Dari Ubinan ke Harapan: Cerita Petani Bakunase Menjaga Pangan Kota Kupang

oleh -80 Dilihat
Panen Padi di Kelompok Tani Maju Bersama Kelurahan Bakunase Kota Kupang. (Foto Istimewa)

Suarantt.id, Kupang-Pagi itu, hamparan sawah di Kelurahan Bakunase, Kecamatan Kota Raja, tampak hidup. Di bawah terik matahari yang mulai meninggi, para petani dari Kelompok Tani (Poktan) Maju Bersama sibuk memanen padi yang telah mereka rawat berbulan-bulan. Di lahan seluas dua hektare itu, kerja keras perlahan berubah menjadi hasil, meski baru sebagian yang dipanen.

Ketua Poktan Maju Bersama, Arianto Tanof, tak bisa menyembunyikan rasa syukurnya. Dari total lahan yang digarap, panen sementara baru mencapai 0,5 hektare dengan jenis padi Ngaos Mawar. Namun bagi mereka, setiap bulir padi yang dihasilkan tetap menjadi simbol harapan.

Di tengah aktivitas panen, kegiatan ubinan pun dilakukan. Dengan metode sederhana mengukur hasil panen pada petak 1 meter kali 1 meter para petani bersama petugas Dinas Pertanian mencoba menghitung produktivitas secara lebih akurat. Dari petak kecil itulah, gambaran besar tentang hasil panen dapat diproyeksikan.

Kepala Dinas Pertanian Kota Kupang, Matheus Herry Da Costa, yang dihubungi melalui handphone selulernya menjelaskan bahwa ubinan menjadi salah satu cara penting untuk mengetahui potensi hasil panen secara ilmiah.

Menurutnya, langkah ini tidak hanya membantu petani memahami capaian produksi, tetapi juga menjadi dasar evaluasi untuk musim tanam berikutnya.

“Melalui ubinan, kita bisa melihat potensi hasil secara lebih terukur. Ini penting untuk perencanaan ke depan, termasuk peningkatan produksi,” ujarnya.

Dirinya juga memberikan perhatian dan dukungan atas keberhasilan hasil panen yang diperoleh Kelompok Tani Maju Bersama pada musim tanam pada tahun 2026 ini. Dan untuk diketahui bahwa Koptan tersebut merupakan binaan dari Dinas Pertanian Kota Kupang.

Namun kehidupan petani di Kota Kupang tidak berhenti pada satu musim tanam. Usai panen padi, sebagian besar petani akan kembali mengolah lahannya untuk menanam jagung dan berbagai tanaman hortikultura. Pola tanam ini menjadi strategi bertahan sekaligus upaya menjaga keberlanjutan pangan di tengah keterbatasan lahan dan kondisi cuaca yang kerap berubah.

BACA JUGA:  Saat Huruf Kembali Jelas: Senyum Lansia Manulai 2 Berkat Kacamata Gratis dari Politisi Filmon Loasana

Bagi para petani di Bakunase, tanah bukan sekadar sumber penghidupan, tetapi juga ruang untuk menanam harapan. Dari petak ubinan yang kecil, mereka belajar membaca masa depan. Dari setiap musim yang berganti, mereka terus beradaptasi, menjaga agar dapur-dapur di Kota Kupang tetap mengepul.

Panen boleh saja berlangsung di lahan yang tak luas, tetapi semangat yang tumbuh di dalamnya jauh lebih besar semangat untuk terus menanam, merawat, dan menjaga ketahanan pangan di kota ini. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.