Christian Widodo Tantang Anak Muda Adu Gagasan Lewat “Wali Kota Challenge”

oleh -187 Dilihat
Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo jadi Pembicara dalam Public Discussion bertajuk “Quo Vadis Pembangunan Kota Kupang” dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Nusa Tenggara Timur (NTT) di Regan’s Caffe, Sabtu (4/10/26) malam. (Foto Prokompim Kota Kupang)

Suarantt.id, Kupang-Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, menawarkan ruang baru bagi organisasi kepemudaan, mahasiswa dan komunitas untuk ikut memecahkan berbagai persoalan pembangunan melalui gagasan “Wali Kota Challenge”.

Melalui konsep tersebut, anak muda tidak hanya didorong untuk mengkritik pemerintah, tetapi juga ditantang menghadirkan solusi konkret yang berpeluang diadopsi menjadi kebijakan Pemerintah Kota Kupang.

Gagasan itu disampaikan dr. Christian saat menjadi pembicara utama dalam Public Discussion bertajuk “Quo Vadis Pembangunan Kota Kupang” yang digelar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Nusa Tenggara Timur (NTT) di Regan’s Caffe, Sabtu (4/10/26) malam.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Anggota DPRD Provinsi NTT Junaidin Mahasan, Anggota DPRD Kota Kupang Ahmad Thalib, akademisi sekaligus pakar politik Universitas Muhammadiyah Kupang Dr. Ahmad Atang, sejumlah kepala perangkat daerah lingkup Pemerintah Kota Kupang, Ketua IMM NTT Cakti Flobamorrinci A. Kirie, jajaran IMM NTT dan IMM Cabang Kota Kupang, mahasiswa serta undangan lainnya.

Menurut dr. Christian, mahasiswa dan generasi muda memiliki posisi strategis dalam menentukan arah pembangunan daerah. Karena itu, mereka tidak cukup hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi harus diberi ruang untuk ikut merumuskan gagasan dan menawarkan solusi terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.

Karena itu, ia menawarkan konsep “Wali Kota Challenge” sebagai ruang adu gagasan bagi organisasi kepemudaan, mahasiswa dan komunitas untuk menjawab persoalan nyata di Kota Kupang.

“Anak-anak muda mana yang bisa paling bagus memberikan solusi kepada kami, kami pakai itu sebagai kebijakan,” ujar dr. Christian.

Ia menegaskan, pemerintah tidak harus selalu menjadi satu-satunya sumber solusi. Sebaliknya, pemerintah perlu membuka ruang seluas-luasnya agar ide terbaik dari masyarakat dapat masuk, diuji dan jika memungkinkan diterapkan dalam kebijakan publik.

BACA JUGA:  Gubernur NTT Bertemu dengan Uskup Maumere untuk Bangun Sinergi Pembangunan Daerah

“Pemerintah tidak harus selalu menjadi sumber solusi. Bisa saja solusi terbaik datang dari masyarakat, dari mahasiswa, dari komunitas, dari anak-anak muda,” katanya.

Menurutnya, “Wali Kota Challenge” dapat menjadi jembatan antara kreativitas generasi muda dengan kebutuhan nyata pembangunan Kota Kupang.

“Kalau ada persoalan di kota, jangan hanya bilang pemerintah tidak bisa. Mari kita pikirkan bersama, apa solusinya. Kalau solusinya bagus dan bisa diterapkan, pemerintah akan pakai,” tegasnya.

Bangun Ekosistem Kepemudaan

Lebih jauh, dr. Christian mengatakan Pemerintah Kota Kupang perlu membangun ekosistem kepemudaan yang memungkinkan generasi muda berkembang sesuai potensi masing-masing.

Ekosistem tersebut, kata dia, dapat dibangun melalui penyediaan ruang kreatif, akses terhadap jejaring dan informasi, serta pendidikan yang relevan dengan kebutuhan daerah maupun dunia kerja.

Pemerintah juga dinilai perlu melakukan pemetaan terhadap talenta generasi muda di berbagai bidang, mulai dari teknologi informasi, desain grafis, musik, olahraga hingga sektor kreatif lainnya.

“Pembangunan sumber daya manusia tidak cukup hanya dengan menyediakan pendidikan formal,” ujarnya.

Menurut dr. Christian, pemerintah juga harus membantu anak muda menemukan potensi, membangun jejaring dan mendapatkan ruang yang memadai untuk mengembangkan kemampuan mereka.

Anak Muda Diminta Tak Apatis

Dalam konteks keterlibatan generasi muda dalam politik, dr. Christian mengingatkan mahasiswa agar tidak bersikap apatis.

Menurutnya, keterlibatan dalam politik tidak selalu berarti harus menjadi calon legislatif atau menduduki jabatan politik. Keterlibatan dapat dimulai dari keberanian berdiskusi, memahami kebijakan publik, mencermati rekam jejak calon pemimpin serta menggunakan hak politik secara bertanggung jawab.

“Jangan apatis. Kalian harus mulai terlibat. Terlibat itu bukan berarti harus menjadi caleg. Terlibat itu artinya berani berdiskusi,” tegasnya.

Ia juga menegaskan bahwa kepemimpinan merupakan amanah yang bersifat sementara. Karena itu, seorang pemimpin seharusnya tidak hanya mengejar nama atau popularitas, tetapi meninggalkan sistem pemerintahan dan tata kelola yang dapat terus berjalan setelah kepemimpinannya berakhir.

BACA JUGA:  Pemkot Kupang Salurkan Bantuan Rp200 Juta untuk Pembangunan Aula Auditorium Keuskupan Agung Kupang

“Saya ingin meninggalkan legasi sistem pemerintahan yang baik, saya ingin meninggalkan sistem tata kelola manajemen ASN yang baik,” ungkapnya.

Anggaran Terbatas, Prioritas Harus Jelas

Dalam diskusi tersebut, dr. Christian juga menjelaskan tantangan pemerintah dalam mengelola pembangunan di tengah kondisi fiskal daerah yang terbatas.

Menurutnya, pemerintah harus mampu menetapkan prioritas dan menggunakan anggaran secara bijak. Pembangunan tidak semata-mata mengejar biaya murah, tetapi harus mempertimbangkan kualitas, manfaat dan keberlanjutan.

“Caranya adalah berhemat dan menggunakan anggaran dengan bijak,” jelasnya.

Ia juga menyinggung respons Pemerintah Kota Kupang terhadap bencana gempa yang melanda wilayah Flores. Menurutnya, kehadiran pemerintah dalam situasi kemanusiaan bukan sekadar persoalan bantuan, tetapi merupakan bentuk solidaritas sebagai sesama warga NTT.

Pemerintah Kota Kupang juga memberikan perhatian kepada mahasiswa asal Flores yang berada di Kota Kupang dan keluarganya terdampak bencana.

“Wilayah itu memiliki batas, lokasi bencana juga punya batas. Tetapi kemanusiaan tidak memiliki batas,” tegasnya.

Kolaborasi Tanpa Hierarki

Di hadapan mahasiswa IMM, dr. Christian mengajak generasi muda membangun karakter yang fokus, adaptif, tangguh dan konsisten.

Ia menegaskan bahwa pembangunan Kota Kupang membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, organisasi kepemudaan, perguruan tinggi, dunia usaha hingga masyarakat.

“Kolaborasi itu tidak mengenal hierarki,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua IMM NTT Cakti Flobamorrinci A. Kirie mengapresiasi kehadiran dan respons Wali Kota Kupang dalam forum tersebut.

Menurut Cakti, komunikasi langsung antara pemerintah dan organisasi kepemudaan penting untuk menjaga pembangunan tetap terbuka terhadap kritik sekaligus gagasan masyarakat.

Cakti juga mengapresiasi respons Pemerintah Kota Kupang terhadap berbagai persoalan masyarakat, termasuk penanganan sampah dan bantuan bagi masyarakat terdampak bencana di Flores.

BACA JUGA:  PSI NTT Kian Solid, Grace Natalie dan Christian Widodo Ajak Kader Turun ke Akar Rumput

Ia menilai berbagai capaian Pemerintah Kota Kupang, termasuk penghargaan di bidang digitalisasi daerah, toleransi dan tata kelola keuangan, menunjukkan adanya upaya memperkuat tata kelola pemerintahan dan kehidupan masyarakat yang inklusif.

IMM NTT, kata Cakti, siap memperkuat komunikasi dan kolaborasi dengan Pemerintah Kota Kupang dalam mengawal pembangunan daerah.

“IMM tidak ingin hanya hadir sebagai kelompok yang memberikan kritik, tetapi juga menjadi bagian dari ruang dialog yang kritis, konstruktif dan solutif,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.