Kupang Kota Toleran, PHDI Ajak Umat Jaga Kamtibmas Jelang Nyepi, Idul Fitri dan Paskah

oleh -366 Dilihat
Ketua PHDI Kota Kupang, dr. Ari Wijana. (Foto Hiro)

Suarantt.id, Kupang-Menjelang Hari Raya Nyepi Caka 1948 yang jatuh pada 19 Maret 2026, Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Kupang mengajak seluruh umat beragama di Kota Kupang untuk bersama-sama menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), mengingat rangkaian hari besar keagamaan berlangsung berdekatan.

Ketua PHDI Kota Kupang, dr. Ari Wijana, mengatakan Tahun Saka 1948 bertepatan dengan Tahun 2026, di mana Hari Raya Nyepi akan dirayakan pada 9 Maret 2026. Namun, rangkaian kegiatan telah dimulai sejak 1 Maret 2026 dengan berbagai aksi sosial dan keagamaan.

“Kota Kupang ini salah satu kota tertoleran di Indonesia. Mari kita sama-sama menjaga keamanan dan ketertiban sesuai agama dan kepercayaan kita masing-masing, karena rentetan hari rayanya berdekatan,” ujar dr. Ari kepada wartawan di sela-sela kegiatan donor darah pada Minggu, 1 Maret 2026.

Ia menjelaskan, pembukaan rangkaian perayaan diawali dengan bakti sosial donor darah yang melibatkan lintas umat beragama. Selain itu, panitia juga berkolaborasi dengan banjar-banjar serta sejumlah pihak, termasuk PT Pegadaian, dalam penyediaan bantuan bahan pangan.

Sore harinya, panitia melanjutkan kegiatan dengan berbagi takjil di Masjid Al Fitrah sebagai bagian dari peringatan HUT ke-67 PHDI sekaligus bentuk silaturahmi dengan umat Muslim yang sedang menjalankan ibadah puasa. Tahun sebelumnya, kegiatan serupa digelar di Masjid Kelapa Lima.

“Kami hadir bukan hanya untuk kepentingan internal umat Hindu, tetapi juga membangun kebersamaan dengan saudara-saudara kita umat lain. Tahun lalu di Kelapa Lima, tahun ini di Masjid Al Fitrah,” jelasnya.

Rangkaian berikutnya adalah upacara Melasti pada 16 Maret 2026 yang akan dilaksanakan di laut belakang pura, sebagai simbol penyucian diri dan alam semesta.

Kemudian pada 18 Maret digelar Tawur Agung di perempatan Patung Kirab, dilanjutkan pawai ogoh-ogoh yang melintasi Taman Nostalgia dan kembali ke titik awal.

Menurut dr. Ari, Tawur Agung merupakan doa khusus untuk membersihkan dan menyeimbangkan alam, khususnya Kota Kupang, agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Sehari setelah Tawur Agung, umat Hindu akan menjalani Catur Brata Penyepian pada Hari Raya Nyepi, yang meliputi tidak menyalakan api, tidak bekerja, tidak bepergian, dan tidak bersenang-senang. Sebagian umat juga menjalankan puasa selama 24 jam, dari pukul 06.00 pagi hingga 06.00 pagi keesokan harinya.

Setelah Nyepi, umat Hindu merayakan Ngembak Geni sebagai momentum bersilaturahmi dan saling memaafkan.

Puncak rangkaian akan ditutup dengan Dharma Santi yang direncanakan digelar di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Kupang, dengan menghadirkan perwakilan lintas agama serta unsur pemerintah daerah.

Ari menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah berkolaborasi, termasuk umat Muslim, Kristen, dan Katolik yang turut berpartisipasi dalam donor darah maupun saling mengunjungi saat kegiatan keagamaan.

“Kami berdoa agar seluruh rangkaian ini berjalan lancar. Setetes darah yang disumbangkan hari ini akan sangat berguna bagi sesama. Inilah makna toleransi yang sesungguhnya,” tutupnya. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.