Gubernur Melki Tantang Bunda Literasi Bangun Budaya Baca dari Keluarga, Perkuat Literasi Berkelanjutan di NTT

oleh -66 Dilihat
Gubernur NTT Melki Laka Lena Buka Kegiatan Lokakarya Optimalisasi Peran Kelompok Kerja (Pokja) Bunda Literasi Kabupaten/Kota dan Provinsi NTT dalam Pemanfaatan Buku Bacaan Bermutu, di Ballroom Hotel Sasando, Kota Kupang pada Jumat, 6 November 2026. (Foto Biro Adpim Setda NTT)

Suarantt.id, Kupang-Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, menantang Bunda Literasi dan Kelompok Kerja (Pokja) Literasi kabupaten/kota se-NTT untuk mengambil peran lebih besar dalam membangun budaya membaca yang berkelanjutan, dimulai dari lingkungan keluarga.

Menurut Gubernur Melki, keluarga merupakan fondasi utama dalam membentuk kebiasaan membaca anak sejak usia dini. Karena itu, Bunda Literasi, khususnya para ibu, harus menjadi inspirator sekaligus penggerak budaya baca di tengah keluarga dan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Gubernur Melki saat membuka Lokakarya Optimalisasi Peran Kelompok Kerja (Pokja) Bunda Literasi Kabupaten/Kota dan Provinsi NTT dalam Pemanfaatan Buku Bacaan Bermutu, di Ballroom Hotel Sasando, Kota Kupang pada (6/11/2026).

“Investasi terbaik adalah menyiapkan generasi masa depan. Kemampuan membaca dan berpikir kritis merupakan kebutuhan mendasar yang harus kita siapkan sejak dini,” tegas Melki.

Ia mengingatkan, kegiatan lokakarya tersebut tidak boleh sekadar menjadi agenda seremonial. Sebaliknya, momentum ini harus dimanfaatkan untuk membangun gerakan literasi yang berkelanjutan dan memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kemampuan membaca, berpikir kritis, serta kreativitas anak-anak NTT.

Menurutnya, di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, budaya membaca justru harus semakin diperkuat. Kemudahan akses terhadap berbagai platform digital perlu diimbangi dengan kemampuan anak dalam memilah informasi, berpikir kritis, dan mengembangkan pengetahuan melalui bacaan berkualitas.

“Jika budaya membaca dimulai dari rumah, maka peran orang tua sangat vital. Kita membutuhkan gerakan bersama untuk menjaga budaya literasi, sekaligus memastikan anak-anak NTT tumbuh dengan karakter, kreativitas, dan kemampuan berpikir yang baik,” ujarnya.

Sejalan dengan visi pembangunan NTT melalui program Dasa Cita Melki-Johni, Gubernur mendorong kolaborasi lintas sektor untuk membangun ekosistem literasi yang melibatkan pemerintah, satuan pendidikan, keluarga, komunitas, dan mitra pembangunan.

BACA JUGA:  Gubernur Melki Hadiri Peluncuran Buku “Melipat Jarak Kupang-Jakarta”: Dokumentasi Perjuangan Kolektif Bangun NTT-Sentris

Untuk memastikan gerakan literasi berjalan konsisten, Melki mengusulkan tiga langkah strategis.

Pertama, memperkuat kolaborasi melalui forum evaluasi rutin yang melibatkan kepala sekolah dan seluruh pemangku kepentingan pendidikan, mulai dari jenjang PAUD hingga SMA/SMK dan SLB.

Kedua, mengembangkan inovasi gerakan literasi melalui pemberian penghargaan kepada guru dan pihak-pihak yang menunjukkan kontribusi nyata dalam meningkatkan budaya serta kemampuan membaca peserta didik.

Ketiga, memastikan keberlanjutan program dan mengukur dampaknya secara konkret, sehingga setiap upaya yang dilakukan benar-benar memberikan manfaat bagi peningkatan kualitas pendidikan dan masa depan anak-anak NTT.

“Forum ini diharapkan menjadi ruang untuk memantau perkembangan kemampuan membaca peserta didik,” ungkapnya.

Buku Bermutu Harus Dimanfaatkan Secara Maksimal

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur Melki juga menegaskan pentingnya pemanfaatan buku bacaan bermutu yang telah didistribusikan ke berbagai kabupaten/kota di NTT.

Menurutnya, ketersediaan buku harus diikuti dengan gerakan nyata yang mendorong anak-anak untuk membaca, memahami isi bacaan, dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis.

Deputi Direktur INOVASI Indonesia, Handoko, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi NTT atas komitmen dan keterbukaan dalam membangun kerja sama untuk memperkuat sektor pendidikan dan literasi.

Ia mengatakan, buku bacaan bermutu yang telah didistribusikan ke berbagai daerah di NTT merupakan modal penting dalam memperkuat gerakan literasi.

“Buku, guru, dan relawan sudah tersedia. Tantangan kita sekarang adalah memastikan anak-anak dapat memanfaatkan sumber daya tersebut dan memiliki lingkungan yang mendukung kebiasaan membaca,” ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Provinsi NTT dalam laporan panitia menyampaikan bahwa NTT merupakan salah satu daerah penerima bantuan buku bacaan bermutu dalam jumlah besar. Ribuan buku telah didistribusikan ke berbagai kabupaten/kota.

Lokakarya tersebut diselenggarakan untuk memperkuat peran strategis Bunda Literasi dan Pokja Literasi di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota dalam mengoptimalkan pemanfaatan buku bacaan bermutu.

BACA JUGA:  Bantah Pungli, Kepsek SMAN Manufui Sebut Rp100 Ribu sebagai Hukuman Siswa Perusak Fasilitas

Kegiatan ini juga bertujuan membangun pola kerja dan model kolaborasi baru melalui penguatan komitmen bersama, sekaligus mendorong peningkatan minat baca dan indeks kegemaran membaca masyarakat NTT.

Pada kesempatan itu, Gubernur Melki turut menyampaikan komitmennya terhadap penguatan budaya literasi melalui karya tulis. Ia mengungkapkan rencana untuk kembali menerbitkan buku sebagai bentuk dokumentasi perjalanan dan refleksi pembangunan daerah.

“Buku adalah ruang yang jujur untuk menghadirkan perjalanan pembangunan. Melalui buku, kita dapat mendokumentasikan apa yang sudah dilakukan, apa yang menjadi tantangan, dan apa yang harus diperbaiki untuk masa depan,” ungkapnya.

Lokakarya yang berlangsung selama dua hari, 6–7 November 2026, tersebut dihadiri Deputi Bidang Pengembangan Sumber Daya Perpustakaan, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa RI, Bunda Literasi Provinsi NTT, Ketua Pokja Literasi NTT, unsur Forkopimda Provinsi NTT, Bunda Literasi dan Ketua Pokja Literasi kabupaten/kota se-NTT, pimpinan perangkat daerah, narasumber, serta mitra pembangunan.

Melalui penguatan peran Bunda Literasi dan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan, Pemerintah Provinsi NTT berharap budaya membaca tidak hanya tumbuh di lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi kebiasaan dalam setiap keluarga.

Dengan demikian, literasi tidak sekadar menjadi program pemerintah, melainkan gerakan bersama untuk menyiapkan generasi NTT yang cerdas, kreatif, kritis, dan mampu menghadapi tantangan masa depan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.