Suarantt.id, Kupang-Perayaan Misa Syukur yang memperingati tiga momentum penting, yakni satu tahun wafatnya Mgr. Petrus Turang, ulang tahun ke-57 Uskup Agung Kupang Mgr. Hironimus Pakaenoni, serta 59 tahun Keuskupan Agung Kupang, menjadi ajang memperkuat sinergi antara Gereja dan Pemerintah Kota Kupang.
Kegiatan tersebut berlangsung khidmat di Gereja Katedral Kristus Raja Kupang pada Senin (13/4/26).
Misa syukur ditandai dengan pemukulan gong oleh Uskup Agung Kupang serta pembacaan Surat Keputusan panitia perayaan HUT ke-60 Keuskupan Agung Kupang yang akan digelar tahun depan.
Usai misa, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan ziarah ke makam almarhum Mgr. Petrus Turang di depan Gereja Katedral, kemudian diakhiri dengan ramah tamah bersama umat dalam suasana syukuran ulang tahun Uskup.
Turut hadir dalam perayaan tersebut Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTT, Fransiskus Kariyanto, perwakilan keluarga almarhum Mgr. Petrus Turang, para imam, biarawan dan biarawati, serta umat Keuskupan Agung Kupang.
Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, hadir didampingi Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kota Kupang, Ignasius R. Lega.
Dalam sambutannya, Wali Kota Kupang menegaskan bahwa hubungan harmonis antara Gereja dan pemerintah selama ini menjadi fondasi penting dalam pembangunan daerah, baik dari sisi spiritual maupun sosial kemasyarakatan.
“Saya hadir bukan hanya sebagai wali kota, tetapi juga sebagai umat yang ikut dalam perjalanan panjang iman Keuskupan Agung Kupang. Saya merasakan bagaimana Gereja menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, kontribusi Gereja Katolik sangat besar dalam membentuk nilai-nilai kehidupan, memperkuat persaudaraan, serta mendukung pembangunan Kota Kupang. Ia menegaskan bahwa kemajuan kota tidak terlepas dari peran Gereja dalam membina umat dan membangun peradaban.
“Pemerintah Kota Kupang merasakan betul dukungan dari Keuskupan Agung Kupang. Kota ini berkembang juga karena peran besar Gereja,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa keteladanan para pemimpin Gereja menjadi inspirasi bagi jajaran pemerintah, terutama dalam membangun kepemimpinan yang berorientasi pada pelayanan.
“Kami belajar bahwa kepemimpinan sejati adalah melayani, bukan dilayani. Nilai ini kami pegang dalam menjalankan pemerintahan,” ungkapnya.
Wali Kota juga memberikan penghormatan kepada almarhum Mgr. Petrus Turang sebagai sosok gembala yang meninggalkan warisan iman dan keteladanan yang terus hidup di tengah umat.
“Seorang gembala sejati tidak hanya hadir dalam masanya, tetapi tetap hidup dalam hati umat melalui nilai-nilai yang ditanamkan,” katanya.
Sementara itu, Uskup Agung Kupang, Mgr. Hironimus Pakaenoni, menekankan pentingnya kebersamaan dan kolaborasi lintas elemen, termasuk dengan pemerintah, dalam menghadirkan Gereja yang relevan di tengah masyarakat.
“Kita bersyukur atas kebersamaan ini. Gereja tidak berjalan sendiri, tetapi bersama semua pihak untuk menghadirkan kebaikan bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa Gereja memiliki panggilan untuk terlibat aktif dalam kehidupan sosial, menjawab berbagai tantangan, serta membangun solidaritas dan kepedulian.
“Gereja dipanggil untuk mendengarkan, melayani, dan hadir dalam kehidupan masyarakat. Kita harus terus membangun harmoni, toleransi, dan solidaritas melalui karya nyata,” tegasnya.
Momentum menuju 60 tahun Keuskupan Agung Kupang, lanjutnya, menjadi kesempatan untuk memperbarui komitmen iman sekaligus memperkuat persaudaraan dan kolaborasi antara Gereja, pemerintah, dan seluruh elemen masyarakat. ***





