Save the Children Turun ke Tiga Kabupaten Terdampak Gempa Flores, Fokus Bantu Anak dan Air Bersih

oleh -33 Dilihat
Gubernur NTT Beraudiensi dengan Pimpinan Save the Children. (Foto Biro Adpim Setda NTT)

Suarantt.id, Kupang-Save the Children Indonesia memperkuat respons kemanusiaan bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Lembaga tersebut akan turun langsung ke tiga kabupaten, yakni Nagekeo, Ngada, dan Manggarai Timur, dengan fokus utama pada pemenuhan kebutuhan dasar serta perlindungan anak.

Komitmen tersebut disampaikan CEO Save the Children Indonesia, Desy Kurwiany, saat melakukan audiensi dengan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena di Ruang Kerja Gubernur, Senin (31/8/2026).

Dalam audiensi tersebut, Desy didampingi Duta Pahlawan Anak Save the Children Indonesia, Krisdayanti dan Yuni Shara, serta Direktur CIS Timor, Haris Oematan.

Desy mengatakan, kunjungan ke tiga kabupaten tersebut merupakan bagian dari komitmen Save the Children Indonesia bersama mitra lokal CIS Timor untuk membantu masyarakat yang terdampak gempa Flores.

“Besok kami turun ke tiga kabupaten: Nagekeo, Ngada, dan Manggarai Timur. Kami fokus pada penyediaan air bersih dan air minum, pemenuhan kebutuhan pangan, serta penyiapan tenda ruang belajar sementara,” ujar Desy.

Menurutnya, anak-anak menjadi salah satu kelompok yang paling rentan dalam situasi bencana. Karena itu, respons kemanusiaan tidak hanya diarahkan pada pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga memastikan anak-anak tetap mendapatkan hak atas pendidikan, perlindungan, dan dukungan psikososial.

Save the Children bersama mitra akan berupaya menyediakan ruang aman bagi anak-anak untuk belajar dan bermain sekaligus membantu mereka memulihkan diri dari trauma akibat gempa.

Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena menyambut baik kolaborasi Save the Children Indonesia dan CIS Timor dalam penanganan dampak gempa Flores.

Menurut Melki, air bersih menjadi salah satu kebutuhan paling mendesak di sejumlah lokasi pengungsian. Kondisi sejumlah sumber air yang mulai keruh membuat kebutuhan terhadap air bersih dan air minum semakin tinggi.

BACA JUGA:  NTT Incorporated: KIB Didorong Menjadi Simpul Pertumbuhan Ekonomi Daerah

“Air bersih menjadi kebutuhan mendesak di posko-posko pengungsian karena banyak sumber air yang mulai keruh,” kata Melki.

Selain kebutuhan dasar, Melki menegaskan bahwa perlindungan dan keberlanjutan pendidikan anak menjadi perhatian Pemerintah Provinsi NTT selama masa tanggap darurat hingga proses pemulihan pascabencana.

“Anak-anak menjadi kelompok rentan terdampak gempa Flores ini. Kami terus berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten agar kegiatan belajar mengajar dapat segera berjalan kembali meskipun dengan keterbatasan,” tegasnya.

Melki menekankan bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup hanya dengan membangun kembali rumah dan fasilitas umum yang rusak. Pemulihan juga harus menyentuh kehidupan sosial masyarakat serta memastikan hak-hak dasar anak tetap terpenuhi.

Sebelumnya, Save the Children Indonesia bersama CIS Timor dan Humanitarian Forum Indonesia (HFI) telah melakukan Rapid Needs Assessment (RNA) di Kabupaten Ende, Nagekeo, Ngada, Manggarai Timur, dan Manggarai.

Sejumlah bantuan juga telah disalurkan. Di Manggarai Timur, bantuan berupa 80 paket sembako disalurkan di Desa Golo Lalong dan Desa Biting, ditambah 50 selimut dewasa, 40 selimut anak, dan 40 matras.

Sementara di Desa Wolomeze, Kabupaten Ngada, disalurkan 194 paket logistik pangan yang terdiri dari sarden, biskuit, air mineral, dan beras, serta 40 selimut anak dan 40 matras.

Sebanyak 1.000 unit shelter kit dan jeriken juga telah tiba di Borong. Di sisi lain, layanan dukungan kesehatan mental dan psikososial atau Mental Health and Psychosocial Support Services (MHPSS) telah menjangkau 104 anak usia 7–10 tahun di Ruteng dan Desa Golo Lalong. Layanan tersebut kemudian diperluas ke Kabupaten Nagekeo oleh CIS Timor sejak 20 Agustus 2026.

Respons kemanusiaan tersebut dilakukan menyusul besarnya dampak gempa bumi di Flores. Berdasarkan data BNPB per 27 Agustus 2026, bencana tersebut telah menyebabkan 111 orang meninggal dunia, 1.672 orang luka-luka, dan 176.621 jiwa mengungsi.

BACA JUGA:  Dukung Inklusi, Pemkot Kupang Akan Angkat Staf Khusus dari Kalangan Disabilitas

Gempa juga mengakibatkan kerusakan pada 84.562 unit rumah, 1.918 fasilitas pendidikan, serta 118 fasilitas kesehatan.

Menghadapi kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi NTT terus memperkuat koordinasi bersama pemerintah pusat, BNPB, BPBD, lembaga kemanusiaan, organisasi masyarakat, dan dunia usaha.

Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak dapat terpenuhi, sekaligus memastikan anak-anak tetap memperoleh perlindungan, pendidikan, dan ruang yang aman selama masa tanggap darurat dan proses pemulihan pascabencana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.