Suarantt.id, Kupang-Festival Budaya Penkase Oeleta di Kecamatan Alak, Kota Kupang, sukses menghadirkan kemeriahan sekaligus dampak ekonomi bagi masyarakat setempat. Kegiatan yang digelar selama tiga hari, mulai 29 April hingga 1 Mei 2026 dalam rangka memeriahkan HUT Kota Kupang ke-140 dan ke-30 sebagai daerah otonom ini menjadi bukti bahwa wilayah pinggiran kota pun mampu menghadirkan gaung budaya yang kuat dan bernilai ekonomi.
Camat Alak, Amransius Yolah, menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya festival budaya tersebut. Ia menilai kegiatan ini bukan sekadar hiburan, melainkan juga menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat.
“Walaupun kita berada di pinggiran kota, gaung kita harus tetap terdengar. Festival ini sangat menghibur masyarakat sekaligus membantu mendorong ekonomi lokal,” ujarnya ketika memberi sambutan pada penutupan acara Festival Budaya Kelurahan Penkase Oeleta 2026 pada Jumat, 1 Mei 2026 malam.
Dia menegaskan, ke depan festival budaya seperti ini perlu dijadikan ikon Kota Kupang dalam memperkuat sektor ekonomi kreatif berbasis budaya. Selain itu, ia juga mendorong agar kegiatan serupa terus dikembangkan setiap tahun sebagai upaya melestarikan warisan budaya daerah sekaligus meningkatkan daya saing antarwilayah.
Apresiasi khusus juga diberikan kepada Lurah Penkase Oeleta, Peter Nenohaifeto, bersama seluruh panitia yang dinilai berhasil menghadirkan momentum berharga bagi masyarakat.
Tak hanya soal budaya, Amransius juga menyoroti pentingnya pengembangan potensi wilayah Alak, khususnya sektor UMKM yang dinilai memiliki peluang besar untuk terus tumbuh jika didukung semangat kolaborasi masyarakat.
Dalam kesempatan itu, ia turut menyinggung kondisi infrastruktur jalan yang masih menjadi kendala. Ia mengajak masyarakat untuk tidak hanya bergantung pada bantuan pemerintah, tetapi juga membangun semangat swadaya.
“Kita tidak bisa hanya menunggu. Mari bergandeng tangan, lakukan swadaya demi rasa aman dan kenyamanan, sambil menunggu bantuan pemerintah. Karena saat ini anggaran kita masih di tengah efisiensi,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua LPM Kelurahan Penkase Oeleta, Ngahu Riwu Kaho, menjelaskan bahwa festival ini diikuti oleh 10 RW dari total 38 RT yang tersebar di wilayah tersebut. Sebanyak 10 stan turut meramaikan kegiatan dengan menampilkan aneka kuliner dan kerajinan khas dari masing-masing RW.
Ia menyebutkan, jumlah stan disesuaikan dengan jumlah RW. Namun, ke depan terdapat usulan dari para ketua RT agar setiap RT dapat memiliki stan sendiri, mengingat potensi UMKM yang cukup banyak dan beragam.
Ketua Panitia, Imanuel Absoni Ratu Dally, menambahkan bahwa festival ini dikemas dalam bentuk karnaval budaya yang mencerminkan keberagaman masyarakat Penkase Oeleta.
“Di sini ada berbagai suku, etnis, ras, dan agama. Karena itu kami kemas dalam bentuk karnaval budaya yang melibatkan semua kalangan, mulai dari TK, SD, SMP, SMA, SMK hingga perguruan tinggi,” jelasnya.
Ia berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan lebih sering, bahkan dua kali dalam setahun, agar dampak ekonomi bagi masyarakat semakin terasa. Evaluasi juga akan dilakukan untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan di masa mendatang.
Suasana penutupan festival berlangsung meriah dan penuh antusiasme warga. Camat Amransius bahkan menyebut, jika penutupan sudah berlangsung semarak, maka pembukaan di masa mendatang harus lebih spektakuler.
Ke depan, pemerintah kecamatan berharap Festival Budaya Penkase Oeleta terus berkembang dan mendapat dukungan lebih luas, termasuk kehadiran Wali Kota Kupang pada pembukaan kegiatan di tahun berikutnya.
Festival ini menjadi bukti nyata bahwa budaya, ekonomi, dan kepedulian sosial dapat berjalan beriringan, sekaligus memperkuat identitas lokal di tengah perkembangan Kota Kupang. ***





