Rombongan Wartawan Mitra BI NTT Kunjungi De Javasche Bank Surabaya, Ungkap Sejarah dan Keunikan Bangunan Bersejarah

oleh -1570 Dilihat
Wartawan Mitra BI NTT Kunjungi De Javasche Bank Surabaya. (Foto Hiro)

Suarantt.id, Surabaya-Rombongan wartawan mitra Bank Indonesia Perwakilan NTT melakukan kunjungan ke De Javasche Bank (DJB) Surabaya pada Jumat, 26 September 2025 yang merupakan hari kedua dalam kegiatan media gathering tersebut.

Kunjungan ini diterima oleh Risky Tayanto selaku Pengelola sekaligus Humas The Javas Bank Surabaya yang kini menjadi Kantor Bank Indonesia (BI) Perwakilan Provinsi Jawa Timur. Dalam kunjungan tersebut, para wartawan mendapat penjelasan langsung mengenai sejarah dan keunikan gedung cagar budaya yang berdiri sejak era kolonial Belanda ini.

Risky Tayanto menjelaskan, De Javasche Bank berdiri pertama kali pada 1828 di Batavia, kemudian membuka cabang di Surabaya dan Semarang pada 1829. Gedung DJB Surabaya yang kini menjadi museum memiliki tiga lantai, termasuk ruang bawah tanah yang dulunya digunakan sebagai tempat penyimpanan uang dan emas batangan.

“Bangunan ini sempat dikuasai Jepang pada 1942, kemudian kembali ke sekutu pada 1945, dan pada 1953 resmi menjadi Bank Indonesia,” ujar Risky.

Ia juga menambahkan, setelah Indonesia merdeka dan melalui Konferensi Meja Bundar (KMB) 1949, kedaulatan RI diakui sehingga seluruh aset Belanda di Indonesia secara bertahap diambil alih.

Risky menuturkan bahwa tingkat keamanan De Javasche Bank pada masanya sangat ketat. “Meskipun belum ada teknologi modern, sistem pengawasan sudah sangat maju. Ada CCTV jadul berupa kaca yang dipasang di setiap titik sehingga petugas bisa memantau pergerakan orang. Selain itu akses masuk teller juga dibatasi ketat, hanya satu orang yang bisa masuk,” paparnya.

Di ruang bawah tanah, terdapat tiga brankas besar untuk menyimpan uang, emas batangan, serta dokumen penting. Pada masanya, sekitar 60 ton emas batangan dengan berat masing-masing 13,5 kilogram sempat diungsikan ke Australia, Amerika, dan Afrika. “Pengunjung bahkan diperbolehkan melihat replika emas batangan meski tidak boleh membawanya pulang,” tambah Risky.

Gedung ini juga memiliki keunikan berupa pendingin alami atau natural air conditioning. “Belanda sudah menerapkan sistem pendingin udara alami seperti kendi tanah liat. Air ditaruh pada pagi hari agar siang tetap terasa sejuk,” jelasnya. Sistem ini mirip dengan yang digunakan di Lawang Sewu Semarang.

Selain itu, pengunjung juga bisa melihat berbagai peninggalan bersejarah seperti kursi direktur tahun 1910, pintu putar kuno, mesin penghitung dan penghancur uang, serta arsitektur khas era kolonial yang megah.

Kini, bangunan cagar budaya ini ramai dikunjungi masyarakat. Dalam sebulan, rata-rata 6.000 orang datang, mulai dari pelajar, mahasiswa, hingga wisatawan mancanegara. “Setiap tahun juga ada kunjungan dari kapal pesiar, rata-rata dua kali setahun,” kata Risky.

Dengan sejarah panjangnya, De Javasche Bank Surabaya bukan hanya menjadi saksi perjalanan ekonomi Indonesia, tetapi juga simbol transformasi sistem perbankan nasional. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.