Suarantt.id, Kupang-Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Johni Asadoma, resmi melepas lebih dari 400 peserta Lomba Lari 10 Kilometer (10 Km) Tour de EnTeTe 2026 Etape I Daratan Timor pada Sabtu (7/11/2026). Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk membangkitkan kembali kejayaan olahraga atletik, khususnya cabang olahraga lari di NTT.
Lomba yang merupakan bagian dari rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-68 Provinsi NTT tersebut mengambil titik start di SDK Santo Yoseph Noelbaki dan garis finis di Polres Babau, Kabupaten Kupang.
Dalam sambutannya, Johni Asadoma menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi NTT berkomitmen menghidupkan kembali tradisi prestasi atletik yang pernah mengharumkan nama daerah di tingkat nasional maupun internasional.
Menurutnya, NTT memiliki sejarah panjang dalam melahirkan atlet-atlet lari berprestasi. Nama-nama seperti Eduardus Nabunome, Welmince Sonbai, dan Katarina Nasimnasi merupakan bukti bahwa NTT pernah menjadi salah satu daerah yang diperhitungkan dalam dunia atletik Indonesia.
“Dahulu NTT terkenal dengan atlet-atlet dan pelari-pelari hebat. Ada yang sampai ke Olimpiade. Karena itu, Pemerintah Provinsi NTT ingin mengangkat kembali kejayaan olahraga NTT, khususnya atletik dan lebih khusus lagi cabang olahraga lari, sehingga ke depan lahir kembali pelari-pelari NTT yang mampu berprestasi di tingkat nasional bahkan internasional,” ungkap Johni.
Ia mengajak generasi muda NTT untuk tidak sekadar menjadikan olahraga sebagai aktivitas pengisi waktu, tetapi membangun olahraga sebagai bagian dari gaya hidup, pembentukan karakter, sekaligus jalan meraih prestasi dan masa depan yang lebih baik.
Sebagai mantan atlet tinju yang pernah mengharumkan nama Indonesia di berbagai ajang internasional, Johni juga membagikan pengalaman tentang pentingnya disiplin, kerja keras, konsistensi, dan kesungguhan dalam menjalani proses latihan.
Ia mengisahkan bagaimana dirinya meningkatkan intensitas latihan hingga empat sampai lima kali sehari demi mencapai prestasi tertinggi. Kerja keras tersebut mengantarkannya meraih medali emas SEA Games 1983 dan tampil dalam Olimpiade Los Angeles, Amerika Serikat, pada 1984.
“Tidak ada prestasi yang datang dengan sendirinya. Kuncinya adalah latihan, latihan, dan latihan. Kalau ingin mencapai prestasi yang lebih tinggi, maka kita harus berani meningkatkan kualitas dan intensitas latihan. Saya berharap pengalaman ini dapat memotivasi anak-anak muda untuk terus berjuang dan menekuni olahraga,” pesannya.
Johni menambahkan, olahraga tidak hanya memberikan manfaat bagi kesehatan fisik, tetapi juga membentuk kedisiplinan, karakter, mental juang, memperluas pengalaman, serta membuka peluang bagi generasi muda untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Mateos Wuli dan Mariani Subun Raih Juara Pertama
Dalam perlombaan tersebut, persaingan berlangsung ketat pada kategori putra maupun putri. Untuk kategori putra, Mateos Wuli asal Bajawa berhasil keluar sebagai Juara 1 dengan catatan waktu 33 menit 35,94 detik dan memperoleh uang pembinaan sebesar Rp5 juta.
Posisi Juara 2 diraih Difta Unbanu asal Kabupaten Kupang dengan waktu 34 menit 47,37 detik dan mendapatkan Rp3,75 juta. Sementara Juara 3 diraih Septian Koen dengan catatan waktu 35 menit 39,54 detik dan memperoleh Rp2,5 juta.
Pada kategori putri, Mariani K. Subun asal Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) tampil sebagai Juara 1 dengan catatan waktu 41 menit 09,75 detik dan berhak membawa pulang uang pembinaan Rp5 juta.
Juara 2 diraih Adeleyde Dhone asal Ngada dengan waktu 41 menit 10,70 detik dan memperoleh Rp3,75 juta. Sedangkan Juara 3 diraih Absonia Bell asal Kota Kupang dengan catatan waktu 42 menit 45,34 detik dan mendapatkan Rp2,5 juta.
Untuk kategori putra, posisi Juara 4 hingga Juara 10 masing-masing ditempati Frengki Kapoteng asal Sumba Barat Daya, Berto Sabuna, Nikodemus Besi asal TTS, Ardi Ninuraja asal Amarasi Barat, Yoseph Lakapu, Joguez R. Lopi asal Bajawa, dan Septio Nefnino asal Amarasi Selatan.
Sementara kategori putri, posisi Juara 4 hingga Juara 10 diraih Rambu Angel Gasela asal Sumba Barat Daya, Michele Hizkia asal Kota Kupang, Agnes Besi asal TTS, Cinaya Faot, Sriyani Fenais, Adriana Waro asal Kabupaten Kupang, dan Mery Paijo asal Kota Kupang.
Para peserta yang menempati posisi Juara 4 hingga Juara 10 pada masing-masing kategori memperoleh uang pembinaan sebesar Rp500 ribu.
Olahraga dan Kepedulian Lingkungan Berjalan Bersama
Selain menyediakan hadiah bagi para pemenang, panitia juga menyiapkan berbagai doorprize menarik bagi peserta, di antaranya anakan pohon, tempat sampah, dan bola.
Pemberian anakan pohon kepada peserta dan pemenang menjadi salah satu pesan bahwa kegiatan olahraga juga dapat berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap lingkungan.
Pemerintah Provinsi NTT berharap Lomba Lari 10 Km Tour de EnTeTe 2026 tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial dalam rangka HUT ke-68 Provinsi NTT, tetapi menjadi gerakan berkelanjutan untuk membangun budaya olahraga di tengah masyarakat.
Lebih dari sekadar perlombaan, kegiatan ini diharapkan menjadi wadah penjaringan bibit-bibit atlet potensial, khususnya pelari muda yang mampu membawa nama NTT bersaing di tingkat nasional bahkan internasional.
Semangat kebangkitan atletik NTT harus dimulai dari sekarang melalui pembinaan yang konsisten, disiplin latihan, dukungan pemerintah, serta keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Dengan demikian, kejayaan para legenda atletik NTT diharapkan dapat kembali dilanjutkan oleh generasi muda.







