Suarantt.id, Oelamasi-Seekor dugong ditemukan terdampar dalam keadaan mati di Pantai Tanah Merah, Desa Tanah Merah, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Jumat (7/2/2025). Dugong tersebut memiliki panjang sekitar dua meter dan berat diperkirakan antara 300 hingga 500 kilogram. Lokasi temuan berada di dalam hutan mangrove yang hanya dapat diakses menggunakan perahu motor.
Saat ditemukan, kondisi mamalia laut yang dilindungi ini sudah membusuk di bagian perut dan kepala serta mengeluarkan bau menyengat. Pada Sabtu (8/2/2025), tim dari Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) NTT yang dibantu warga setempat menarik bangkai dugong tersebut dengan tali untuk dikuburkan sejauh 20 meter dari lokasi temuan.
Kepala BBKSDA NTT, Arief Mahmud, melalui Kepala Bidang Teknis Konservasi Sumber Daya Alam, Dadang Suryana, menjelaskan bahwa mamalia laut tersebut pertama kali ditemukan oleh masyarakat setempat.
“Informasi dari masyarakat bahwa dugong ini ditemukan sejak kemarin dalam keadaan mati,” ujar Dadang di lokasi.
Menurut Dadang, dugong merupakan salah satu satwa yang dilindungi dan diperkirakan sudah mati lebih dari 24 jam sebelum ditemukan. Karena kondisinya yang sudah membusuk, tim BBKSDA tidak melakukan nekropsi untuk mengetahui penyebab kematian.
“Kami juga sudah berkoordinasi dengan tim BPSPL, BKKPN, serta Fakultas Kedokteran Hewan Undana untuk mengambil sampel, tetapi kondisinya tidak memungkinkan lagi sehingga kami tidak lakukan nekropsi,” jelasnya.
Dadang menambahkan bahwa dugong sering ditemukan di Teluk Kupang, terutama di sekitar Pulau Semau dan Pantai Tanah Merah. Namun, populasinya terancam punah dan intensitas kemunculannya semakin jarang.
“Hasil monitoring kami memang dugong terkadang ditemukan di Teluk Kupang dan sekitarnya,” ungkap Dadang.
Ini bukan pertama kalinya dugong terdampar di wilayah Kupang. Pada 2024, kasus serupa terjadi di Pantai Sulamu dengan kondisi yang sama, yakni sudah membusuk sehingga tidak memungkinkan untuk penelitian lebih lanjut.
Sementara itu, Ketua Kelompok Konservasi Mangrove Dalek Esa, Jhoni Messakh, menyebutkan bahwa penemuan dugong di Pantai Tanah Merah menjadi peristiwa langka yang menghebohkan warga setempat.
“Ini baru pertama kali dugong terdampar di Pantai Tanah Merah, sehingga sempat heboh,” ungkap pria berusia 48 tahun itu.
Jhoni menambahkan bahwa satwa dilindungi yang lebih sering terlihat di kawasan tersebut adalah penyu, terutama saat musim bertelur.
“Biasanya di sini hanya penyu yang sering terlihat saat mau bertelur,” pungkasnya.
BBKSDA NTT berharap masyarakat terus berperan aktif dalam menjaga kelestarian ekosistem laut dan segera melaporkan apabila menemukan satwa dilindungi dalam kondisi yang tidak biasa. ***






