UPTD Museum NTT Gelar Seminar Hasil Kajian Kain Tenun Alor: Membaca Pancasila Lewat Tenun dan Kearifan Lokal

oleh -957 Dilihat
UPTD Museum NTT Gelar Seminar Hasil Kajian Kain Tenun Alor Tahun 2025. (Foto Istimewa)

Suarantt.id, Kupang-Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Museum, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), menggelar Seminar Hasil Kajian Kain Tenun Alor dengan tema “Membaca Pancasila Lewat Tenun: Kajian Nilai-nilai Kearifan Lokal Masyarakat Alor”, di Aula UPTD Museum NTT, Kota Kupang pada Kamis, 30 Oktober 2025.

Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Fadil Mas’ud dengan materi “Membaca Pancasila Lewat Tenun” dan Yulianti A. Peni yang membawakan materi “Peran Tenunan Alor dalam Pelestarian Kebudayaan Lokal Daerah.” Sekitar 200 peserta dari berbagai kalangan hadir, termasuk perwakilan instansi pemerintah, akademisi, pegiat budaya, serta mahasiswa dari sejumlah perguruan tinggi di Kota Kupang.

Dalam sambutannya, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi NTT, Ambrosius Kodo yang diwakili oleh Kepala Bidang Kebudayaan, Eldisius Angi, menegaskan pentingnya pelestarian budaya lokal sebagai bagian dari identitas masyarakat NTT.

“Kebudayaan adalah jati diri masyarakat Nusa Tenggara Timur. Kita memiliki keragaman etnis, bahasa, adat istiadat, dan produk budaya yang luar biasa, namun semua itu bersatu dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika,” ujar Eldisius.

Ia menjelaskan, kehadiran museum memiliki peran dan misi penting dalam melestarikan budaya NTT melalui pengumpulan, pengkajian, perawatan, serta penyampaian informasi budaya kepada masyarakat luas.

“Museum menjadi sekolah kedua yang terbuka bagi semua kalangan. Pengunjung dapat belajar tentang sejarah, kebudayaan, dan nilai-nilai luhur masyarakat NTT melalui pengalaman yang rekreatif dan edukatif,” tambahnya.

Eldisius juga mengungkapkan bahwa pada tahun ini, UPTD Museum NTT telah melakukan kajian terhadap dua jenis kain tenun ikat, yakni dari Kabupaten Alor dan Kabupaten Nagekeo. Kajian ini merupakan bagian dari upaya memperkuat pengakuan nasional terhadap kekayaan budaya daerah.

“Kami sudah mengusulkan 25 karya budaya dari NTT ke pemerintah pusat untuk ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia. Kami berharap tenun-tenun khas daerah ini bisa diakui secara nasional bahkan internasional,” jelasnya.

Lebih lanjut, Eldisius menyoroti tantangan pelestarian budaya di tengah perubahan zaman dan gaya hidup generasi muda. Ia mengajak seluruh peserta dan masyarakat NTT untuk terus mencintai serta mempelajari warisan leluhur melalui kegiatan kebudayaan seperti seminar tersebut.

Setelah membacakan sambutan, Eldisius secara resmi membuka Seminar Hasil Kajian Koleksi Kain Tenun Alor, yang ditandai dengan tepuk tangan meriah dari para peserta.

Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menegaskan bahwa kain tenun bukan sekadar produk estetika, melainkan sarat dengan nilai-nilai Pancasila, gotong royong, dan kearifan lokal masyarakat Alor yang patut dijaga lintas generasi. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.