Tiga Tahun Berturut-turut BBWS NT II Sentuh Linamnutu, Bronjong hingga Alat Berat Dikerahkan Atasi Sedimentasi

oleh -471 Dilihat
Kasatker Operasi dan Pemeliharaan (OP) BBWS NT II, Nahason Harianja Bersama Rombongan Turun Langsung Meninjau Kondisi Riil Bendung Linamnutu pada Sabtu, 8 Agustus 2026. (Foto Hiro)

Suarantt.id, So’e-Bendung Linamnutu di Desa Linamnutu, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), terus mendapat perhatian dari Balai Wilayah Sungai (BBWS) Nusa Tenggara II. Selama tiga tahun berturut-turut, sejak 2024 hingga 2026, BBWS NT II melakukan berbagai bentuk penanganan untuk menjaga fungsi saluran irigasi yang menjadi tumpuan petani.

Kepala Satuan Kerja (Kasatker) Operasi dan Pemeliharaan (OP) BBWS NT II, Nahason Harianja, bersama rombongan turun langsung meninjau kondisi riil Bendung Linamnutu.

Nahason menjelaskan, perhatian BBWS NT II terhadap Bendung Linamnutu dilakukan secara bertahap sesuai dengan kebutuhan di lapangan.

Pada 2024, BBWS NT II memberikan bantuan bronjong sepanjang kurang lebih 50 meter di sepanjang saluran irigasi Desa Linamnutu. Bantuan tersebut, kata Nahason, tidak masuk dalam program awal, namun diberikan karena melihat kebutuhan masyarakat di lapangan.

“Ini tidak terprogramkan, tetapi karena kebutuhan masyarakat, kita membantu,” jelas Nahason kepada wartawan pada Sabtu, 8 Agustus 2026.

Sementara pada 2026, BBWS NT II kembali turun tangan dengan menurunkan alat berat untuk melakukan pengerukan material yang menumpuk di saluran irigasi Bendung Linamnutu sepanjang kurang lebih 350 meter.

Material tersebut berasal dari kawasan gunung yang terbawa aliran air saat musim hujan dan kemudian masuk ke saluran irigasi.

Persoalan sedimentasi menjadi salah satu masalah utama yang ditemukan saat peninjauan. Tumpukan material yang mengendap bahkan telah mengeras dengan ketebalan mencapai sekitar 30 hingga 40 sentimeter di sejumlah titik.

Kondisi tersebut menyebabkan aliran air dari hulu tidak mampu mengalir secara optimal hingga ke hilir. Akibatnya, petani yang menggantungkan kebutuhan air dari saluran irigasi tersebut turut merasakan dampaknya.

BACA JUGA:  NTT dan Kepri Perkuat Sinergi, Bahas Inflasi hingga Investasi Daerah

Nahason mengakui sedimentasi terjadi karena material yang terbawa dari hulu saat musim hujan tidak segera ditangani.

“Air dari gunung membawa sedimen, tapi tidak langsung dilakukan pemeliharaan atau pengangkatan. Akhirnya terjadi penumpukan yang sangat tinggi dan mengeras. Ini yang menyebabkan aliran tersumbat,” katanya.

Menurutnya, meskipun pintu air dari hulu telah dibuka sesuai kebutuhan, air tetap kesulitan mencapai hilir karena terhambat tumpukan sedimentasi.

“Dari hulu sudah dibuka, tapi karena ada sedimen, aliran tidak sampai ke hilir. Ini yang dirasakan langsung oleh petani,” ujarnya.

Hasil peninjauan juga menunjukkan sedimentasi yang sudah mengeras bukan persoalan yang baru terjadi. Kondisi tersebut diperkirakan telah berlangsung selama bertahun-tahun.

“Kalau melihat kondisi sedimen yang sudah keras, ini bukan hitungan bulan, tapi sudah tahunan. Ini yang harus segera ditangani,” tegas Nahason.

BBWS NTT II, lanjutnya, akan melakukan penanganan secara lebih menyeluruh. Rencana tersebut mencakup pengerukan saluran sepanjang kurang lebih 1,9 kilometer serta inspeksi terhadap kondisi fisik saluran, termasuk kemungkinan kebocoran maupun kerusakan struktur.

“Ke depan, kami akan lakukan pemeliharaan dan pengerukan secara menyeluruh. Jangan sampai ada lagi penumpukan yang berujung pengerasan,” katanya.

Nahason juga menekankan pentingnya monitoring rutin, khususnya ketika musim hujan. Sedimen yang terbawa dari hulu harus segera diangkat agar tidak menumpuk dan mengeras.

“Kalau ada pembawaan sedimen, harus cepat diambil. Jangan sampai berhari-hari, karena akan mengeras dan jadi masalah besar,” tambahnya.

Selain pengerukan, kondisi jalan inspeksi juga menjadi perhatian BBWS NT II karena akses tersebut penting untuk mendukung kegiatan operasional dan pemeliharaan saluran irigasi.

Dalam penanganan selanjutnya, BBWS NT II akan memperkuat koordinasi dengan pemerintah desa, petani dan Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A). Koordinasi diperlukan terutama apabila dilakukan penutupan sementara saluran selama proses perbaikan.

BACA JUGA:  IKAHI NTT Gelar Bakti Sosial Operasi Katarak, Pterygium, dan Hernia Gratis di RSUP Ben Mboi Kupang

“Kita tidak bisa bekerja sendiri. Harus ada komunikasi yang baik dengan masyarakat agar semua proses berjalan tanpa konflik,” ujar Nahason.

Ia juga menepis anggapan bahwa BBWS NT II lamban turun ke lapangan. Menurutnya, monitoring tetap dilakukan secara berkala untuk melihat kondisi saluran dan kebutuhan pemeliharaan.

“Saya tidak pernah alergi ke lapangan. Ini bentuk tanggung jawab kami kepada masyarakat,” tegasnya.

Sementara itu, Petugas Bendungan Linamnutu, Melda Tse, mengatakan petugas secara rutin melakukan pembersihan material yang masuk ke saluran irigasi. Untuk material dengan ketebalan sekitar 20 sentimeter, pembersihan dapat dilakukan secara manual oleh petugas.

Namun, jika ketebalan material sudah melebihi 20 sentimeter, kondisi tersebut dapat dilaporkan kepada pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat untuk mendapatkan penanganan menggunakan alat berat.

Pengelolaan saluran irigasi Bendung Linamnutu juga melibatkan 29 petugas P3A dan satu orang manajer, sehingga total terdapat 30 orang yang mendukung pengelolaan dan pemeliharaan.

Dengan berbagai langkah yang telah dilakukan sejak 2024 hingga 2026, BBWS NT II memastikan Bendung Linamnutu tetap menjadi perhatian. Mulai dari bantuan bronjong, pengerukan menggunakan alat berat hingga rencana penanganan saluran secara menyeluruh menjadi bagian dari upaya menjaga kelancaran distribusi air bagi masyarakat dan petani.

Masyarakat pun berharap penanganan sedimentasi tidak berhenti pada pengerukan sesaat, tetapi dilanjutkan dengan sistem pemeliharaan dan monitoring rutin sehingga persoalan yang sama tidak kembali terjadi setiap musim hujan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.