Wali Kota Kupang: Lampion Boleh Padam, Persaudaraan Tetap Menyala

oleh -90 Dilihat
Wali Kota Kupang Hadiri Acara Penutupan

Suarantt.id, Kupang-Lampion boleh padam dan Mooncake Festival 2026 berakhir, tetapi semangat persaudaraan, keberagaman dan kepedulian sosial harus tetap menyala.

Pesan tersebut disampaikan Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, saat menghadiri penutupan Mooncake Festival 2026 yang berlangsung di ruas Jalan El Tari, Kota Kupang, Minggu (27/9/2026) malam.

Didampingi Ketua TP PKK Kota Kupang, dr. Widya Cahya, Christian mengapresiasi Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) yang telah menghadirkan festival sebagai ruang perjumpaan masyarakat melalui budaya, sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi dan kepedulian sosial.

Menurut Christian, momentum Mooncake Festival tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga menjadi kesempatan untuk menunjukkan solidaritas kepada masyarakat Flores yang terdampak gempa.

“Mungkin saat bumi mengguncang saudara-saudari kita di Flores, kita tidak ada bersama mereka. Tetapi malam hari ini kita tunjukkan bahwa mereka tidak sendirian. Wilayah mungkin memiliki batas, titik lokasi gempa mungkin memiliki batas, tetapi saya percaya kemanusiaan tidak memiliki batas,” ujar Christian.

Ia mengajak masyarakat turut mendukung aksi kemanusiaan yang digagas PSMTI melalui pembelian kupon donasi bagi masyarakat terdampak gempa di Flores.

Selain membawa pesan persaudaraan, Mooncake Festival 2026 juga memberikan dampak terhadap perekonomian masyarakat. Sebanyak 110 UMKM terlibat dalam rangkaian kegiatan tersebut.

“Festival ini bukan hanya perayaan sebuah tradisi. Hari ini kita merayakan identitas, kebersamaan dan keberagaman. Jauh daripada itu, kegiatan ini juga menggerakkan ekonomi kerakyatan,” katanya.

Christian menegaskan bahwa keberagaman merupakan kekuatan bagi Kota Kupang. Ia menyebut Kota Kupang sebagai rumah bersama bagi seluruh masyarakat dengan latar belakang yang berbeda.

“Di Kota Kupang, keberagaman bukan menjadi penghalang, tetapi menjadi kekuatan. Bukan menjadi jarak pemisah, tetapi menjadi jembatan,” tegasnya.

BACA JUGA:  Pemkot Kupang Tegaskan Komitmen Akses Air Bersih Inklusif dan Berkelanjutan

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada masyarakat, paguyuban, ASN serta seluruh elemen yang terus berkontribusi dalam pembangunan Kota Kupang.

Menurutnya, berbagai penghargaan yang baru diterima Pemerintah Kota Kupang merupakan hasil kerja kolaboratif seluruh elemen masyarakat, bukan keberhasilan pemerintah semata.

Kota Kupang baru-baru ini meraih Terbaik III kategori Akses dan Kualitas Layanan Kesehatan dengan insentif fiskal Rp1 miliar, Terbaik II Program Tiga Juta Rumah dengan dukungan 250 unit BSPS, serta Terbaik I TP2DD kawasan Nusa Tenggara, Maluku dan Papua.

“Kalau hari ini Kota Kupang bercahaya, itu bukan karena satu obor yang dinyalakan di Kantor Wali Kota, tetapi karena lilin-lilin kecil yang dinyalakan di kantor-kantor dinas, kecamatan, kelurahan, paguyuban, keluarga, RT dan RW. Lilin-lilin kecil itulah yang membuat Kota Kupang bercahaya,” ungkapnya.

Kepada para peserta Koko Cici, Christian berpesan agar ajang tersebut tidak sekadar menjadi ruang untuk tampil, tetapi juga menjadi wadah pembentukan karakter, wawasan serta pemahaman terhadap budaya.

Ia berharap generasi muda dapat menjadi bagian penting dalam menjaga persatuan dan keberagaman di Kota Kupang.

“Setelah lampion dipadamkan dan festival ini berakhir, semangat persaudaraan kita harus tetap menyala. Persatuan itu bukan berarti menjadi sama, tetapi mampu berjalan bersama meskipun berbeda,” pungkasnya.

Gubernur NTT Apresiasi Mooncake Festival

Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, turut mengapresiasi pelaksanaan Mooncake Festival sebagai ruang yang mempertemukan masyarakat melalui budaya, kebersamaan dan rasa syukur.

“Keberagaman tidak harus memisahkan kita. Justru keberagaman selalu melengkapi dan budaya dapat menjadi jembatan yang mempertemukan kita dalam mosaik kebersamaan,” kata Melki.

Ia menegaskan bahwa pembangunan NTT tidak hanya berbicara mengenai infrastruktur dan angka-angka pembangunan, tetapi juga menyangkut manusia, keluarga, pendidikan, budaya, lingkungan serta kehidupan sosial yang harmonis.

BACA JUGA:  Wali Kota Kupang Dukung Kegiatan Lomba Lintas Alam dan Penanganan Sampah

Sementara itu, Ketua PSMTI Provinsi NTT, Hengky Lianto, mengatakan Mooncake Festival menjadi ruang untuk merawat keberagaman, mempererat persaudaraan serta memperkenalkan budaya Tionghoa kepada masyarakat luas.

“Ketika saudara kita mengalami musibah, kita harus hadir. Ketika ada yang membutuhkan uluran tangan, kita perlu bergandengan tangan,” ujarnya.

Ketua PSMTI Kota Kupang, Dedy Tanjung, menambahkan bahwa Mooncake Festival 2026 berlangsung selama 25–27 September dan melibatkan 110 tenant UMKM serta 30 sponsor.

Perputaran ekonomi selama rangkaian kegiatan diperkirakan mencapai Rp2,5 miliar. Dari jumlah tersebut, sekitar Rp2 miliar berputar pada sektor UMKM dan berbagai kegiatan yang berlangsung selama tiga minggu.

Selain menggerakkan ekonomi, panitia juga menggalang donasi bagi masyarakat terdampak gempa Flores melalui kupon senilai Rp10.000 serta membuka pengumpulan barang layak pakai.

Mooncake Festival 2026 pun ditutup dengan pesan kuat bahwa perayaan boleh berakhir, lampion boleh padam, tetapi persaudaraan, kepedulian dan semangat kemanusiaan harus terus menyala di tengah keberagaman masyarakat Kota Kupang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.