Bali, NTB dan NTT Bentuk Kerja Sama Regional untuk Masa Depan Timur Indonesia

oleh -1258 Dilihat
Gubernur NTT, Bali dan NTB Teken MoU Perkuat Pembangunan Kawasan Timur Indonesia. (Foto Biro Adpim Setda NTT)

Suarantt.id, Denpasar-Tiga gubernur dari wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), dan Nusa Tenggara Timur (NTT) sepakat membentuk Kerja Sama Regional Bali–NTB–NTT (KR-BNN) dalam pertemuan yang digelar di Denpasar, Bali, Senin (3/11/2025). Inisiatif ini menjadi langkah strategis memperkuat kolaborasi pembangunan kawasan timur Indonesia melalui sinergi antarprovinsi yang memiliki akar sejarah, budaya, dan geografis yang sama.

Pertemuan tersebut dihadiri oleh Gubernur Bali, I Wayan Koster, Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, dan Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena, bersama para kepala dinas dan biro dari ketiga provinsi.

Dalam sambutannya, Gubernur Bali, I Wayan Koster, mengapresiasi kehadiran kedua gubernur dan menegaskan bahwa kerja sama ini menjadi momentum penting untuk menghidupkan kembali semangat persaudaraan antarwilayah yang dahulu dikenal sebagai “Sunda Kecil”.

“Pertemuan ini bukan hanya untuk menjalin kerja sama teknis, tetapi juga membangkitkan semangat kebersamaan. Dari ‘Sunda Kecil’, kini kita menuju ‘Sunda Besar’ — satu kawasan yang solid dan berdaya saing,” ujar Koster disambut tepuk tangan peserta.

Koster menjelaskan, Bali siap berbagi pengalaman dalam tata kelola pembangunan berbasis kearifan lokal dengan konsep “Satu Pulau, Satu Pola, dan Satu Tata Kelola”. Ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara pembangunan ekonomi, pelestarian budaya, dan kelestarian alam.

Meski menjadi pusat pariwisata nasional, Koster mengingatkan bahwa Bali juga menghadapi tantangan seperti alih fungsi lahan, kemacetan, sampah, hingga kesenjangan wilayah. Menurutnya, kerja sama Bali–NTB–NTT akan menjadi wadah berbagi solusi dan praktik terbaik.

Sementara itu, Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, menyebut kerja sama tiga provinsi ini bukanlah hal baru, melainkan bentuk “kebersamaan yang sudah ditakdirkan” karena kesamaan geografis, ekologi, dan budaya.

“Kami di NTB memiliki kekayaan alam luar biasa — tambang, pertanian, dan kelautan — tapi belum termanfaatkan optimal. Dengan kerja sama ini, kita bisa saling belajar dan saling melengkapi,” ujarnya.

Iqbal juga mengusulkan pembangunan Super Grid Bali–Lombok–Sumbawa–Flores, untuk memperkuat konektivitas energi lintas pulau demi efisiensi dan ketahanan energi kawasan timur Indonesia.

Dari Nusa Tenggara Timur, Gubernur Emanuel Melkiades Laka Lena menekankan pentingnya kerja sama yang fokus pada sektor unggulan seperti pariwisata, industri pengolahan, energi terbarukan, dan ekonomi kreatif.

“Wilayah Bali dan Nusa Tenggara memiliki potensi besar. Jika konektivitas antar pulau diperkuat, dampak ekonominya akan luar biasa,” jelas Melki.

Ia juga menyoroti perlunya branding dan tagline bersama untuk memperkuat citra kawasan sebagai satu destinasi terpadu. Selain itu, Melki mengangkat isu tingginya harga tiket pesawat dan terbatasnya konektivitas udara antarprovinsi, yang dinilai masih menjadi hambatan utama pertumbuhan ekonomi kawasan.

Dalam konteks energi, NTT disebut telah memiliki kapasitas listrik tenaga surya sebesar 63 megawatt, yang dapat menjadi kontribusi besar bagi pengembangan energi bersih di kawasan timur.

Menutup pertemuan, Gubernur Koster secara resmi menetapkan nama inisiatif tersebut sebagai Kerja Sama Regional Bali–NTB–NTT (KR-BNN). Ia juga mengusulkan penyusunan statistik terpadu kawasan, yang mencakup data ekonomi, perdagangan, pariwisata, energi, dan sumber daya manusia, sebagai dasar perencanaan dan evaluasi kolaborasi.

“Kita perlu memiliki statistik bersama agar arah pembangunan lebih terukur dan berkelanjutan. Dengan data yang sinkron, kerja sama ini akan menjadi fondasi kuat bagi masa depan kawasan,” ujar Koster.

Sebagai langkah konkret, disepakati akan dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) pada 25 November 2025 di NTB, dan dilanjutkan dengan Perjanjian Kerja Sama (PKS) pada 22 Desember 2025 di NTT.

BACA JUGA:  Melki Laka Lena: IPACS Bukan Sekadar Pertemuan Budaya, Tapi Diplomasi Jiwa dan Kearifan Lokal

Selain itu, ketiga gubernur juga sepakat untuk mengidentifikasi 25 komoditas utama yang paling banyak diimpor dari luar kawasan guna mendorong pemenuhan kebutuhan dari dalam kawasan sendiri.

Pertemuan bersejarah ini menandai babak baru kebangkitan kawasan Bali dan Nusa Tenggara — dari semangat “Sunda Kecil” menuju kerja sama regional modern yang siap mendorong pertumbuhan ekonomi, sosial, dan budaya di Indonesia bagian Timur. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.