Bangun Ekonomi Hijau, Gubernur NTT Ajak Kolaborasi Kembangkan Industri Bambu

oleh -1143 Dilihat
Gubernur NTT Hadiri Acara High Level Round Table Belajar Lintas Sektor untuk Ekonomi Restoratif di Kampus Bambu Komodo, Labuan Bajo. (Foto Biro Adpim Setda NTT)

Suarantt.id, Labuan Bajo-Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, menegaskan bahwa bambu memiliki potensi besar untuk menjadi pilar utama dalam membangun ekonomi restoratif di NTT. Hal ini disampaikan saat menghadiri High Level Round Table Belajar Lintas Sektor untuk Ekonomi Restoratif yang digelar di Kampus Bambu Komodo, Labuan Bajo pada Selasa (28/10/2025) siang.

Acara strategis ini dihadiri oleh Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI, Veronika Tan, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif RI, Irene Umar, Direktur Kehutanan dan Konservasi Sumber Daya Air, Catur Prasetyani, Ketua Umum AKAPSI sekaligus Bupati Luhut, Bursah Zarnubi, Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi, serta sejumlah kepala daerah dan perwakilan lembaga nasional.

Dalam sambutannya, Gubernur Melki Laka Lena menyampaikan apresiasi kepada Monica, Ketua Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL), atas penyelenggaraan kegiatan yang berhasil mempertemukan berbagai pemangku kepentingan penting dari lintas sektor.

“Terima kasih atas kehadiran Ibu Wamen PPPA, Ibu Wamen Ekonomi Kreatif, Dirjen, para Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah yang hadir. Kita berharap kegiatan ini menjadi langkah konkret untuk memperkuat produksi bambu di NTT dengan melibatkan semua pihak,” ujar Gubernur Melki.


Ia menekankan bahwa bambu memiliki nilai ekonomi tinggi dan dapat menjadi fondasi pembangunan berkelanjutan di daerah. Dengan pengelolaan yang tepat, bambu mampu menciptakan rantai nilai yang mendukung penyerapan tenaga kerja lokal, menjaga kelestarian alam, serta mengurangi tingkat kemiskinan di NTT.

“Kita ingin menciptakan rantai nilai bambu yang mampu menyerap tenaga kerja lokal, menjaga kelestarian alam, serta mendukung upaya pengurangan kemiskinan di NTT,” tambahnya.


Yayasan Bambu Lingkungan Lestari (YBLL) sebagai penyelenggara kegiatan dikenal dengan komitmennya membangun ekonomi restoratif berbasis desa melalui pendekatan agroekologi bambu. Salah satu program unggulannya adalah Sistem Hutan Bambu Lestari (HBL), yakni sistem panen tebang pilih yang menjamin keberlanjutan rumpun bambu sekaligus mendukung industri bambu berkelanjutan di Indonesia.

Selain itu, YBLL juga mengembangkan produk bambu laminasi bernilai tambah melalui Rumah Produksi Bersama Mosedia yang dikelola oleh BambuCoop. Program ini diharapkan menjadi model transformasi ekonomi restoratif yang melibatkan petani, pengrajin, pelaku industri, akademisi, dan pemerintah.

Forum lintas sektor tersebut juga dihadiri oleh Bupati Sumba Barat Daya, Ratu Wulla, Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, Bupati Manggarai Timur, Agas Andreas, Wakil Bupati Sumba Timur, Yonathan Hani, Direktur Utama Badan Pelaksana Otorita Labuan Bajo Flores, Dwi Yono, serta sejumlah pimpinan perusahaan swasta dari dalam dan luar negeri.

Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi NTT dalam memperkuat sinergi lintas sektor menuju ekonomi hijau dan berkelanjutan, sejalan dengan arah pembangunan nasional yang tertuang dalam ASTACITA (Arah, Strategi, dan Kebijakan Pembangunan Indonesia).

“Bambu bukan hanya sumber daya alam, tapi simbol semangat kolaborasi dan keberlanjutan untuk masa depan NTT,” tutup Gubernur Melki Laka Lena.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.