Suarantt.id, Kupang-Wali Kota Kupang, dr. Christian Widodo, memberikan apresiasi tinggi terhadap pelaksanaan Bulan Budaya GMIT Maranatha Oebufu Tahun 2026 yang dinilai menjadi wadah penting dalam melestarikan budaya sekaligus mempererat persaudaraan di tengah keberagaman masyarakat.
Hal tersebut disampaikannya saat secara resmi menutup rangkaian kegiatan Bulan Budaya yang berlangsung meriah di halaman Gereja GMIT Maranatha Oebufu, Senin (1/6/26). Selama sebulan penuh, kegiatan ini menghadirkan berbagai atraksi budaya yang melibatkan jemaat lintas etnis.
Dalam sambutannya, Wali Kota menegaskan bahwa budaya bukan sekadar warisan leluhur, tetapi juga merupakan tanggung jawab bersama untuk dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.
“Budaya bukan hanya warisan dari leluhur kita, tetapi juga titipan untuk anak cucu kita. Karena itu budaya harus terus dirawat agar tetap hidup dan bermakna bagi generasi yang akan datang,” ujarnya.
Dia juga menyampaikan penghargaan kepada Ketua Sinode GMIT yang secara konsisten mendorong pelestarian budaya sebagai bagian dari identitas masyarakat Nusa Tenggara Timur.
Wali Kota Kupang turut menyampaikan rasa terima kasih kepada Jemaat GMIT Maranatha Oebufu yang dinilai telah berkontribusi dalam pembangunan Kota Kupang. Menurutnya, perjalanan panjang kota yang kini memasuki usia 140 tahun tidak terlepas dari peran berbagai elemen masyarakat, termasuk jemaat gereja.
“Perjalanan Kota Kupang dibangun oleh banyak tangan, banyak pengorbanan, dan banyak cinta yang tidak pernah padam. Terima kasih kepada seluruh Jemaat GMIT Maranatha Oebufu yang telah menjadi bagian penting dalam sejarah dan pembangunan kota ini,” katanya.
Bertepatan dengan peringatan Hari Lahir Pancasila, Wali Kota juga mengajak seluruh masyarakat untuk terus menghidupi nilai-nilai Pancasila, khususnya semangat persatuan dan gotong royong dalam kehidupan sehari-hari.
Ia menilai Bulan Budaya GMIT Maranatha Oebufu menjadi contoh nyata bagaimana keberagaman dapat dirawat menjadi kekuatan bersama.
“Motto malam ini sangat indah, berbeda tetapi satu. Persatuan bukan berarti menjadi sama, tetapi mampu berjalan bersama walaupun berbeda. Inilah kekuatan yang harus terus kita jaga di Kota Kupang,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Sinode GMIT, Pdt. Semuel Benjamin Pandie, S.Th., menegaskan bahwa Bulan Budaya GMIT bukan hanya agenda tahunan, melainkan bagian dari upaya gereja merawat jati dirinya sebagai gereja yang tumbuh di tengah kekayaan budaya Nusantara.
“GMIT adalah gereja Nusantara. Melalui Bulan Budaya, kita belajar bahwa budaya dan Injil dapat berjalan bersama dalam membangun kemanusiaan, persaudaraan, dan persekutuan,” ungkapnya.
Ketua Panitia Bulan Budaya GMIT Maranatha Oebufu Tahun 2026, Martin Manafe menyampaikan rasa syukur atas suksesnya seluruh rangkaian kegiatan yang telah berlangsung sejak awal Mei. Selain menjadi sarana pelestarian budaya, kegiatan ini juga memberikan ruang bagi generasi muda untuk mengenal akar budayanya serta mendukung pertumbuhan ekonomi jemaat melalui keterlibatan pelaku UMKM.
Malam penutupan berlangsung semarak dengan berbagai pertunjukan budaya dari beragam etnis, tarian tradisional, pujian, serta pameran UMKM yang menampilkan kekayaan budaya Nusa Tenggara Timur.
Suasana kebersamaan yang tercipta sepanjang kegiatan menjadi simbol kuat bahwa keberagaman bukanlah alasan untuk terpisah, melainkan kekuatan untuk terus melangkah bersama dalam membangun Kota Kupang yang harmonis dan inklusif. ***






