UMKM Bangkit Lewat Festival Budaya Bello, Wajah Baru Ekonomi Inklusif Kota Kupang

oleh -1086 Dilihat
Masyarakat dan UMKM di Kelurahan Bello Meriahkan Festival Budaya. (Foto Hiro)

Suarantt.id, Kupang-Semangat pemberdayaan ekonomi berbasis budaya terasa kuat dalam pelaksanaan Festival Budaya yang digelar oleh Pemerintah dan warga Kelurahan Bello, Kota Kupang. Acara yang merupakan bagian dari Program Lestari Budaya ini menjadi ruang hidup baru bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal untuk bangkit dan memperluas jangkauan usahanya.

Festival ini juga menjadi salah satu program unggulan Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, dan Wakil Wali Kota, Serena Cosgrova Francis, yang menggabungkan dua kekuatan utama pembangunan daerah pelestarian budaya dan penguatan ekonomi masyarakat.

Pantauan media di lokasi menunjukkan suasana semarak di area sebelah kanan panggung utama yang berdekatan dengan jalan raya. Di sana, deretan lapak UMKM menampilkan aneka kuliner khas lokal maupun umum dari kopi, jagung rebus, hingga cimol gurih semuanya menjadi daya tarik tersendiri bagi para pengunjung festival.

Lurah Kelurahan Bello, Robynson Emlimasir Lona, menjelaskan bahwa kegiatan ini dirancang secara inklusif, mencerminkan karakter budaya yang multidimensi. Salah satu wujudnya adalah integrasi antara budaya dan ekonomi.

“Festival ini menyediakan pengalaman ekonomi berbasis komunitas lokal. Hal ini sejalan dengan kebijakan Pemerintah Kota Kupang dalam memberdayakan budaya sekaligus menggerakkan UMKM,” jelas Robynson di sela-sela kegiatan pada Minggu (9/11/2025).

Beragam produk kuliner hasil kreasi masyarakat tersaji di festival tersebut. Mulai dari kudapan sederhana hasil olahan pemerintah kelurahan hingga pangan lokal buatan kelompok muda Gereja Efata Bello dan warga sekitar.

Salah satu pelaku UMKM yang ikut meramaikan acara adalah Merlin Bistolen, perempuan berusia 21 tahun asal Bello. Biasanya ia menjual keripik pisang cokelat, namun di festival ini Merlin mencoba menawarkan cimol gurih buatannya sendiri.

“Beta hobi masak dan jualan. Jadi pas ada festival begini beta manfaatkan hobi untuk jualan. Biasanya beta jualan kecil-kecilan, tapi festival ini bikin beta bisa ketemu lebih banyak pembeli,” kisah Merlin sambil tersenyum.

Sore itu, saat matahari mulai tenggelam, meja jualan Merlin sudah hampir kosong. Hanya dua mika cimol tersisa dari belasan yang ia bawa.

“Puji Tuhan, ini sudah mau habis jualannya beta. Awalnya ragu jangan sampai tidak laku, tapi ternyata hampir habis semua. Hitung-hitung, sekarang sudah untung,” katanya penuh syukur.

Di lapak sebelahnya, Lian Amnifu bersama rekan-rekan Pemuda Gereja Efata Bello menjual kopi lokal, jagung rebus, dan bubur kacang hijau. Semua hasil kreasi komunitas mereka sendiri.

“Kami ambil kesempatan dari kegiatan ini untuk jualan produk lokal. Ramai sekali, sampai pusing layani pembeli,” ujar Lian sambil tertawa.

Harga jual di festival pun ramah kantong: cimol Rp5.000–Rp7.000 per mika, jagung rebus Rp5.000 per buah, dan kopi Rp5.000 per cup. Meskipun sederhana, antusiasme pengunjung membuat para pelaku UMKM mendapat keuntungan yang cukup signifikan.

Keduanya mengaku, kesempatan berjualan di festival ini tak lepas dari dukungan panitia. Ketua pemuda yang juga terlibat dalam kepanitiaan membantu mereka mendapatkan lapak untuk berjualan.

Bagi Merlin dan Lian, pengalaman ini lebih dari sekadar mencari untung. Festival budaya memberi mereka ruang untuk berkembang, belajar berinteraksi dengan konsumen, dan memperluas jangkauan produk mereka ke masyarakat yang lebih luas.

“Kami harap kegiatan ini bisa terus diadakan. Soalnya lewat festival begini, semangat kami untuk jualan bisa tersalurkan,” ujar Merlin menutup percakapan.

Melalui Festival Budaya Bello, Pemerintah Kota Kupang menunjukkan bahwa pelestarian budaya tak hanya sebatas pada tarian dan musik tradisional, tetapi juga dapat menjadi motor penggerak ekonomi lokal yang inklusif. Di antara denting alat musik dan aroma cimol yang menggoda, lahir harapan baru bagi UMKM Kota Kupang untuk terus bangkit dan tumbuh bersama budaya. (Penulis/ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.