Suarantt.id, Kupang-Pesparawi Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) untuk pertama kalinya digelar di Kota Kupang. Kegiatan yang mengusung semangat “Pembukaan Simfoni Persaudaraan GMIT” tersebut resmi dibuka di Aula GMIT Center, pada Rabu (7/10/2026).
Pesparawi Sinode GMIT diikuti 30 kelompok paduan suara dari berbagai jemaat dan wilayah pelayanan GMIT. Kegiatan ini tidak hanya diarahkan sebagai ajang kompetisi, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan untuk memperkuat persaudaraan dan mengembangkan talenta musik gerejawi.
Wakil Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Saneb Y. Ena Blegur, mengatakan terdapat sejumlah pesan penting yang hendak dibangun melalui pelaksanaan Pesparawi tersebut.
Menurutnya, Pesparawi harus menjadi ruang yang mampu mempertemukan perbedaan yang ada di berbagai daerah dalam semangat persaudaraan.
“Ini ruang perjumpaan yang baik untuk menyatukan komitmen sebagai tubuh Kristus,” ujar Pdt. Saneb.
Ia menjelaskan, keberagaman yang dimiliki jemaat GMIT di berbagai wilayah bukan menjadi penghalang, melainkan kekuatan untuk bersama-sama membangun gereja dan daerah Nusa Tenggara Timur.
Pdt. Saneb juga menyoroti perkembangan teknologi yang menurutnya turut mengubah kebiasaan dalam pelayanan musik dan puji-pujian di gereja.
Ia menilai, kemudahan teknologi seperti telepon genggam, perangkat Bluetooth, dan speaker aktif memang memberikan kemudahan. Namun, di sisi lain, perkembangan tersebut berpotensi membuat jemaat semakin jarang berkumpul dan belajar bernyanyi bersama.
“Dia cukup bawa handphone, koneksi dengan speaker aktif, lalu dia menyanyi sendiri. Sehingga dia tidak mau lagi berkumpul satu dengan yang lain,” katanya.
Menurutnya, paduan suara memiliki nilai penting karena mengajarkan jemaat untuk berkumpul, berlatih, mendengar satu sama lain, serta membangun harmoni secara bersama-sama.
Karena itu, ia berharap Pesparawi tidak hanya berorientasi pada siapa yang menjadi juara. Lebih dari itu, kegiatan tersebut harus mampu menghidupkan kembali semangat kebersamaan dalam pelayanan gereja.
“Jangan menceritakan siapa yang juara satu. Sebaiknya kita bercerita, mari kita mulai dengan notasi yang lain,” tegasnya.
Pdt. Saneb menambahkan, puji-pujian dalam gereja harus dipersiapkan dengan baik karena merupakan bagian dari ibadah. Setiap pelayanan musik dan paduan suara diharapkan memberikan dampak bagi seluruh jemaat.
Sementara itu, Wali Kota Kupang dr. Christian Widodo dalam sambutannya mengatakan musik dan paduan suara merupakan gambaran bagaimana perbedaan dapat disatukan dalam sebuah harmoni.
Menurut Christian, sebuah paduan suara tidak akan menghasilkan harmoni apabila seluruh anggotanya memiliki suara yang sama. Justru perbedaan karakter suara menjadi kekuatan untuk menghasilkan sebuah simfoni yang indah.
“Persatuan itu tidak harus menjadi sama, tetapi mampu berjalan bersama meskipun berbeda,” ujar Christian.
Ia mengibaratkan setiap individu dalam kehidupan seperti bagian-bagian dalam sebuah paduan suara. Ada saatnya seseorang mengambil peran lebih besar, tetapi ada pula waktunya memberikan kesempatan kepada orang lain.
“Kita saling membuka kesempatan. Kita saling memahami, kita tahu kapan kita mundur, kita tahu kapan kita maju, sehingga menjadi satu simfoni yang unik,” katanya.
Christian mengapresiasi pelaksanaan Pesparawi Sinode GMIT di Kota Kupang. Menurutnya, kegiatan tersebut bukan sekadar ajang bernyanyi, tetapi menjadi momentum mempererat persaudaraan dan kebersamaan warga GMIT.
Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma juga mengapresiasi pelaksanaan Pesparawi Sinode GMIT. Ia berharap kegiatan tersebut menjadi momentum memperkuat kebersamaan sekaligus memberikan ruang bagi peserta untuk mengembangkan potensi seni dan musik gerejawi.
Ketua Panitia Pesparawi Sinode GMIT yang juga Sekretaris Daerah Kota Kupang, Jeffry E. Pelt, mengatakan kegiatan tersebut berlangsung selama tiga hari dengan melibatkan 30 kelompok paduan suara.
Jeffry berharap Pesparawi dapat menjadi wadah untuk membina dan mengembangkan potensi musik dari jemaat GMIT.
Ia juga menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Kota Kupang, Sinode GMIT, para sponsor serta seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan.
Dengan semangat persaudaraan, Pesparawi Sinode GMIT diharapkan tidak berhenti sebagai kompetisi, tetapi menjadi ruang perjumpaan, pembinaan talenta, dan penguatan kebersamaan jemaat GMIT di seluruh NTT. ***





