Suarantt.id, Kupang-Pelaksana Tugas Direktur Utama Bank NTT, Yohanis Landu Praing, menepis rumor dengan sebuah pengumuman mengejutkan. Bank milik daerah itu bersiap membuka kantor cabang di Timor Leste, sebuah langkah strategis yang akan menempatkan Bank NTT dalam peta diplomasi ekonomi regional.
“Itu benar. Lebih bagus kalau ada Bank NTT di sana,” ujar Landu Praing usai memimpin Forum Group Discussion (FGD) bersama unsur pentahelix dengan topik “Sinergitas Aktor Pentahelix dalam Peningkatan Inklusi Keuangan di Kawasan Timor Barat NTT” pada Selasa, 3 September 2025.
Sebagai bank pembangunan daerah yang selama puluhan tahun dikenal dengan sebutan “bank orang NTT”, rencana ekspansi ini bukan sekadar membuka cabang baru, melainkan menyeberang batas negara dari Kupang menuju Dili.
Sudah Sah Secara Regulasi
Landu Praing menjelaskan, status Bank NTT yang kini telah bertransformasi menjadi bank devisa membuat langkah ekspansi ke Timor Leste sah secara regulasi. Manajemen sedang menyiapkan dokumen resmi yang akan masuk dalam rencana bisnis 2026, sekaligus mengonsultasikannya dengan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
“Kami berpatokan pada Peraturan OJK Nomor 12 Tahun 2021 terkait Bank Umum,” jelasnya.
Jika rencana ini terwujud, masyarakat kedua negara akan lebih mudah bertransaksi menggunakan QRIS, ATM, hingga mesin EDC dengan jaringan Bank NTT.
Simbol Kedekatan Dua Bangsa
Ekspansi Bank NTT ke Timor Leste juga memiliki makna simbolik. Negeri muda yang pernah menjadi bagian dari Indonesia itu punya hubungan erat dengan NTT baik dari sisi sejarah, perdagangan, maupun ikatan keluarga lintas batas.
Dengan masuknya Bank NTT, jalur uang antarnegara diharapkan menjadi lebih lancar, mulai dari remitansi pekerja migran, belanja harian, hingga investasi.
Tiga Tantangan Besar
Meski ambisius, langkah ini tidak lepas dari tantangan. Pertama, soal remitansi TKI di Timor Leste. Selama ini, arus pengiriman uang masih banyak bergantung pada jalur informal. Kehadiran Bank NTT berpotensi mengamankan arus uang tersebut masuk ke sistem resmi, meski harus diimbangi dengan tarif layanan yang terjangkau dan prosedur yang sederhana.
Kedua, regulasi lintas negara. Sistem keuangan Timor Leste masih dalam tahap awal pembangunan. Harmonisasi aturan perbankan antara Indonesia dan Timor Leste menjadi mutlak agar cabang Bank NTT tidak terjebak tumpang-tindih regulasi.
Ketiga, dimensi diplomasi ekonomi. Kehadiran Bank NTT di Dili akan menjadi pionir diplomasi finansial, memperkuat jejaring ekonomi kawasan perbatasan. Namun jika gagal, langkah ini berpotensi menimbulkan sentimen negatif dan dipandang sebagai bentuk intervensi ekonomi.
Ujian Visi dan Nyali
Jika berhasil, Bank NTT akan tercatat sebagai bank daerah pertama di Indonesia yang menembus lintas batas negara. Langkah ini bukan hanya memperluas jaringan bisnis, tetapi juga meneguhkan posisi NTT sebagai jembatan finansial antara Indonesia dan Timor Leste.
“Bagi Bank NTT, jalan menuju Dili adalah ujian visi dan nyali,” ujar Landu Praing.
Di ujung timur Nusantara, Bank NTT kini bersiap menulis bab baru dalam sejarahnya bukan lagi sekadar bank daerah, melainkan jembatan ekonomi dua bangsa bertetangga yang punya sejarah panjang sekaligus peluang besar. ***







