Suarantt.id, Kupang-Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Nusa Tenggara Timur (NTT) dinilai masih berada pada tahap rintisan sehingga membutuhkan pendampingan yang lebih terintegrasi, mulai dari proses perencanaan hingga pasca penjualan.
Hal ini disampaikan Pengamat sekaligus Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang, Roland Fanggidae, dalam kegiatan SAnte-SAnte Duduk ba Omong deng meDia (Sasando Dia) bertema Sinergi Stabilitas dan Penguatan Pertumbuhan Ekonomi NTT Tahun 2026 di Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) NTT pada Senin (2/3/2026).
Roland mengatakan, secara umum kondisi ekonomi NTT saat ini berada dalam periode yang optimistis. Pertumbuhan ekonomi menunjukkan tren positif dan inflasi relatif terkendali. Namun demikian, masih terdapat sejumlah pekerjaan rumah (PR) yang perlu menjadi perhatian bersama, salah satunya penguatan sektor UMKM.
“UMKM kita di NTT sebagian besar masih bersifat rintisan. Mereka baru mulai tumbuh, masih mencari bentuk produk dan merek, serta belum terlalu dikenal pasar. Kalau dibiarkan bertarung di pasar yang lebih luas tanpa penguatan, tentu akan sulit bersaing,” ujarnya.
Menurutnya, langkah Pemerintah Provinsi NTT menghadirkan NTT Mart sebagai ruang pemasaran produk lokal merupakan terobosan yang patut diapresiasi. Namun, ia menilai peran tersebut perlu diperluas.
“NTT Mart jangan hanya menjadi tempat menjual produk. Harus dilihat kembali agar bisa berfungsi sebagai inkubator UMKM. Dalam konsep inkubator, pendampingan dimulai dari perencanaan usaha, proses produksi, pengemasan, pemasaran, hingga layanan purna jual,” jelasnya.
Roland menegaskan, pengembangan UMKM tidak cukup hanya dengan memberikan akses permodalan, baik melalui perbankan maupun bantuan pemerintah. Ia menilai literasi keuangan harus berjalan beriringan agar pinjaman yang diterima benar-benar digunakan untuk kegiatan produktif.
“Kita tidak bisa hanya berpikir dari sisi pemberian modal. Literasi keuangan juga harus diperkuat. Ketika pelaku UMKM menerima pinjaman, itu harus digunakan untuk kegiatan produktif yang mendorong pertumbuhan usaha, bukan untuk konsumsi,” tegasnya.
Ia berharap sinergi antara pemerintah daerah, perbankan, dan lembaga pendidikan dapat terus diperkuat agar UMKM NTT tidak hanya bertahan, tetapi mampu naik kelas dan berkontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi daerah pada 2026 dan tahun-tahun mendatang. ***





