Suarantt.id, Kupang-Di sebuah ruang pelatihan yang dipenuhi semangat para pendidik, Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Okto Naitboho, berbicara dengan nada tegas namun penuh harapan. “Selama ini kita terlalu fokus mengejar pengetahuan. Akibatnya, anak-anak kita pintar secara akademik, tapi rapuh karakter dan miskin keterampilan,” ujarnya membuka sesi bimbingan teknis bagi ratusan guru Sekolah Dasar (SD/MI) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP/MTs) se-Kota Kupang.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari itu bertajuk “Penguatan Kapasitas Guru dalam Implementasi Pendekatan Pembelajaran Mendalam”. Tujuannya jelas: mengubah cara pandang dan praktik mengajar guru agar pembelajaran tidak berhenti di tataran hafalan, tetapi mampu menumbuhkan daya nalar, karakter, serta kepedulian siswa terhadap kehidupan di sekitarnya.
“Kalau selama ini anak ditanya bagian-bagian tumbuhan, mereka bisa jawab akar, batang, daun, bunga. Tapi berhenti di situ,” kata Okto memberi contoh. “Padahal yang kita harapkan, anak memahami pentingnya tumbuhan bagi kehidupan, lalu tumbuh kesadaran untuk menjaga dan merawat tanaman di sekitarnya. Dari situlah karakter dan cinta lingkungan terbentuk.”
Dari Ceramah ke Simulasi Nyata
Pelatihan kali ini bukan sekadar duduk mendengarkan materi. Hari pertama para peserta menerima konsep dan teori tentang pembelajaran mendalam. Hari kedua, mereka menyusun rancangan pembelajaran. Dan pada hari ketiga, mereka melakukan bird teaching — simulasi mengajar di hadapan sesama guru.
Dalam simulasi itu, para peserta bertindak sebagai murid, sementara rekan mereka mempraktikkan strategi pembelajaran yang telah disusun. “Kami ingin lihat sejauh mana antara teori dan praktiknya nyambung,” jelas Okto. “Dari situ kita bisa ukur kemampuan guru mengaplikasikan pembelajaran yang sudah diajarkan.”
Setelah pelatihan, para guru tidak berhenti di situ. Masing-masing sekolah mengutus dua orang guru untuk menjadi pelatih di sekolah asal mereka. “Mereka akan kembali dan melatih kawan-kawan guru lain di sekolah, lalu mendampingi praktik di kelas, kemudian disupervisi dan dievaluasi,” terang Okto.
Gerakan Melatih Pelatih
Pendekatan ini digagas dengan sistem berjenjang — dinas melatih pelatih, pelatih melatih guru lain, lalu guru mengajar di kelas dengan pendampingan dan evaluasi rutin. Total ada 159 SD/MI dan 66 SMP/MTs yang terlibat dalam program ini.
Untuk memastikan kualitas pelatihan, Dinas Pendidikan menggandeng fasilitator nasional dan fasilitator daerah yang sebelumnya sudah mengikuti pelatihan di tingkat pusat. “Guru-guru dan pengawas kita sudah dilatih di Jakarta. Setelah itu mereka menjadi fasilitator daerah yang kita manfaatkan untuk melatih guru-guru di Kota Kupang,” jelas Okto.
Membumikan Pembelajaran Mendalam
Lebih dari sekadar proyek peningkatan kapasitas, kegiatan ini disebut Okto sebagai langkah strategis untuk membumikan pembelajaran mendalam (deep learning) di ruang-ruang kelas. Ia berharap, perubahan paradigma ini akan melahirkan generasi yang bukan hanya cerdas dalam angka, tetapi juga tangguh dalam karakter dan terampil dalam kehidupan nyata.
“Kita ingin anak-anak kita bukan sekadar tahu, tapi paham dan mampu mengaplikasikan pengetahuan itu,” ujarnya. “Karena pengetahuan yang tidak bermakna hanya akan menghasilkan kepintaran tanpa kebijaksanaan.”
Bagi Dinas Pendidikan Kota Kupang, inilah bentuk nyata dari komitmen memperbaiki kualitas pendidikan dimulai dari guru, untuk masa depan anak-anak yang lebih bernalar, berkarakter, dan peduli pada lingkungannya. ***





