Suarantt.id, Kupang-Realisasi pendapatan RSUD Prof. Dr. WZ Johannes Kupang hingga 30 Juni 2026 baru mencapai sekitar 27 persen atau sebesar Rp37 miliar dari target Rp260 miliar. Kondisi ini mendorong manajemen rumah sakit untuk bekerja lebih keras dalam mengejar target yang telah ditetapkan.
Direktur RSUD Prof. Dr. WZ Johannes Kupang, dr. Stefanus Dhe Soka, mengatakan capaian tersebut masih jauh dari target, sehingga diperlukan strategi yang tepat untuk meningkatkan pendapatan di sisa waktu tahun anggaran.
“Memang perlu upaya dan kerja keras lagi untuk kita bisa mencapai target yang sudah disepakati bersama,” ujarnya kepada usai wartawan usai rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi V DPRD NTT pada Rabu, 8 Juli 2026.
Ia menjelaskan, pengelolaan keuangan rumah sakit yang sebagian besar bersumber dari Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) menuntut adanya keseimbangan antara pendapatan dan pengeluaran. Hal ini penting agar tidak meninggalkan sisa utang di akhir tahun.
“Kita harus melakukan strategi balancing antara pemasukan dan pengeluaran, sehingga pengelolaan keuangan tetap sehat,” jelasnya.
Selain itu, RSUD Johannes juga dihadapkan pada tuntutan peningkatan infrastruktur layanan kesehatan. Tidak hanya menyangkut keselamatan pasien (patient safety), tetapi juga aspek keamanan lingkungan (security) di rumah sakit.
Untuk menjawab tantangan tersebut, pihaknya tengah merancang pengembangan konsep smart hospital yang membutuhkan dukungan anggaran besar serta keterlibatan berbagai pihak.
Di sisi lain, manajemen rumah sakit juga menaruh perhatian pada perlindungan tenaga kesehatan. Menurut dr. Stefanus, penting adanya pemahaman yang jelas terkait alur pelaporan jika terjadi insiden di lingkungan kerja.
“Seluruh tenaga kesehatan harus tahu ke mana harus melapor, sehingga manajemen bisa merespons dengan cepat,” tegasnya.
Dengan berbagai upaya tersebut, RSUD Prof. Dr. WZ Johannes Kupang optimistis dapat meningkatkan pendapatan sekaligus memperkuat kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat di Nusa Tenggara Timur. ***






