Menapak Enam Pulau, Menyuarakan Asa: Kisah Frans Lumentut Membuka Wajah Pendidikan Pedalaman NTT

oleh -161 Dilihat
Gubernur NTT Melki Laka Lena Didampingi Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT Ambrosius Kodo Beraudiensi dengan Frans Lumentut. (Foto Biro Adpim Setda NTT)

Suarantt.id, Kupang-Langkah itu tidak selalu mudah. Menyusuri jalanan berbatu, menembus panas terik, hingga melintasi desa-desa terpencil yang jauh dari hiruk pikuk kota. Namun bagi Frans Lumentut, setiap jejak kaki yang ia tinggalkan di tanah Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah suara-suara bagi anak-anak yang selama ini nyaris tak terdengar.

Selama 46 hari, Frans berjalan kaki sejauh kurang lebih 945 kilometer, melintasi enam pulau: Rote, Solor, Adonara, Lembata, Alor, dan Pantar. Perjalanan panjang itu bukan sekadar aksi fisik, melainkan misi sosial untuk membuka mata banyak pihak tentang realitas pendidikan di pedalaman NTT.

Perjalanan itu bermuara di ruang kerja Gubernur NTT, Emanuel Melkiades Laka Lena. Dalam audiensi yang berlangsung Kamis (16/4/2026), Frans menyampaikan langsung berbagai temuan yang ia kumpulkan dari lapangan tentang anak-anak yang harus berjalan jauh untuk sekolah, tentang guru yang berjuang dalam keterbatasan, hingga tentang desa-desa yang belum tersentuh fasilitas pendidikan memadai.

Gubernur Melki menyambut kisah itu dengan penuh apresiasi. Ia menilai apa yang dilakukan Frans bukan hanya aksi kemanusiaan, tetapi juga bentuk nyata kepedulian yang mampu membuka perspektif baru bagi pemerintah.

“Ini aksi nyata yang sangat membantu membuka mata kita semua tentang kondisi riil di lapangan,” ujarnya.

Menurutnya, pendekatan yang dilakukan Frans menyusuri langsung desa-desa dengan berjalan kaki memberikan gambaran utuh tentang tantangan yang dihadapi masyarakat.

Ia pun mendorong jajarannya untuk tidak hanya mengandalkan kunjungan seremonial, tetapi benar-benar hadir dan merasakan langsung kehidupan warga.

“Turun lebih jauh, jalan kaki, supaya kita bisa lihat langsung kondisi masyarakat,” tegasnya.

Bagi Frans, perjalanan ini adalah panggilan hati. Bersama Yayasan Nyata Foundation, ia menggalang dukungan untuk pendidikan anak-anak dari keluarga kurang mampu di wilayah terpencil.

BACA JUGA:  Gubernur NTT: KUR Jadi Motor Penggerak Ekonomi Rakyat di Daerah

Yayasan tersebut telah membantu ribuan anak asuh dan puluhan sekolah di NTT, termasuk mendukung kesejahteraan guru. Namun di balik angka-angka itu, ada cerita-cerita yang tak mudah dilupakan.

Di beberapa desa, Frans menemukan kenyataan bahwa sekolah hanya tersedia sampai tingkat dasar. Anak-anak yang ingin melanjutkan pendidikan harus pergi ke desa lain, bahkan ke kota, dengan biaya yang tidak sedikit. Tak sedikit dari mereka akhirnya memilih berhenti sekolah.

“Semangat mereka tinggi, tapi aksesnya yang terbatas,” ungkap Frans.

Ia juga menyoroti kondisi infrastruktur jalan yang mempersulit akses pendidikan, serta kesejahteraan guru yang masih jauh dari ideal. Semua itu, menurutnya, saling berkaitan dan berdampak langsung pada kualitas pendidikan di daerah.

Tak hanya pendidikan, Frans juga melihat persoalan lingkungan yang mengkhawatirkan. Minimnya sistem pengelolaan sampah membuat sebagian warga masih membuang sampah di lereng bukit atau laut, terutama sampah plastik.

Namun di tengah berbagai keterbatasan itu, Frans justru menemukan kekuatan yang luar biasa: solidaritas masyarakat.
Ia bercerita, selama perjalanan, pintu-pintu rumah selalu terbuka untuknya. Warga, tokoh agama, hingga aparat desa menyambutnya dengan hangat, menyediakan tempat tinggal dan makanan, bahkan memberi semangat untuk terus melangkah.

“Mereka hidup sederhana tapi bahagia. Itu yang sangat menyentuh,” katanya.

Salah satu momen paling membekas baginya adalah melihat anak-anak berangkat ke sekolah setiap pagi. Dengan sepatu, sandal, atau bahkan tanpa alas kaki, mereka tetap berjalan penuh semangat.
Pemandangan itulah yang membuat Frans terus melangkah.

“Ada harapan di mata mereka. Itu yang membuat saya tidak berhenti,” ujarnya.

Frans percaya, pendidikan adalah kunci untuk mengubah masa depan. Ia berharap, melalui perjalanan ini, semakin banyak pihak yang tergerak untuk peduli dan berkontribusi.

BACA JUGA:  Dari Pekarangan Hingga Pasar Tani, Pemprov NTT Bangun Ketahanan Pangan Berkelanjutan

Sementara itu, Gubernur Melki memastikan bahwa berbagai temuan tersebut akan menjadi bahan evaluasi dalam penyusunan kebijakan ke depan. Ia menegaskan pentingnya kerja bersama antara pemerintah dan masyarakat untuk menjawab tantangan pendidikan di NTT.

Kisah ini bukan sekadar tentang perjalanan 945 kilometer. Ini adalah cerita tentang harapan yang diperjuangkan, tentang ketimpangan yang disuarakan, dan tentang langkah kecil yang bisa membawa perubahan besar bagi anak-anak di ujung timur Indonesia. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.