Suarantt.id, Kupang-Di sebuah gang sederhana di Kelurahan Fontein, Kecamatan Kota Raja, Kota Kupang, lahir sebuah solusi dari keresahan yang selama ini dianggap biasa sampah yang menumpuk dan tak tertangani. Dari lingkungan kecil itu, Yoel Agustinus Muloko (61), Ketua RT 025/RW 009, memilih untuk tidak tinggal diam.
Berangkat dari keprihatinannya melihat kondisi tempat sampah umum yang kerap meluap, bahkan digunakan oleh warga dari luar wilayahnya, Yoel mulai berpikir mencari jalan keluar. Baginya, persoalan sampah tidak bisa terus bergantung pada sistem pengangkutan semata. Harus ada solusi dari sumbernya rumah tangga.
Sejak Maret 2026, Yoel mulai bereksperimen menciptakan tong pembakar sampah sederhana. Awalnya, ia hanya membakar sampah seperti biasa. Namun, proses itu memakan waktu lama dan kurang efektif, terutama untuk sampah yang basah. Tidak berhenti di situ, ia kemudian menambahkan blower untuk mempercepat proses pembakaran.
Hasilnya cukup mengejutkan. Dengan tambahan alat sederhana tersebut, sampah dapat terbakar lebih cepat, bahkan jenis sampah yang lembap sekalipun bisa kering dan habis menjadi abu.
“Awalnya saya coba bakar biasa, ternyata bisa, tapi lama. Setelah pakai blower, prosesnya jauh lebih cepat. Sampah basah pun bisa ikut terbakar,” ungkap Yoel.
Namun, inovasi ini tidak hanya berhenti pada pembakaran. Yoel juga menerapkan prinsip pemilahan sampah. Sisa makanan tidak ikut dibakar, melainkan dimanfaatkan sebagai pakan bebek peliharaannya. Sementara abu hasil pembakaran sampah organik digunakan sebagai pupuk untuk tanaman di sekitar rumah.
Untuk sampah plastik seperti botol air mineral, ia memilih mengumpulkannya sembari menunggu pengelolaan lebih lanjut melalui rencana pembentukan bank sampah di kelurahan.
Langkah sederhana yang dilakukan Yoel ternyata membawa dampak nyata. Lingkungan di sekitar rumahnya menjadi lebih bersih, dan volume sampah yang harus dibuang ke tempat umum pun berkurang drastis.
Pelaksana Tugas (Plt.) Lurah Fontein, Iwan Surya K. I. Taklal, memberikan apresiasi atas inisiatif tersebut. Menurutnya, inovasi kecil seperti ini justru menjadi kunci dalam mengatasi persoalan besar seperti sampah.
“Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Bapak Yoel. Apa yang beliau lakukan ini bukan hanya berdampak di lingkungan RT, tetapi juga membantu mengurangi beban penanganan sampah di Kota Kupang secara umum,” ujarnya kepada media ini pada Jumat, 19 Juni 2026 malam.
Kelurahan Fontein sendiri memiliki 27 RT dan 9 RW. Dengan jumlah wilayah yang cukup besar, inovasi berbasis masyarakat seperti yang dilakukan Yoel dinilai sangat potensial untuk direplikasi di lingkungan lain.
Apa yang dilakukan Yoel Agustinus Muloko membuktikan bahwa perubahan tidak harus dimulai dari hal besar. Dari sebuah gang sempit, lahir gagasan sederhana yang mampu menjawab persoalan nyata. Sebuah bukti bahwa kepedulian, ketika diwujudkan dalam tindakan, bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang. (Penulis/ADV)







