Visualisasi Fakta dan Fenomena, Moses Ompusunggu Bagikan Pengalaman Etnografi Visual

oleh -1263 Dilihat
Jurnalis dan Pembuat Film Dokumenter, Moses Parlindungan Ompusunggu Paparkan Materi di Acara Media Gathering BI Perwakilan NTT di Surabaya. (Foto Hiro)

Suarantt.id, Surabaya-Jurnalis dan pembuat film dokumenter, Moses Parlindungan Ompusunggu, membagikan pengalaman dan kiat praktisnya dalam memvisualisasikan fakta dan fenomena lapangan kepada peserta pelatihan “Visualisasi Fakta dan Fenomena dalam Reportase” yang dikemas dalam media gathering BI Perwakilan NTT di Hotel Four Points Surabaya pada Kamis, 25 September 2025.

Moses, yang kini memimpin agensi etnografi visual Atmakanta di Jakarta, memaparkan pentingnya representasi fakta dan fenomena melalui media visual seperti foto dan video. Ia menjelaskan bahwa visualisasi mampu mempermudah penyerapan informasi, menghubungkan konsep abstrak dengan situasi nyata di lapangan, hingga mengaktifkan perbincangan publik.

“Visualisasi adalah komplementer tulisan sekaligus mewadahi kreativitas. Dengan media visual, fakta dan fenomena bisa tampil lebih hidup,” ujarnya.

Dalam paparannya, Moses menguraikan tiga tahapan penting alur kerja media visual: praproduksi, produksi, dan pascaproduksi. Praproduksi meliputi riset pustaka dan lapangan, diskusi dengan rekan kerja atau klien, hingga mengamankan izin lokasi dan persetujuan subjek. Tahap produksi mencakup sosialisasi di lapangan, menjaga fokus tujuan, serta memahami batas-batas sosial maupun alam. Sedangkan pascaproduksi meliputi pengumpulan hasil liputan, penyuntingan, dan strategi penyajian konten.

Ia juga menekankan aspek etika dan teknis dalam pembuatan laporan visual. “Persetujuan subjek, izin lokasi, dan aspek teknis seperti pencahayaan, fokus, dan baterai sangat krusial,” jelasnya.

Moses berbagi pengalamannya saat membuat film dokumenter tentang sopi di Kecamatan Insana, Kabupaten TTU, pada 2023. Selama 14 hari ia melakukan pengambilan gambar, termasuk empat hari pertama yang digunakan untuk sosialisasi kepada masyarakat setempat sebelum melakukan reportase. “Sosialisasi ini penting untuk membangun kepercayaan dan pemahaman,” katanya.

Menurut Moses, menemukan angle berita juga menjadi tantangan tersendiri. “Kadang yang tampak tidak menarik justru bisa menjadi lebih menarik jika kita tahu cara melihatnya,” ujarnya menutup sesi.

Pelatihan ini diakhiri dengan diskusi interaktif selama 30 menit. Peserta mendapat pemahaman baru tentang bagaimana mengubah fakta dan fenomena lapangan menjadi karya visual yang menarik, etis, dan berdampak. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.