Tekan Inflasi, BI NTT dan Pemkot Kupang Hadirkan Operasi Pasar Berbasis Harga HAP dan HET

oleh -74 Dilihat
Bank Indonesia NTT bersama Pemerintah Kota Kupang Gelar Operasi Pasar Harga Acuan Penjualan dan Harga Eceran Tertinggi. (Foto Istimewa)

Suarantt.id, Kupang-Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Kupang menggelar Operasi Pasar pada Senin (27/7/26) di halaman Kantor Perumda Pasar Kota Kupang, Kecamatan Oebobo. Kegiatan ini merupakan langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga dan memperluas akses masyarakat terhadap bahan pangan terjangkau di tengah potensi gangguan produksi dan distribusi.

Operasi Pasar tersebut menghadirkan berbagai komoditas pangan strategis dengan harga yang mengacu pada Harga Acuan Penjualan (HAP) dan tidak melebihi Harga Eceran Tertinggi (HET). Sejumlah kebutuhan pokok yang disediakan meliputi sekitar 2 ton beras, 120 liter minyak goreng, 50 kilogram bawang merah, 50 kilogram bawang putih, 50 kilogram cabai, 100 kilogram telur, serta 40 kilogram ikan segar.

Kegiatan ini terselenggara melalui sinergi antara Pemerintah Kota Kupang, Bank Indonesia Provinsi NTT, Perum Bulog Kanwil NTT, Perumda Pasar Kota Kupang, perangkat daerah yang tergabung dalam TPID Kota Kupang, serta enam distributor pangan.

Selain menyediakan bahan pangan dengan harga terjangkau, Operasi Pasar juga dirangkaikan dengan edukasi transaksi digital melalui QRIS Experience. Lebih dari 200 masyarakat mengikuti kegiatan ini dengan antusias, sebagai upaya meningkatkan pemahaman sekaligus mendorong penggunaan transaksi nontunai di lingkungan pasar tradisional.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Kupang, Muhammad Khairil, dalam laporannya menyampaikan bahwa Operasi Pasar merupakan langkah konkret untuk mendekatkan akses masyarakat terhadap bahan pangan pokok sekaligus menjaga kecukupan pasokan. Ia berharap kegiatan ini dapat membantu masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau.

Sementara itu, Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi NTT, Rio Khasananda, menegaskan bahwa Operasi Pasar menjadi salah satu instrumen penting dalam menjaga keterjangkauan harga dan ketersediaan pasokan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, inflasi Provinsi NTT pada Juni 2026 tercatat sebesar 3,56 persen secara tahunan (year on year), sedangkan Kota Kupang mencapai 4,02 persen dan menjadi yang tertinggi di antara wilayah penghitungan inflasi di NTT.

BACA JUGA:  Dari Setetes Air Menjadi Lautan, Wali Kota Gaungkan Persatuan di HUT ke-140 Kota Kupang dan 30 Tahun Otonomi

“Stabilisasi harga di Kota Kupang sangat strategis, tidak hanya untuk melindungi daya beli masyarakat, tetapi juga mendukung pengendalian inflasi NTT secara keseluruhan,” ujarnya.

Operasi Pasar tersebut secara resmi dibuka oleh Asisten II Sekretariat Daerah Kota Kupang Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Ignasius Repelita Lega, yang mewakili Pemerintah Kota Kupang. Dalam sambutannya, ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk terus memperkuat koordinasi lintas sektor dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan.

Kegiatan ini juga merupakan bagian dari Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS) Balinusra 2026 yang mengusung tema “Peningkatan Produktivitas dan Distribusi untuk Stabilitas Pangan di Tengah Tantangan Iklim dan Dinamika Pariwisata”. Program tersebut menjadi wujud sinergi pusat dan daerah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus menjaga inflasi tetap dalam kisaran target 2,5±1 persen.

Melalui GPIPS Balinusra 2026, berbagai upaya pengendalian inflasi dilakukan dari hulu hingga hilir, termasuk kerja sama antar daerah, dukungan sarana dan prasarana pertanian, serta penguatan distribusi pangan. Di NTT, salah satu implementasinya adalah kerja sama pengiriman sapi ke Provinsi Kepulauan Riau untuk mendukung pasokan daging, serta peluncuran program SIGAP Cabai guna mendorong urban farming di kalangan pelajar SMA dan SMK di Kota Kupang.

Dengan berbagai langkah strategis tersebut, diharapkan stabilitas harga pangan dapat terjaga, daya beli masyarakat meningkat, serta pertumbuhan ekonomi daerah terus terdorong secara berkelanjutan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.