Festival Bonsai RUBI Jilid 4 Resmi Dibuka, Taman Nostalgia Jadi Ruang Kreativitas Anak Muda dan UMKM Kota Kupang

oleh -355 Dilihat
Sekertaris Daerah Kota Kupang, Jeffry Edward Pelt Buka Festival Bonsai RUBI Jilid 4 di Taman Nostalgia Kupang. (Foto Hiro)

Suarantt.id, Kupang-Taman Nostalgia Kupang sore itu (Kamis, 20/11/25) berubah menjadi ruang seni terbuka. Deretan bonsai dengan bentuk dan karakter yang unik berdiri anggun, seolah mengundang setiap pengunjung untuk berhenti sejenak dan menyimak cerita yang tersimpan di balik lekuk batang dan pot kecilnya. Di sinilah Festival dan Pameran Bonsai RUBI (Rumah Budaya Indonesia) Cabang NTT Jilid 4 resmi dibuka sebuah perayaan yang mempertemukan seni, hobi, kreativitas anak muda, dan denyut ekonomi kota.

Mewakili Wali Kota Kupang, Sekretaris Daerah Kota Kupang Jeffry Pelt hadir membuka acara dengan suasana hangat dan penuh kedekatan. Ia memuji kreativitas para pegiat bonsai yang menurutnya bukan hanya menghasilkan karya seni, tetapi juga menggambarkan falsafah penting untuk pembangunan kota.

“Bonsai itu falsafah,” ujarnya sambil tersenyum kepada para peserta. “Telaten, serius, dan setia. Kalau dirawat dengan sungguh-sungguh, ia akan menjadi indah. Semangat itulah yang sedang kita bangun di Kota Kupang komitmen telaten untuk menciptakan kota yang lebih baik ke depan.”

Jeffry menegaskan bahwa Pemerintah Kota Kupang terus membuka ruang bagi kreativitas masyarakat, terutama anak muda. Festival seperti ini dianggap mampu menjadi wadah bagi mereka yang ingin menekuni hobi sekaligus berjejaring dengan komunitas lain.

“Kita akan terus mendukung anak-anak muda dalam menekuni hobi yang mereka miliki,” katanya. “Ruang seperti ini harus terus hidup di Kota Kupang.”

Di tengah sambutan, Jeffry sempat melontarkan candaan yang mengundang tawa. Ia bercerita tentang hobinya berburu yang membuatnya jarang menemukan bonsai di hutan. “Saya lihat ke atas karena cari rusa, bukan lihat ke bawah,” selorohnya. Ia mengaku memiliki beberapa bonsai di rumah hadiah dari sahabat-sahabat pecinta bonsai yang lebih tekun darinya.

BACA JUGA:  Momentum Bersejarah, Wali Kota Kupang Ajak PPPK Paruh Waktu Bekerja dengan Tanggung Jawab

Festival ini bukan sekadar pameran tanaman miniatur. Bagi Jeffry, ini adalah momentum bagi masyarakat untuk mengenal lebih dekat seni bonsai, sekaligus menghubungkan generasi seni, komunitas, dan masyarakat umum yang selama ini bergerak sendiri-sendiri. Karena itu, ia meminta agar narasi festival dipromosikan lebih luas melalui berbagai saluran, termasuk Kominfo dan pengeras suara keliling kota.

Ketua Harian RUBI Cabang NTT, Fery Tui, menambahkan bahwa perjalanan festival ini sudah melalui proses panjang. Sejak 2022 hingga 2024, pameran selalu digelar di kantor gubernur. Baru pada 2025, festival dibawa ke Taman Nostalgia ruang publik terbuka yang lebih dekat dengan masyarakat luas.

“Harapan kami, komunitas pemuda pecinta bonsai di Kota Kupang bisa mendapat dukungan penuh dari pemerintah,” ujar Fery. “Selama ini kami berjalan sendiri-sendiri. Dengan hadirnya pemerintah, kami yakin ruang tumbuh bagi pecinta bonsai bisa semakin lebar.”

Para peserta festival datang dengan membawa bonsai yang sudah mereka rawat bertahun-tahun. Setiap pohon memiliki kisahnya masing-masing tentang perjalanan mencari bibit ke pelosok daerah, tentang gagal tumbuh lalu mencoba lagi, hingga tentang kesabaran membentuk batang agar melengkung sesuai karakter yang diinginkan. Pengunjung yang datang tak hanya keluarga dan kolektor lama, tetapi juga anak-anak muda yang baru mengenal seni bonsai dan ingin belajar lebih jauh.

Selain memamerkan kreativitas, festival ini juga menggerakkan ekonomi lokal. Sejak pembukaan, pedagang kecil mulai menata dagangan, UMKM hadir di sisi area pameran, dan arus pengunjung yang terus berdatangan memberi warna baru bagi kawasan Taman Nostalgia. Inilah saat ketika seni dan ekonomi saling menghidupkan, menghadirkan harmoni yang jarang ditemui di ruang kota.

Festival Bonsai RUBI Jilid 4 berlangsung hingga Sabtu, namun jejaknya mungkin jauh lebih panjang. Ia meninggalkan kesan bahwa seni bisa menjadi perekat sosial, bahwa hobi bisa menjadi peluang, dan bahwa sebuah bonsai kecil dapat menggambarkan harapan besar bagi pertumbuhan Kota Kupang. (Penulis/ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.