Hadiri Paskah dan HUT ke-28 GMIT Moria Liliba, Wakil Wali Kota Kupang Soroti Nilai Kasih dan Persaudaraan

oleh -657 Dilihat
Wawali Kupang Hadiri Paskah dan HUT ke-28 GMIT Moria Liliba Kupang pada Minggu, 5 April 2026. (Foto Prokompim Kota Kupang)

Suarantt.id, Kupang-Wakil Wali Kota Kupang, Serena C. Francis menghadiri Ibadah Paskah sekaligus perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-28 GMIT Moria Liliba yang berlangsung di GMIT Moria Liliba pada Minggu (5/4/2026).

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Majelis Jemaat GMIT Moria Liliba, Pdt. Elisabeth Radja Gah-Djara, S.Th.; Pemimpin Ibadah Paskah dan Syukur HUT ke-28, Pdt. Emr. Okto Nenohai, S.Th.; Pdt. Desiana Rondo Effendy, S.Th., M.Th. bersama para presbiter jemaat; Komisaris Utama PT Taspen, Ir. Fary Djemy Francis, M.MA.; para mantan pendeta yang pernah melayani; Ketua Panitia Hari Raya Gerejawi 2026, Fernimus R. Musa beserta jajaran; serta seluruh jemaat GMIT Moria Liliba.

Dalam sambutannya, Serena Francis mengajak seluruh jemaat untuk bersyukur atas makna iman yang terkandung dalam Paskah sekaligus momentum pertambahan usia gereja. Ia juga menyampaikan ucapan selamat merayakan Paskah kepada seluruh umat Kristiani, khususnya Jemaat GMIT Moria Liliba, serta selamat ulang tahun ke-28 bagi gereja tersebut.

“Kiranya Tuhan yang bangkit senantiasa memberkati dan menuntun perjalanan pelayanan gereja ini ke depan,” ujarnya.

Dia menegaskan bahwa Paskah merupakan inti iman Kristiani yang menghadirkan harapan baru melalui kebangkitan Yesus Kristus. Momentum ini, menurutnya, harus menjadi dorongan bagi umat untuk memperbarui kehidupan dengan meninggalkan sikap egois, kebencian, dan perpecahan, serta menggantinya dengan kasih, pengampunan, dan kepedulian terhadap sesama.

Serena juga menekankan bahwa iman yang hidup tidak hanya diwujudkan dalam kata-kata, tetapi harus tercermin dalam tindakan nyata di tengah kehidupan bermasyarakat.

Terkait perayaan HUT ke-28 GMIT Moria Liliba, ia menyebutnya sebagai momentum refleksi atas perjalanan panjang pelayanan gereja yang penuh dedikasi dan pengorbanan. Ia mengapresiasi peran gereja yang dinilai semakin luas dalam memberikan dampak positif bagi masyarakat.

“Keberadaan gereja tidak terlepas dari lingkungan sosial di sekitarnya. Karena itu, gereja memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk terus menjadi terang dan garam, menjadi pembawa damai, serta menjaga nilai-nilai persaudaraan,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Serena menyinggung pelaksanaan Pawai Paskah yang akan digelar keesokan harinya sebagai wujud kebersamaan dan toleransi masyarakat Kota Kupang. Ia menilai kegiatan tersebut tidak hanya melibatkan umat Kristiani, tetapi juga mendapat partisipasi dari berbagai elemen lintas agama.

Ia juga mencontohkan suasana kebersamaan yang terjalin saat bulan Ramadan, di mana masyarakat lintas agama turut meramaikan tradisi berburu takjil. Hal ini, menurutnya, menjadi bukti nyata bahwa Kota Kupang adalah kota yang menjunjung tinggi nilai toleransi dan kerukunan.

“Kota Kupang adalah Kota Kasih, rumah bersama yang penuh toleransi. Ini terbukti dengan capaian kita yang dalam satu dekade terakhir terus meraih penghargaan sebagai kota toleran di Indonesia,” jelasnya.

Pada kesempatan tersebut, Serena turut mengingatkan pentingnya perhatian terhadap kondisi sosial, khususnya terkait isu perlindungan anak dan kesehatan mental generasi muda. Ia mengajak gereja untuk berperan aktif dalam membina dan menjaga nilai-nilai moral di tengah masyarakat.

Mengakhiri sambutannya, ia mengajak seluruh jemaat dan masyarakat Kota Kupang untuk terus menjaga keberagaman sebagai anugerah yang memperkaya kehidupan bersama, serta memperkuat semangat persaudaraan dalam bingkai Kota Kasih.

Sementara itu, suara gembala jemaat, Pdt. Desiana Rondo Effendy, S.Th., M.Th., menegaskan bahwa momentum Paskah dan ulang tahun ke-28 jemaat merupakan titik iman yang penting, yakni perjumpaan antara salib dan kebangkitan, antara pergumulan dan pengharapan.

Ia mengingatkan bahwa kebangkitan Kristus bukan sekadar peristiwa, tetapi menjadi dasar iman yang mengubah cara pandang umat dalam menjalani kehidupan.

BACA JUGA:  Pemuda Muhammadiyah NTT Ingatkan Warga Waspada Hoaks Jelang Ramadhan 1447 H

Menurutnya, perjalanan 28 tahun jemaat GMIT Moria Liliba bukanlah proses yang mudah, melainkan penuh dinamika pergumulan dan tantangan pelayanan. Namun demikian, Paskah mengajarkan bahwa tidak ada pergumulan yang sia-sia, tidak ada pelayanan yang dilupakan Tuhan, dan tidak ada air mata yang luput dari perhatian-Nya.

Lebih lanjut, ia mengajak jemaat menjadikan usia ke-28 sebagai momentum untuk bertumbuh menjadi gereja yang berdampak, dari sekadar bertahan menjadi mengutus, serta dari melayani menjadi membangun generasi.

Dia juga menyampaikan bahwa gereja akan terus beradaptasi dengan perkembangan zaman, termasuk melalui peluncuran website jemaat sebagai bagian dari pemanfaatan teknologi guna memperluas pelayanan dan dampak gereja bagi masyarakat luas. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.