik kebangkitan ini adalah Henok Bire, pelatih hocky di SMAN 7 Kupang yang menceritakan sejarah panjang serta harapan besar terhadap cabang olahraga yang dikenal keras ini.
Menurut Henok, sejarah hocky di NTT dimulai sejak tahun 1983, saat dua pelatih asal NTT, Welem Radja dan Roby Zakaria, dikirim ke Jakarta untuk mengikuti pelatihan. “Waktu itu ada panggilan dari Jakarta untuk mengikuti Sea Games 1983 di Singapura. Dari NTT ada empat orang dikirim, dua laki-laki dan dua perempuan. Yang lolos dua orang: Sarce Dima dan Kopong Uban,” kisah Henok.
Sepulang dari ajang bergengsi tersebut, mereka langsung melatih di beberapa sekolah seperti SMK 3, SMEA, dan SGO. Ketiga sekolah ini aktif bermain di Komdat, yang sekarang menjadi markas Polda NTT.
Kini, semangat itu kembali dinyalakan lewat pembentukan klub-klub hocky di SMAN 7 Kupang. “Sekarang ini SMAN 7 Kupang dibuka khusus untuk olahraga hocky. Kita bentuk klub-klub berdasarkan daerah asal siswa, misalnya dari Flores Timur, maka mereka akan mewakili Flores Timur,” jelas Henok.
Ia menambahkan bahwa pembinaan ini menjadi basis penting menuju ajang Pekan Olahraga Nasional (PON) XXI pada tahun 2028, di mana NTT bersama NTB akan menjadi tuan rumah. “Sebagai tuan rumah, kita tidak ikut pra PON. Tapi kita harus persiapkan dari sekarang. Hocky akan dipertandingkan di NTB,” tegasnya.
Henok juga mengakui keterbatasan tenaga dan waktu, karena selain melatih hocky, ia juga membuka pelatihan privat untuk renang, sepatu roda, dan triathlon. Bahkan pada PON Aceh-Sumut lalu, atlet triathlon dari NTT berhasil menyabet medali perunggu.
Dalam upaya membangun kembali hocky, Henok bersama timnya bekerja sama dengan UPTD Sarana Prasarana Dispora NTT, SKO, dan SMAN 7 Kupang. “Saya tidak bisa kerja sendiri, makanya kami kolaborasi,” ungkapnya.
Ia pun berharap para guru PJOK muda bisa melanjutkan perjuangan ini. “Saya sudah hampir 70 tahun. Saatnya yang muda yang ambil alih. Kami berdiri sebagai pembina dan motivator,” ucapnya dengan semangat.
Henok juga menyoroti pentingnya promosi dan penyadaran publik. “Harusnya di setiap sudut kota ada baliho bertuliskan NTT Siap Menuju PON 2028, lengkap dengan rincian cabang olahraga. Bahkan stiker-stiker kecil bisa dipasang di mobil-mobil. Kantor KONI NTT juga harus punya baliho besar sebagai bentuk kesiapan kita,” sarannya.
Ia berharap pemerintah dan semua pihak mulai mempersiapkan fasilitas olahraga hocky dari sekarang. “Sudah tahun 2025, waktu kita tinggal tiga tahun,” pungkasnya.
Sebagai informasi, olahraga hocky memiliki kesamaan dengan sepak bola, dimainkan oleh 11 orang di lapangan besar dan 6 orang di lapangan kecil, namun menggunakan stik sebagai alat pemukul bola.
Dengan semangat baru dan sejarah panjang yang membanggakan, NTT kini bersiap menjadikan hocky sebagai salah satu andalan di PON 2028 mendatang. ***





