Suarantt.id, Kupang-Pantai Kopan bukan sekadar ruang terbuka di tepian Kota Kupang. Kawasan yang berada di Kelurahan Lai-Lai Bisi Kopan (LLBK) itu menyimpan jejak panjang perjumpaan berbagai komunitas dan kebudayaan yang turut membentuk wajah Kota Kupang.
Jejak sejarah dan keberagaman tersebut kembali dihidupkan melalui Festival Pecinan Event Budaya Multietnis Kelurahan LLBK dengan mengusung tema “Merajut Budaya dalam Harmoni”, Jumat (4/9/2026).
Selama dua hari, Pantai Kopan disulap menjadi panggung budaya yang mempertemukan seni, tradisi dan kreativitas masyarakat. Berbagai ekspresi budaya ditampilkan sebagai gambaran bahwa perbedaan bukanlah sekat, melainkan kekuatan untuk membangun kebersamaan.
Festival tersebut resmi dibuka oleh Sekretaris Daerah Kota Kupang, Jeffry Edward Pelt, S.H., yang hadir bersama Asisten Perekonomian dan Pembangunan Sekda Kota Kupang, Ignasius Repelita Lega, S.H., jajaran pimpinan perangkat daerah, camat dan lurah se-Kecamatan Kota Lama, Ketua Panitia Antoni Niti Susanto, Ketua LPM Kelurahan LLBK Tjiang Hemdi, tokoh masyarakat serta warga setempat.
Dalam sambutannya, Jeffry menegaskan bahwa festival budaya memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar pertunjukan seni. Menurutnya, kegiatan seperti ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk saling mengenal, menghargai dan menjaga keberagaman yang selama ini hidup berdampingan di Kota Kupang.
“Keragaman etnis dan budaya adalah kekuatan kita. Ibarat sebuah konser, ada yang bermain gitar, drum, bernyanyi, hingga penonton yang bertepuk tangan. Semua perbedaan itu terajut menjadi satu harmoni yang indah,” ujar Jeffry.
Ia mengatakan, keberagaman merupakan modal sosial yang penting dalam membangun Kota Kupang sebagai rumah bersama. Karena itu, sejarah dan kebudayaan yang ada tidak boleh berhenti sebagai cerita masa lalu, tetapi harus terus diperkenalkan kepada generasi muda.
“Kita tidak sedang mempertahankan perbedaan untuk saling menjauh. Kita merawat perbedaan agar tetap bisa hidup berdampingan dalam harmoni,” tegasnya.
Jeffry juga mendorong agar kawasan Kota Tua terus dikembangkan sebagai ruang yang mempertemukan sejarah, budaya, pariwisata dan aktivitas ekonomi masyarakat.
Dengan pengembangan tersebut, kawasan bersejarah di Kota Kupang diharapkan tidak hanya menjadi tempat untuk mengenang masa lalu, tetapi juga menjadi ruang produktif yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Jadikan Kota Kupang ini sebagai rumah bersama dengan saling menghargai dan merawat kebersihan,” pesannya.
Pantai Kopan dan Jejak Multietnis
Ketua Panitia Festival Pecinan LLBK, Antoni Niti Susanto, menjelaskan pemilihan Pantai Kopan sebagai lokasi kegiatan memiliki alasan historis.
Menurutnya, kawasan LLBK merupakan salah satu bagian penting dalam sejarah perkembangan Kota Kupang. Kawasan tersebut menjadi saksi perjumpaan berbagai komunitas dan bangsa, mulai dari masyarakat asli Helong, Portugis, Belanda, hingga komunitas Tionghoa dan Arab.
Jejak perjumpaan berbagai komunitas tersebut kemudian menjadi inspirasi utama pelaksanaan festival.
Antoni berharap Festival Pecinan LLBK dapat menjadi ruang untuk menunjukkan bahwa keberagaman bukanlah sekat yang memisahkan masyarakat, tetapi kekuatan yang mampu mempererat persatuan.
“Melalui festival ini, kami berharap dapat melestarikan budaya lokal, menarik kunjungan wisatawan, serta meningkatkan pendapatan para pelaku UMKM dan ekonomi kreatif di kawasan Kota Tua Kupang,” katanya.
Dengan demikian, festival tidak hanya menjadi agenda hiburan masyarakat, tetapi juga diharapkan memberikan dampak terhadap sektor pariwisata dan perekonomian warga.
Budaya Berjalan Bersama Solidaritas Kemanusiaan
Di tengah semarak festival, kepedulian terhadap masyarakat Flores yang sedang menghadapi bencana alam turut mewarnai kegiatan.
Sebelum rangkaian acara dilanjutkan, panitia bersama seluruh jajaran yang hadir menggelar hening cipta sebagai bentuk simpati dan duka cita bagi para korban serta masyarakat yang terdampak bencana.
Momen tersebut menunjukkan bahwa perayaan budaya tidak menghilangkan kepedulian masyarakat terhadap persoalan kemanusiaan.
Jeffry mengajak seluruh masyarakat untuk terus mendoakan warga terdampak gempa di Flores sekaligus menjaga semangat gotong royong dan solidaritas.
Ia juga menyampaikan bahwa sebelumnya Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, telah menjalankan misi kemanusiaan selama kurang lebih lima hari dengan mengunjungi enam kabupaten di Pulau Flores.
Dalam misi tersebut, Pemerintah Kota Kupang menyalurkan bantuan senilai kurang lebih Rp635 juta, yang bersumber dari APBD dan donasi ASN Pemerintah Kota Kupang.
Dua Hari Penuh Seni dan Tradisi
Festival Pecinan LLBK berlangsung selama dua hari dengan menghadirkan berbagai kegiatan budaya, seni dan hiburan.
Pada hari pertama, masyarakat disuguhkan karnaval budaya multietnis, pertunjukan Natoni, atraksi Barongsai, stand-up comedy, tari-tarian tradisional hingga konser musik live.
Sementara pada hari kedua, rangkaian kegiatan diisi dengan lomba busana atau fashion show tingkat TK, pentas seni anak-anak, pembacaan puisi, tari Tobe bersama dan ditutup dengan rangkaian penutupan festival.
Melalui Festival Pecinan LLBK, Pantai Kopan kembali menjadi ruang perjumpaan masyarakat. Sejarah, seni, tradisi dan keberagaman dirangkai dalam satu panggung untuk menegaskan bahwa Kota Kupang tumbuh dari perbedaan yang hidup berdampingan.
Festival tersebut sekaligus menjadi pesan bahwa keberagaman bukan sesuatu yang harus dipertentangkan, melainkan warisan yang perlu dirawat sebagai kekuatan bersama untuk membangun Kota Kupang.





