Dari Mimpi Menjadi Nyata: Gubernur Melki Laka Lena Resmikan Rumah Sakit Pratama Solor, Harapan Baru Warga Pulau Terluar

oleh -219 Dilihat
Gubernur NTT Tanda Tangan Prasasti Peresmian Gedung RSP Solor pada Rabu, 5 November 2025. (Foto Biro Adpim Setda NTT)

Suarantt.id, Larantuka-Pulau Solor di ujung timur Nusa Tenggara Timur pagi itu tampak lebih hidup dari biasanya. Langit cerah, debur ombak bersahut dengan sorak warga yang memadati halaman Rumah Sakit Pratama (RSP) Solor di Desa Lewohedo, Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur. Setelah bertahun-tahun menunggu, masyarakat akhirnya menyaksikan momen bersejarah peresmian rumah sakit pertama di pulau mereka oleh Gubernur Nusa Tenggara Timur, Emanuel Melkiades Laka Lena, pada Rabu (5/11/2025).

Kehadiran Gubernur Melki disambut hangat dengan ritual adat khas masyarakat Pulau Solor. Iringan gong, tarian penyambutan, dan senyum penuh harap warga menjadi tanda bahwa hari itu bukan sekadar seremonial, melainkan perayaan akan terwujudnya mimpi panjang: menghadirkan layanan kesehatan yang layak di pulau yang selama ini bergulat dengan keterbatasan.

“RSP Solor bukan sekadar bangunan fisik, tetapi simbol hadirnya negara di pulau-pulau terluar. Pelayanan kesehatan sejati itu menjangkau, bukan menunggu,” tegas Gubernur Melki dalam sambutannya.

Perjuangan yang Panjang

Pendirian Rumah Sakit Pratama di Pulau Solor bukanlah proses yang singkat. Ide ini mulai bersemi ketika Melki Laka Lena masih menjabat sebagai Wakil Ketua Komisi IX DPR RI. Melihat kondisi masyarakat yang harus menyeberang ke Larantuka atau bahkan ke Maumere untuk mendapatkan layanan medis yang memadai, Melki memperjuangkan agar pemerintah pusat melalui Kementerian Kesehatan menaruh perhatian serius terhadap wilayah kepulauan.

Upaya itu akhirnya membuahkan hasil. Pada 31 Juli 2024, pembangunan RSP Solor resmi dimulai, ditandai dengan peletakan batu pertama. Setahun kemudian, bangunan megah berkapasitas 40 tempat tidur ini berdiri tegak di tanah yang dulunya hanya berupa hamparan ladang dan semak belukar. Kini, bangunan berwarna putih dengan atap merah itu menjadi simbol baru kemajuan di Pulau Solor.

BACA JUGA:  Sambut HUT NTT 2025, Pemprov Bakal Gelar Pameran Pembangunan di 10 Kabupaten

Jembatan Kesehatan untuk Pulau Terluar

Dalam kesempatan itu, Gubernur Melki menegaskan bahwa RSP Solor akan berfungsi sebagai penghubung antara layanan dasar di puskesmas dan layanan rujukan di rumah sakit kabupaten atau provinsi. “Kami sedang membangun sistem layanan terpadu agar masyarakat di semua pulau memperoleh akses cepat, baik melalui transportasi laut, telemedisin, maupun sistem rujukan digital,” ujarnya.

Menurutnya, kehadiran rumah sakit ini adalah bagian dari visi besar Pemerintah Provinsi NTT untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal dalam hal akses layanan kesehatan—dari Solor, Rote, dan Sabu hingga Adonara, Lembata, Alor, Flores, Sumba, dan Timor.

Wujud Gotong Royong dan Ketulusan

Pembangunan rumah sakit ini juga tidak terlepas dari dukungan masyarakat Lewohedo. Warga dengan tulus menyerahkan lahan demi kepentingan bersama. Gubernur Melki pun menyampaikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat—Pemerintah Kabupaten Flores Timur, tenaga kesehatan, tokoh adat dan agama, serta seluruh masyarakat yang bekerja tanpa pamrih.

“Terima kasih kepada masyarakat Lewohedo yang dengan tulus menyerahkan tanahnya untuk kebaikan bersama. Ini bukti nyata bahwa pembangunan bukan hanya tentang pemerintah, tapi juga tentang hati dan kebersamaan,” ungkapnya.

Harapan Baru dari Ujung Timur

Peresmian RSP Solor menandai langkah maju dalam pemerataan pelayanan kesehatan di wilayah kepulauan NTT. Kini, masyarakat tidak lagi harus menyeberang dengan perahu di tengah ombak hanya untuk mendapatkan pertolongan medis.

Maria Laga, warga Desa Lewohedo, menuturkan rasa harunya. “Dulu kalau anak sakit, kami panik karena harus tunggu kapal untuk ke Larantuka. Sekarang rumah sakit sudah ada di sini, kami merasa lebih aman,” katanya dengan mata berkaca-kaca.

Bagi masyarakat Pulau Solor, RSP bukan sekadar fasilitas kesehatan, melainkan wujud kehadiran negara yang selama ini hanya mereka dengar dari berita. Dari mimpi panjang yang perlahan terkubur oleh jarak dan keterbatasan, kini muncul harapan baru bahwa pelayanan kesehatan yang layak bukan lagi hak istimewa, melainkan kenyataan di depan mata.

BACA JUGA:  Pakar Hukum Tata Negara Sebut Pemberhentian Kadis Dukcapil TTU Melanggar Hukum

Di ujung timur NTT, di antara laut dan langit biru, berdiri megah sebuah rumah sakit yang lahir dari perjuangan dan kasih. RSP Solor kini menjadi saksi bahwa ketika niat baik bertemu tekad kuat, mimpi masyarakat kecil bisa benar-benar menjadi nyata. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.