Festival PSA V UNWIRA Jadi Ruang Refleksi Perbatasan, Gubernur Tekankan Kolaborasi RI-Timor Leste

oleh -72 Dilihat
Gubernur NTT Buka Kegiatan Festival PSA V UNWIRA Kupang 2026. (Foto Biro Adpim Setda NTT)

Suarantt.id, Kupang-Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, secara resmi membuka Festival Philosophia Sapere Aude (PSA) V yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Filsafat Universitas Katolik Widya Mandira (UNWIRA) di Kampus Penfui pada Kamis (4/6/26) malam.

Mengusung tema “Membangun Jembatan Dialog di Perbatasan: Indonesia dan Timor-Leste”, festival ini menjadi ruang refleksi akademik, budaya, dan kemanusiaan yang mendorong generasi muda untuk memahami dinamika kehidupan masyarakat di kawasan perbatasan kedua negara.

Dalam sambutannya, Gubernur Melki Laka Lena memberikan apresiasi kepada Fakultas Filsafat UNWIRA yang dinilai konsisten menghadirkan ruang akademik yang tidak hanya mengembangkan ilmu pengetahuan, tetapi juga mendorong refleksi kritis terhadap persoalan nyata di tengah masyarakat.

Menurutnya, kawasan perbatasan Indonesia dan Timor-Leste tidak hanya dimaknai sebagai batas geografis dan administratif, tetapi juga sebagai ruang perjumpaan sejarah, budaya, bahasa, dan identitas yang telah terjalin sejak lama.

“Negara boleh berbeda, tetapi masyarakat masih terhubung oleh akar budaya, relasi kekerabatan, dan memori bersama. Karena itu, batas negara penting untuk menjaga kedaulatan, tetapi tidak boleh menjadi penghalang bagi kemanusiaan,” tegasnya.

Ia menambahkan, masa depan kawasan perbatasan tidak dapat dibangun hanya dengan pendekatan infrastruktur dan regulasi semata. Diperlukan dialog, saling pengertian, dan kepercayaan sebagai fondasi utama.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur juga menyinggung rencana pengembangan Free Trade Zone (FTZ) antara Indonesia dan Timor-Leste. Menurutnya, FTZ harus dimaknai lebih luas sebagai instrumen untuk memperkuat hubungan sosial dan membuka peluang kesejahteraan bagi masyarakat di kedua negara.

“FTZ tidak hanya soal perdagangan bebas, tetapi juga menjadi ruang untuk memperluas kerja sama, menghadirkan pusat pertumbuhan baru, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat di kawasan perbatasan,” jelasnya.

BACA JUGA:  NTT Siap Sambut Wisatawan Dunia

Sementara itu, Wakil Dekan Fakultas Filsafat UNWIRA, RD. Theo Silab, menegaskan bahwa perbatasan harus dilihat sebagai ruang perjumpaan berbagai identitas dan kepentingan.

“Perbatasan bukan hanya garis pada peta, tetapi arena perjumpaan bahasa, budaya, ekonomi, dan sejarah. Di sana ada peluang sekaligus tantangan. Karena itu, dialog harus dibangun berdasarkan etika demi kehidupan bersama yang bermartabat,” ujarnya.

Rektor UNWIRA, RD. Dr. Stefanus Lio, SVD, juga menyampaikan bahwa Festival PSA tidak sekadar menjadi ajang pertukaran gagasan, tetapi juga wadah refleksi kritis atas tantangan dan peluang hidup bersama di kawasan perbatasan.

Festival PSA V menghadirkan beragam kegiatan, mulai dari lomba penulisan artikel jurnal, debat nasional mahasiswa, lomba tari kreasi, paduan suara, dramatisasi Kitab Suci, hingga diskursus ilmiah, seminar tematik, serta konser musik dan pergelaran seni.

Partisipasi komunitas turut mewarnai kegiatan ini, salah satunya Komunitas Sastra Dusun Flobamora yang telah terlibat sejak penyelenggaraan pertama. Perwakilan komunitas, Eufrasia Samin, mengaku senang dapat kembali ambil bagian dalam festival tersebut.

“Festival ini membantu komunitas kami dikenal lebih luas dan menjadi ruang bagi masyarakat untuk bertemu dengan karya-karya sastra dan kebudayaan,” ungkapnya.

Antusiasme juga terlihat dari para mahasiswa peserta lomba. Dela, mahasiswi Fakultas Filsafat UNWIRA, menjelaskan bahwa kelompoknya menampilkan Tari Loro Nusa yang mengangkat kisah konflik hingga perdamaian di kawasan perbatasan.

“Kami mencoba menggambarkan perjalanan konflik hingga pemulihan dan perdamaian secara kreatif melalui tarian,” jelasnya.
Usai membuka kegiatan, Gubernur Melki Laka Lena meninjau berbagai stan pameran yang menampilkan karya mahasiswa, komunitas literasi, serta pelaku seni budaya.

Dia juga berdialog langsung dengan peserta dan memberikan apresiasi atas kreativitas generasi muda. Melalui Festival PSA V, diharapkan lahir berbagai gagasan dan inisiatif yang mampu memperkuat dialog lintas batas, mempererat hubungan Indonesia dan Timor-Leste, serta mendorong terwujudnya kawasan perbatasan yang damai, produktif, dan sejahtera. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.