Warisan dari Pinggir Lapangan: Keteguhan Marsel Petu yang Mengubah Masa Depan Sepak Bola Ende

oleh -767 Dilihat
Almarhum Marsel Petu dan Agustinus R. Sigasare. (Foto Istimewa)

Suarantt.id, Ende-Di balik megahnya Stadion Marilonga yang hari ini menjadi kebanggaan masyarakat Ende, tersimpan sebuah kisah sederhana namun penuh tekad dari almarhum Marsel Petu, Bupati Ende periode 2014–2019 dan 2019–2024. Sebuah cerita yang lahir bukan dari meja perencanaan, melainkan dari pinggir lapangan sepak bola yang berdebu dan panas.

Kepala Biro Umum Setda NTT, Agustinus R. Sigasare atau akrab disapa Gusti Sigasare, mengingat kembali momen ketika almarhum menyampaikan kegelisahan sekaligus visinya terhadap masa depan sepak bola di NTT.

Saya tidak mau lagi melihat anak-anak NTT main bola siang panas, lapangan tidak ada rumput. Anak-anak rawan cedera dan permainan tidak berkembang,” demikian tutur Marsel Petu suatu ketika kepada para stafnya. Ia melanjutkan dengan tekad yang tak pernah berubah, “Saya akan bangun Stadion Marilonga dengan fasilitas yang memadai, rumput khusus lapangan bola, lampu untuk main di malam hari.

Kalimat itu bukan sekadar janji. Bagi Marsel Petu, itu adalah panggilan hati.

Kegelisahan yang Menjadi Visi

Saat banyak pemimpin berbicara tentang infrastruktur dari perspektif pembangunan semata, Marsel Petu melihatnya dari sudut pandang anak-anak dan generasi muda. Ia sering menyaksikan langsung bagaimana anak-anak bermain sepak bola pada siang hari di tengah terik matahari, di lapangan yang lebih cocok disebut tanah kosong ketimbang fasilitas olahraga.

Pemandangan itu menggugahnya. Ia tahu, bakat sepak bola di Ende dan NTT bukanlah barang langka. Namun tanpa fasilitas yang memadai, bakat itu akan berhenti sebelum berkembang.

“Beliau sering bilang, pemain hebat lahir dari lapangan yang baik,” ujar Gusti Sigasare.

Stadion yang Dibangun dari Mimpi

BACA JUGA:  Smater Ndao Cup IV Jadi Ajang Pembinaan Karakter dan Atlet Muda NTT

Stadion Marilonga tidak hanya dibangun untuk menjadi tempat pertandingan. Marsel Petu ingin stadion itu menjadi ruang pertumbuhan, tempat anak-anak memupuk mimpi, dan sarana masyarakat menikmati olahraga tanpa harus bertanding di bawah sengatan matahari.

Dengan rumput standar pertandingan, lampu yang memungkinkan pertandingan malam hari, serta fasilitas pendukung lainnya, Stadion Marilonga menjelma menjadi representasi visinya: bahwa anak NTT berhak atas kualitas yang sama dengan daerah lain.

Warisan yang Terus Hidup

Kini, ketika almarhum tidak lagi bersama, stadion itu tetap berdiri sebagai warisan yang tidak hanya berbicara tentang infrastruktur, tetapi juga kasih dan perhatian seorang pemimpin terhadap generasi muda.

Gusti Sigasare mengenang, “Marilonga itu bukan hanya proyek. Itu mimpi besar beliau untuk anak-anak Ende.”

Dari pinggir lapangan berdebu hingga stadion megah yang kini terang saat malam, jejak Marsel Petu terpahat dalam setiap jengkal rumput dan cahaya lampunya. Warisan itu akan terus hidup, setiap kali seorang anak menendang bola tanpa takut cedera, dan setiap kali masyarakat berkumpul menyaksikan pertandingan dalam kenyamanan yang ia perjuangkan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.