Festival Budaya Oeba ke-2 Jadi Panggung Persatuan dan Kekuatan Bangun Kota Kupang

oleh -57 Dilihat
Wali Kota Kupang Buka Festival Budaya Kelurahan Oeba. (Foto Prokompim Kota Kupang)

Suarantt.id, Kupang-Festival Budaya Kelurahan Oeba ke-2 yang digelar di Halaman Kantor Lurah Oeba, Kecamatan Kota Lama, Rabu (16/9/2026), tidak sekadar menjadi ajang pertunjukan seni dan tradisi. Festival tersebut juga menjadi ruang perjumpaan warga sekaligus panggung untuk memperkuat persatuan di tengah keberagaman masyarakat Kota Kupang.

Festival yang mengusung tema “Jejak Leluhur, Semangat Masa Kini” itu dibuka secara resmi oleh Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo. Antusiasme warga terlihat sejak kegiatan berlangsung. Anak-anak hingga orang dewasa memadati lokasi festival dan mengikuti berbagai rangkaian kegiatan yang disiapkan panitia.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Kominfo Kota Kupang Ariantje Martje Baun, Kepala Dinas Pariwisata Kota Kupang Josefina M. D. Getha, Camat Kota Lama Mohamad Adriyanto Abdul Jalil, para lurah se-Kecamatan Kota Lama, serta Lurah Oeba Rina Marlina Saudale.

Turut hadir Ketua LPM Kelurahan Oeba, para ketua RT/RW, Karang Taruna, tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh perempuan dan pemuda, pelaku seni, pelaku UMKM, serta para donatur dan sponsor.

Dalam sambutannya, Christian mengapresiasi antusiasme masyarakat Oeba dalam menyukseskan festival budaya tersebut. Menurutnya, partisipasi warga Oeba menunjukkan bahwa kebudayaan dapat menjadi ruang yang efektif untuk mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang.

“Terima kasih khusus untuk Kelurahan Oeba yang sudah mengadakan festival budaya ini. Antusias warganya luar biasa, ini mungkin termasuk yang paling ramai selama saya keliling festival budaya,” ujar Christian.

Menurut Christian, kemeriahan festival bukanlah tujuan akhir. Di balik pentas seni, karnaval dan berbagai pertunjukan budaya, terdapat pesan penting bahwa pembangunan Kota Kupang harus berjalan seiring dengan pembangunan manusianya.

“Membangun sebuah kota itu bukan hanya membangun fisiknya, tapi harus membangun manusianya juga,” tegasnya.

BACA JUGA:  GMIT Kaisarea Rayakan 36 Tahun, Wali Kota Kupang: Terus Jadi Terang bagi Kota

Ia menjelaskan, kemajuan sebuah kota tidak cukup hanya diukur dari pembangunan jalan, gedung, jembatan maupun fasilitas publik. Kualitas pendidikan, kesehatan, kebersihan, karakter masyarakat, toleransi serta ruang kreativitas juga menjadi bagian penting dari pembangunan.

Christian menilai festival budaya memiliki peran dalam membangun karakter masyarakat karena menjadi ruang bagi warga untuk bertemu, berekspresi, mengenal budaya dan memperkuat rasa memiliki terhadap lingkungan serta kotanya.

Dalam kesempatan itu, Christian juga mengingatkan masyarakat mengenai pentingnya menjaga budaya untuk generasi mendatang.

“Budaya itu bukan hanya warisan dari leluhur kita, tapi pinjaman dari anak cucu kita. Mindset kita harus begitu,” tuturnya.

Menurutnya, cara pandang tersebut penting agar masyarakat tidak hanya menggunakan dan menikmati budaya, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk merawat serta meneruskannya kepada generasi berikutnya.

Christian kemudian menyoroti keberagaman masyarakat Kelurahan Oeba yang menurutnya mencerminkan wajah Kota Kupang secara keseluruhan.

“Kelurahan Oeba ini miniaturnya Kota Kupang. Tadi Pak Ketua Panitia menyampaikan ada semua agama, etnis, dan suku di sini. Keberagaman di Kota Kupang bukan jadi penghalang, tetapi jadi kekuatan. Bukan menjadi jarak pemisah, melainkan jembatan,” katanya.

Ia menegaskan bahwa persatuan tidak berarti menghilangkan perbedaan identitas yang dimiliki masyarakat. Sebaliknya, keberagaman perlu dikelola melalui sikap saling menghormati dan menjaga keseimbangan dalam kehidupan bermasyarakat.

“Harmoni itu bukan berarti harus sama atau seragam. Kita tidak bisa menyamakan semua orang, tetapi kita bisa menjaga keseimbangan dan persatuan di antara kita,” ujar Christian.

Semangat tersebut, lanjutnya, sejalan dengan karakter Kota Kupang sebagai Kota Kasih dan rumah bersama bagi masyarakat dengan beragam agama, etnis dan suku.

Sementara itu, Ketua Panitia Festival Budaya Kelurahan Oeba, David C. Octovianus, mengatakan festival tersebut dirancang bukan hanya sebagai kegiatan pelestarian budaya, tetapi juga sebagai ruang pemberdayaan masyarakat.

BACA JUGA:  Inflasi NTT April 2025 Capai 1,77 Persen, Tertinggi di Kabupaten TTS

Menurutnya, Kelurahan Oeba yang merupakan bagian dari masyarakat Kota Kupang yang multikultural terus berupaya mempertahankan seni dan budaya lokal di tengah perkembangan teknologi dan masuknya berbagai budaya baru.

Festival Budaya Oeba 2026 diisi dengan berbagai kegiatan, di antaranya karnaval budaya menggunakan pakaian etnis NTT, pentas seni dan budaya, lomba tarian etnis Flores, pasar UMKM, pelayanan PBB-P2 serta pemeriksaan kesehatan gratis.

Kehadiran pasar UMKM juga memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengembangkan aktivitas ekonomi. Produk-produk warga dapat dipromosikan sekaligus diperkenalkan kepada masyarakat yang menghadiri festival.

Panitia menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Kupang, jajaran kelurahan, tokoh masyarakat, tokoh agama, para donatur dan sponsor serta seluruh warga Oeba yang bergotong royong sehingga Festival Budaya Kelurahan Oeba ke-2 dapat terlaksana.

Festival tersebut pada akhirnya tidak hanya menghadirkan kembali jejak budaya leluhur, tetapi juga memperlihatkan bagaimana keberagaman dapat menjadi ruang untuk memperkuat kebersamaan dan persatuan masyarakat Kota Kupang.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.