Suarantt.id, Kupang-Di tengah meningkatnya angka kasus HIV-AIDS di Kota Kupang, Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang menunjukkan langkah nyata untuk melindungi generasi mudanya. Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, memimpin langsung pertemuan bersama jajaran Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kota Kupang di ruang kerjanya, Rabu (15/10/2025), guna membahas strategi kolaboratif dalam menekan laju penularan HIV-AIDS di ibu kota Provinsi Nusa Tenggara Timur itu.
Suasana pertemuan tampak serius namun penuh semangat. Para peserta yang hadir mulai dari jajaran KPAD, dinas kesehatan, hingga tokoh pemerintah menyadari betul bahwa masalah HIV-AIDS bukan sekadar isu kesehatan, melainkan ancaman nyata bagi masa depan anak muda Kupang.
Sekretaris KPAD Kota Kupang, Julius Tanggu Bore, dalam laporannya mengungkapkan data yang cukup mengkhawatirkan. Hingga September 2025, tercatat 2.539 kasus HIV-AIDS di wilayah Kota Kupang. Dari jumlah tersebut, banyak ditemukan kasus baru yang melibatkan kalangan remaja dan pelajar.
“Kami bahkan menemukan praktik prostitusi yang melibatkan anak-anak usia sekolah menengah pertama. Ini memprihatinkan dan perlu penanganan lintas sektor,” ujarnya dengan nada serius.
Menurut Julius, KPAD telah berupaya melakukan berbagai program pencegahan, mulai dari layanan mobile VCT (Voluntary Counseling and Testing), pemberian obat pencegahan PrEP, hingga sosialisasi di komunitas populasi kunci. Namun, ia menegaskan bahwa edukasi di sekolah menjadi kunci utama menekan angka penularan. Karena itu, KPAD meminta dukungan Pemkot untuk menerbitkan edaran resmi agar setiap sekolah di Kota Kupang menyelenggarakan sosialisasi HIV-AIDS minimal satu kali dalam setahun.
Permintaan itu langsung direspons cepat oleh Wali Kota Christian Widodo. Ia menginstruksikan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Dinas Kesehatan untuk menyiapkan edaran resmi yang mewajibkan setiap sekolah melaksanakan sosialisasi tentang kesehatan reproduksi dan pencegahan HIV-AIDS minimal tiga kali dalam setahun.
“Anak-anak kita harus dibekali pengetahuan yang benar sejak dini. Ini bukan sekadar kampanye kesehatan, tapi investasi masa depan,” tegas Wali Kota.
Tak hanya sekolah, Christian juga mendorong agar seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) menggelar edukasi serupa bagi ASN dan keluarganya. “Banyak ASN yang menjadi orang tua. Mereka perlu tahu bagaimana mendampingi anak-anak mereka, memahami risiko, dan memberi arahan dengan pendekatan yang baik,” katanya.
Dalam arahannya, Wali Kota juga menekankan pentingnya mengaktifkan kembali Warga Peduli AIDS (WPA) di 51 kelurahan se-Kota Kupang. WPA, menurutnya, akan menjadi ujung tombak dalam edukasi dan deteksi dini di tingkat masyarakat.
“Mereka akan menjadi duta perubahan di lapangan, membantu pemerintah mengurangi stigma terhadap ODHA dan memperluas akses informasi,” jelas Christian.
Upaya ini pun tak hanya berfokus pada instansi pemerintah. Gereja-gereja dan kelompok kategorial ikut dilibatkan sebagai bagian dari gerakan moral melawan HIV-AIDS. KPAD telah menjalin kerja sama dengan berbagai denominasi gereja untuk memperluas edukasi kepada jemaat, terutama remaja dan pemuda gereja.
“Kita ingin melibatkan semua pihak. Gereja, sekolah, hingga organisasi masyarakat, semua punya peran dalam membangun kesadaran bersama,” kata Julius menambahkan.
Wali Kota Christian mengapresiasi langkah tersebut dan mendorong agar setiap kegiatan pemerintah, seperti pembinaan rohani atau ibadah oikumene ASN, disisipkan materi edukatif tentang HIV-AIDS. Ia juga menegaskan pentingnya kerja sama lintas sektor dengan kepolisian dan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) untuk menindaklanjuti kasus prostitusi anak secara humanis dan edukatif.
“Ini adalah perjuangan moral dan sosial kita bersama. Kita ingin Kota Kupang menjadi kota yang benar-benar peduli, kota yang melindungi anak-anaknya dari risiko penyakit dan kerusakan moral,” tandasnya.
Menutup pertemuan, Wali Kota kembali mengingatkan bahwa seluruh upaya ini merupakan bagian dari visi besar ‘Kota Kupang sebagai Kota Kasih yang Maju, Mandiri, Sejahtera, dan Berkelanjutan’.
“Menyehatkan masyarakat berarti menjaga masa depan. Kolaborasi antara pemerintah, sekolah, dan gereja adalah langkah nyata menuju Kota Kupang yang lebih kuat, lebih peduli, dan lebih berkarakter,” ujarnya penuh keyakinan. ***






