Emi Nomleni, Representasi Srikandi Modern dari NTT di Anugerah Srikandi Indonesia

oleh -787 Dilihat
Ketua DPRD Provinsi NTT, Emelia Julia Nomleni Railih Anugerah Srikandi Indonesia 2025 dari KompasTV. (Foto Istimewa)

Suarantt.id, Kupang-Nama Emelia Julia Nomleni kembali mengharumkan Nusa Tenggara Timur (NTT) di tingkat nasional. Ketua DPRD Provinsi NTT itu dianugerahi Anugerah Srikandi Indonesia 2025 (ASRI 2025) dari KompasTV dalam kategori Penggerak Pemberdayaan Perempuan dalam Kepemimpinan. Penghargaan bergengsi tersebut diserahkan di Menara Kompas, Jakarta, Senin (15/12/25).

Emilia, yang akrab disapa Emi atau Ma Emi, menjadi satu-satunya perempuan asal NTT yang menerima penghargaan nasional tersebut. ASRI 2025 menempatkan Emi sejajar dengan tokoh-tokoh perempuan Indonesia yang dinilai berhasil menghadirkan kepemimpinan yang berintegritas, inklusif, serta memberi dampak nyata bagi masyarakat.

KompasTV memberikan penghargaan ini sebagai bentuk apresiasi atas konsistensi, ketekunan, dan perjuangan Emi bersama perempuan-perempuan NTT dalam mendorong kesetaraan, keadilan, dan keterlibatan aktif perempuan dalam proses pembangunan.

ASRI 2025 sendiri merupakan ajang penghargaan bagi para pemimpin perempuan yang tidak hanya menduduki jabatan strategis, tetapi juga mampu menjadi inspirasi lintas generasi, merepresentasikan sosok Srikandi modern yang tangguh, cerdas, mandiri, dan berdaya.

Menerima penghargaan tersebut, Emi menyampaikan rasa terima kasihnya dengan penuh kerendahan hati. Ia menilai penghargaan ini sebagai bentuk kepedulian terhadap kerja-kerja perempuan yang selama ini kerap luput dari sorotan publik.

“Terima kasih karena masih ada kepedulian terhadap kerja-kerja perempuan yang sering kali tidak terlihat dan tidak terpublikasi,” ujar Emi. Ia juga menegaskan bahwa penghargaan tersebut mencerminkan independensi KompasTV dalam menilai kiprah perempuan Indonesia.

Bagi Emi, momentum Hari Ibu bukan sekadar simbol kasih sayang, melainkan pengingat akan sejarah panjang perjuangan perempuan Indonesia sejak Kongres Perempuan tahun 1928. Ia menekankan bahwa perempuan hadir bukan untuk bersaing dengan laki-laki, tetapi untuk memperkuat pembangunan yang adil dan berkelanjutan.

“Semua jabatan bisa ditempati perempuan. Kehadiran perempuan adalah tentang memperkaya perspektif dan memperkuat proses,” tegasnya.

Dalam refleksinya, kader PDI Perjuangan itu juga menyoroti masih tingginya kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di NTT. Menurutnya, persoalan tersebut tidak bisa dibebankan hanya kepada perempuan.

“Pelaku kekerasan sebagian besar adalah laki-laki. Maka yang harus diajak berubah dan sadar juga adalah laki-laki,” ujarnya lugas.

Ia menambahkan, penindakan hukum saja tidak cukup tanpa pencegahan berbasis kesadaran keluarga. “Pencegahan dimulai dari rumah, ketika laki-laki sadar bahwa perempuan adalah ibu, istri, anak, dan saudara mereka,” katanya.

Di balik posisinya sebagai Ketua DPRD NTT dua periode, Emi dikenal tetap tampil sederhana dan jauh dari citra politisi elitis. Konsistensi, integritas, serta komitmennya pada pelayanan publik membuatnya dipercaya masyarakat selama lima periode politik sebuah pencapaian yang tidak mudah bagi perempuan di tengah budaya politik yang masih patriarkal.

Penghargaan ASRI 2025 menjadi penegasan bahwa kiprah Emi Nomleni bukan hanya milik NTT, tetapi juga bagian penting dari wajah kepemimpinan perempuan Indonesia di pentas nasional. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.