Suarantt.id, Kalabahi-Menteri Pertanian Republik Indonesia (Mentan RI) Andi Amran Sulaiman membawa komitmen besar untuk mempercepat pembangunan sektor pertanian di Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Didampingi Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma, Mentan Amran turun langsung meninjau sejumlah lokasi pertanian sekaligus menyerahkan bantuan sarana produksi kepada masyarakat.
Kunjungan tersebut menjadi momentum penting bagi Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Kabupaten Alor untuk menyampaikan secara langsung berbagai persoalan yang selama ini dihadapi petani, mulai dari keterbatasan bibit, alat dan mesin pertanian, hingga persoalan ketersediaan air serta infrastruktur irigasi.
Salah satu lokasi yang dikunjungi adalah sentra pembibitan kakao. Di tempat tersebut, Mentan Amran menegaskan bahwa pertanian harus menjadi salah satu instrumen utama untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Alor.
“Solusi tercepat adalah pertanian. Karena itu kita harus mengirimkan benih yang kompetitif,” tegas Amran.
Bibit dan Traktor Digenjot
Kabupaten Alor masih menghadapi tantangan kemiskinan dengan angka sekitar 18 persen. Kondisi tersebut mendorong pemerintah untuk memperkuat sektor pertanian melalui pengembangan komoditas unggulan seperti kakao, kelapa, jambu mete, padi dan jagung.
Sebagai bentuk dukungan, Kementerian Pertanian memberikan tambahan 1.000 bibit kelapa, 1.000 bibit jambu mete dan 500 bibit kakao kepada masyarakat.
Dukungan juga diberikan melalui alat dan mesin pertanian.
Kabupaten Alor sebelumnya telah memperoleh lima unit traktor dan akan mendapatkan tambahan 10 unit traktor roda dua. Pemerintah juga menyerahkan 10 unit pompa air dan merencanakan tambahan 10 unit pompa lagi.
Mentan Amran menargetkan penguatan sektor pertanian tersebut mampu memberikan dampak nyata terhadap penurunan angka kemiskinan di Alor.
“Target kita kemiskinan di bawah 10 persen. Kalau bisa sampai 5 persen,” tegasnya.
Menurut Amran, dengan pengelolaan pertanian yang baik, dukungan sarana produksi dan kebijakan pemerintah yang konsisten, perubahan ekonomi masyarakat dapat mulai dirasakan dalam beberapa tahun ke depan.
Air Jadi Kunci Produktivitas
Namun, di balik potensi besar pertanian Alor, persoalan air masih menjadi salah satu hambatan utama.
Sejumlah bendungan dan jaringan irigasi mengalami kerusakan akibat bencana Seroja. Di sisi lain, musim kemarau membuat ketersediaan sumber air semakin terbatas.
Petani dari Desa Vanating dan Desa Petleng menyampaikan langsung kebutuhan perbaikan bendungan serta jaringan irigasi tersier dan sekunder.
Mentan Amran berjanji akan membawa persoalan tersebut kepada Menteri Pekerjaan Umum agar dapat segera ditangani. Selain perbaikan irigasi, dukungan pembangunan sumur bor juga akan didorong untuk menjawab kebutuhan air petani.
“Kalau kita mau meningkatkan produksi, air harus tersedia,” tegasnya.
Untuk pengembangan padi, Mentan langsung menginstruksikan pemberian bantuan bibit untuk lahan sekitar 1.000 hingga 2.000 hektare.
Sementara pengembangan jagung yang saat ini mencapai sekitar 2.500 hektare didorong bertambah sekitar 1.000 hektare melalui dukungan Pemerintah Provinsi NTT.
Pengembangan jambu mete juga ditargetkan mencapai sekitar 10.000 tanaman, disamping memperkuat komoditas kakao, kelapa dan berbagai tanaman pangan lainnya.
Wagub: Pertanian Harus Mengubah Nasib Masyarakat
Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat terhadap masyarakat Alor.
“Atas nama Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Kabupaten Alor dan seluruh masyarakat Alor, kami menyampaikan terima kasih kepada Bapak Menteri Pertanian atas perhatian dan dukungannya,” ujar Johni.
Menurutnya, kehadiran Menteri Pertanian di Alor menjadi bukti perhatian pemerintah pusat terhadap daerah kepulauan sekaligus masyarakat yang menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian.
Pemerintah Provinsi NTT, kata Johni, siap mengawal seluruh dukungan yang diberikan agar tidak berhenti sebagai bantuan, tetapi benar-benar berdampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Mari kita ubah nasib saudara-saudara kita di Alor melalui pertanian,” tegasnya.
Ia berharap sinergi pemerintah pusat dan daerah terus diperkuat sehingga pertanian tidak sekadar menjadi program pembangunan, tetapi menjadi jalan keluar dari kemiskinan sekaligus sumber kesejahteraan masyarakat.
Bantuan Menyasar Keluarga Miskin
Rangkaian kunjungan Mentan Amran bersama Wakil Gubernur NTT kemudian dilanjutkan ke Desa Lembur Barat.
Di desa tersebut, bantuan diserahkan kepada keluarga miskin di Kabupaten Alor.
Langkah ini memperlihatkan upaya pemerintah mengintegrasikan pembangunan sektor pertanian dengan agenda pengentasan kemiskinan.
Pesan dari Alor pun semakin jelas: potensi pertanian harus diubah menjadi kesejahteraan.
Bibit, alat dan mesin pertanian, air serta dukungan pemerintah menjadi modal yang diharapkan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus menekan angka kemiskinan.
Dari Pidato di UNDIP, Aspirasi Anak Alor Antar Mentan ke Tanah Leluhur
Di balik kunjungan Menteri Pertanian ke Alor, terdapat cerita menarik tentang bagaimana suara seorang mahasiswa asal Alor bisa sampai ke tingkat pemerintah pusat.
Adalah Adriano, mahasiswa asal Alor yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Diponegoro (UNDIP).
Dalam sebuah kesempatan ketika Mentan Amran menyampaikan pidato di kampus tersebut, Adriano menyampaikan aspirasi mengenai kondisi masyarakat Alor, terutama kebutuhan beras serta pentingnya perhatian pemerintah terhadap pembangunan pertanian di daerah kepulauan itu.
Ia menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, mulai dari kebutuhan bibit, sarana produksi pertanian hingga persoalan yang berkaitan dengan peningkatan produksi pangan. Aspirasi tersebut mendapat perhatian Menteri Pertanian.
Beberapa waktu kemudian, Amran akhirnya datang langsung ke Kabupaten Alor untuk melihat kondisi masyarakat sekaligus meninjau potensi pertanian daerah tersebut.
Kehadiran Mentan yang didampingi Wakil Gubernur NTT menjadi momentum penting yang mempertemukan aspirasi seorang mahasiswa dengan realitas masyarakat di lapangan.
“Adriano sudah menuntun Bapak Menteri untuk datang ke Alor,” ujar Johni.
Menurutnya, apa yang dilakukan Adriano menunjukkan bahwa anak-anak NTT yang sedang menempuh pendidikan di luar daerah dapat menjadi jembatan untuk membawa persoalan daerah hingga ke tingkat nasional.
“Ini adalah bukti bahwa suara anak-anak Alor, suara anak-anak NTT, bisa didengar sampai ke tingkat pemerintah pusat,” ungkapnya.
Kini, tantangannya adalah memastikan seluruh janji dan dukungan tersebut benar-benar sampai kepada petani.
Sebab, bagi masyarakat Alor, pertanian bukan sekadar sektor ekonomi. Pertanian adalah harapan untuk keluar dari kemiskinan dan mengubah masa depan keluarga.
Dan dari Alor, pemerintah pusat telah membawa satu pesan besar: jika air tersedia, bibit unggul ditanam, alat pertanian diperkuat dan petani mendapat dukungan, maka pertanian bisa menjadi mesin perubahan ekonomi masyarakat. ***





