Suarantt.id, Kupang-Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) mencatat inflasi bulanan sebesar 0,96 persen pada Juli 2025, setelah sebelumnya mengalami deflasi pada Mei dan Juni masing-masing sebesar 0,40 persen dan 0,11 persen. Hal ini disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi NTT, Matamira Kale, dalam jumpa pers yang digelar Jumat, 1 Agustus 2025.
“Di Juli 2025, NTT mengalami inflasi, ini terjadi setelah Mei dan Juni sebelumnya terjadi deflasi,” ujar Matamira.
Inflasi bulan Juli dipengaruhi oleh kenaikan harga pada tujuh dari sebelas kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman, dan restoran memberikan andil tertinggi dengan inflasi sebesar 1,97 persen dan kontribusi terhadap inflasi umum sebesar 0,74 persen. Kelompok transportasi berada di urutan kedua dengan inflasi sebesar 1,49 persen dan andil 0,20 persen.
Sebaliknya, dua kelompok pengeluaran tercatat mengalami deflasi, yakni kelompok kesehatan (-0,05 persen) serta kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga (-0,05 persen), masing-masing menahan inflasi sebesar -0,01 persen.
Secara tahunan (year-on-year), inflasi NTT pada Juli 2025 mencapai 3,03 persen, meningkat tajam dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang tercatat 1,72 persen. Inflasi tahun kalender (Januari–Juli 2025) tercatat sebesar 2,01 persen.
Beberapa komoditas utama penyumbang inflasi Juli 2025 antara lain ikan tongkol (0,28 persen), daging ayam ras (0,18 persen), angkutan udara (0,17 persen), cabai rawit (0,15 persen), dan tomat (0,11 persen). Kenaikan harga sejumlah komoditas tersebut dipicu oleh gangguan pasokan yang berkaitan dengan kondisi cuaca.
Sementara itu, komoditas yang menahan laju inflasi bulan Juli di antaranya rempah-rempah (0,04 persen), sabun mandi (0,03 persen), kol putih (0,02 persen), bayam (0,01 persen), dan jeruk nipis (0,01 persen).
Matamira juga menambahkan bahwa inflasi tahunan dipicu oleh kenaikan harga pada sembilan dari sebelas kelompok pengeluaran. “Kelompok makanan memberikan andil tertinggi sebesar 5 persen, diikuti kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,51 persen,” jelasnya.
Komoditas dengan andil terbesar terhadap inflasi tahunan adalah cabai rawit (0,58 persen), emas perhiasan (0,44 persen), bawang merah, kopi bubuk, dan daging ayam ras. Sementara itu, beberapa komoditas mengalami deflasi seperti tempe (-0,03 persen), angkutan laut (-0,03 persen), dan telur ayam ras (-0,08 persen).
Dari sisi wilayah, inflasi bulanan terjadi di seluruh daerah pemantauan di NTT. Kota Kupang mencatat inflasi bulanan tertinggi sebesar 1,21 persen, disusul Maumere dan Atambua. Inflasi terendah tercatat di Waingapu sebesar 0,47 persen. Secara tahunan, inflasi tertinggi juga terjadi di Kota Kupang dengan 5,01 persen, sedangkan Waingapu mencatatkan inflasi tahunan sebesar 4,02 persen.
Menariknya, berdasarkan data historis, sebagian besar wilayah di NTT pada Juli tahun sebelumnya justru mengalami deflasi. Kondisi ini menandakan perubahan tren menjadi inflasi yang cukup signifikan pada Juli 2025. ***





