Pemkot Kupang Perkuat Kolaborasi Pendanaan Iklim, Dorong Ketahanan Lingkungan Berkelanjutan

oleh -74 Dilihat
Asisten II Sekda Kota Kupang, Ignasius Lega Buka Acara Forum Jejaring Pendanaan Iklim di Hotel Aston Kupang pada Selasa, 23 Juni 2026. (Foto Prokompim Kota Kupang)

Suarantt.id, Kupang-Pemerintah Kota Kupang terus memperkuat komitmen dalam menghadapi dampak perubahan iklim melalui kolaborasi lintas sektor, salah satunya dengan mendorong penguatan jejaring pendanaan iklim yang berkelanjutan.

Hal ini disampaikan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekretaris Daerah Kota Kupang, Ignasius R. Lega saat menghadiri dan membacakan sambutan Wali Kota Kupang dalam Forum Jejaring Pendanaan Iklim yang berlangsung di Hotel Aston Kupang pada Selasa (23/6/26).

Forum tersebut menjadi wadah strategis yang mempertemukan pemerintah daerah, mitra pembangunan, lembaga pendanaan, akademisi, organisasi masyarakat sipil, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya guna membangun kolaborasi dalam mendukung aksi adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.

Dalam sambutan Wali Kota yang dibacakannya, Ignasius menegaskan bahwa Pemerintah Kota Kupang berkomitmen untuk memperkuat ketahanan iklim melalui pembangunan yang berkelanjutan. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Catholic Relief Services (CRS), Kelompok Kerja Perubahan Iklim Kota Kupang, Kelompok Kerja Perubahan Iklim Provinsi Nusa Tenggara Timur, serta seluruh mitra yang telah menggagas dan memfasilitasi terselenggaranya forum tersebut.

“Forum ini menjadi momentum penting untuk memperkuat jejaring kemitraan sekaligus membuka peluang kolaborasi yang lebih luas dalam mendukung program ketahanan iklim di daerah,” ujarnya.

Menurut Ignasius, perubahan iklim bukan lagi isu masa depan, melainkan realitas yang sedang dihadapi Kota Kupang saat ini. Dengan karakteristik wilayah semi-arid, Kota Kupang menghadapi berbagai tantangan seperti musim kemarau yang panjang, keterbatasan ketersediaan air, suhu tinggi, serta tekanan terhadap ekosistem dan lingkungan hidup.

Ia menjelaskan, dampak perubahan iklim juga telah memunculkan berbagai risiko yang dirasakan langsung oleh masyarakat, mulai dari meningkatnya ancaman kekeringan, cuaca ekstrem, penurunan kualitas lingkungan, hingga gangguan terhadap kesehatan dan perekonomian masyarakat.

“Karena itu, kesiapan menghadapi perubahan iklim harus menjadi agenda bersama seluruh pemangku kepentingan,” tegasnya.

Meski menghadapi berbagai tantangan, Pemerintah Kota Kupang terus mengambil langkah-langkah nyata melalui berbagai program adaptasi dan mitigasi. Di antaranya gerakan tanam air dan panen air untuk memperkuat ketahanan sumber daya air, rehabilitasi daerah aliran sungai dan reboisasi, peningkatan kesadaran masyarakat terhadap pelestarian lingkungan, serta pengembangan pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular.

Selain itu, pemerintah juga memastikan bahwa pembangunan kota berjalan selaras dengan prinsip ketahanan iklim, sejalan dengan visi Kota Kupang sebagai Kota Kasih yang maju, mandiri, sejahtera, dan berkelanjutan.

Ignasius menegaskan bahwa kehadiran Pemerintah Kota Kupang dalam forum tersebut tidak semata untuk mencari dukungan pendanaan, tetapi juga membawa komitmen, rencana aksi, dan kesiapan untuk bekerja bersama berbagai pihak.

“Pendanaan iklim bukan sekadar soal uang, tetapi merupakan investasi untuk menjaga sumber daya air, melindungi masyarakat rentan, dan memastikan generasi mendatang tetap dapat menikmati lingkungan yang layak huni,” katanya.

Dalam forum tersebut, Pemerintah Kota Kupang juga memaparkan berbagai risiko iklim yang dihadapi serta rencana aksi adaptasi yang sedang dan akan dilaksanakan. Paparan ini diharapkan dapat memberikan gambaran komprehensif kepada para mitra mengenai kebutuhan dan peluang kerja sama ke depan.

Sementara itu, Country Manager Catholic Relief Services (CRS) Indonesia dan Timor Leste, Yane A. Tamonob, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Kupang dan seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya forum tersebut.

Menurutnya, forum ini tidak hanya membahas pendanaan, tetapi juga membangun ekosistem pendanaan iklim yang inklusif dan berkelanjutan. Ia menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, masyarakat sipil, sektor swasta, dan lembaga donor dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.

BACA JUGA:  Kuasa Hukum Ungkap Dugaan Tumpang Tindih Utang dan Praktik Rentenir BPR Christa Jaya

“Ketahanan iklim hanya dapat terwujud apabila semua pihak bekerja bersama dan menempatkan aktor lokal sebagai bagian utama dari solusi,” ujarnya.

Ia berharap forum ini dapat menghasilkan tindak lanjut konkret, mulai dari terbentuknya jejaring pendanaan iklim yang lebih kuat, meningkatnya akses terhadap sumber pendanaan, hingga lahirnya program-program yang mampu memperkuat ketahanan masyarakat di Nusa Tenggara Timur.

Pemerintah Kota Kupang pun optimistis bahwa melalui kolaborasi yang semakin erat, berbagai tantangan perubahan iklim dapat dihadapi secara lebih efektif, sekaligus mewujudkan masa depan kota yang tangguh, berkelanjutan, dan sejahtera bagi seluruh masyarakat. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.