Suarantt.id, Kupang-Sekretaris DPW PSI Nusa Tenggara Timur (NTT), Junaidin Mahasan, melontarkan kritik keras terhadap pola kritik yang dinilainya tidak jujur dan cenderung menyesatkan publik. Pernyataan itu disampaikannya usai mengikuti sebuah podcast pasca kunjungan Presiden Joko Widodo ke NTT.
Dalam pernyataannya, Junaidin menegaskan bahwa kritik terhadap pemimpin merupakan hal yang sah dalam demokrasi. Namun, ia mengingatkan bahwa kritik tidak boleh dibangun di atas narasi yang menyesatkan, manipulatif, atau mengabaikan fakta dan capaian nyata yang telah dirasakan masyarakat.
“Politik bukan panggung hoaks dan kebencian. Kritik itu penting, tapi harus jujur dan berbasis data. Jangan hanya membangun persepsi negatif tanpa mengakui capaian yang sudah dirasakan rakyat,” tegas Junaidin.
Menurutnya, pasca kunjungan Presiden Jokowi ke NTT, berbagai isu strategis kembali mencuat ke ruang publik. Namun, ia menilai sebagian narasi yang berkembang justru cenderung memecah belah dan tidak mencerminkan kondisi riil di lapangan.
Junaidin menekankan bahwa ukuran utama dalam menilai kepemimpinan adalah dampak nyata terhadap kesejahteraan masyarakat, bukan sekadar opini atau framing politik jangka pendek.
“Yang harus kita ukur adalah fakta, data, dan dampak langsung bagi rakyat. Jangan sampai politik kita hanya dipenuhi narasi kosong yang memperkeruh suasana,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat dan aktor politik di NTT untuk membangun ruang diskusi yang sehat, terbuka, dan objektif. Menurutnya, kepentingan daerah harus menjadi prioritas utama dibandingkan kepentingan politik sesaat.
“NTT butuh diskusi yang jernih dan objektif. Mari kita kedepankan kepentingan daerah, bukan kepentingan kelompok atau agenda politik jangka pendek,” tambahnya.
Pernyataan ini sekaligus menjadi penegasan sikap PSI NTT dalam mendorong praktik politik yang lebih sehat, transparan, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat luas, khususnya dalam momentum pasca kunjungan Presiden yang membawa berbagai perhatian dan harapan bagi pembangunan di Nusa Tenggara Timur. ***







