Suarantt.id, Kupang-Di tengah padatnya permukiman Kelurahan Oesapa Barat, Kecamatan Kelapa Lima, ternyata tersimpan oase hijau yang meneduhkan mata dan menumbuhkan harapan. Bukan di ladang luas atau kebun desa, tetapi di halaman belakang Gereja GMIT Jemaat Betlehem Oesapa Barat, di mana warga jemaat bersama-sama menanam sayur-mayur untuk mendukung ketahanan pangan keluarga.
Lurah Oesapa Barat, Christian E. Chandra, mengakui bahwa wilayah yang dipimpinnya tidak memiliki lahan pertanian yang memadai. Hampir seluruh area kelurahan telah dipadati oleh pemukiman warga dan bangunan usaha, sehingga sulit mencari ruang terbuka untuk bertani.
“Untuk pengembangan pertanian terus terang kami tidak mempunyai lahan karena wilayah Kelurahan Oesapa Barat cukup padat penduduknya. Tapi kami bersyukur, pihak GMIT Jemaat Betlehem Oesapa Barat berinisiatif memanfaatkan halaman belakang gereja menjadi kebun pertanian,” ujar Christian.
Dari Halaman Gereja Menjadi Ladang Berkah
Berawal dari kepedulian terhadap ketersediaan pangan di tengah kenaikan harga bahan pokok, jemaat Betlehem Oesapa Barat memutuskan untuk memanfaatkan lahan kosong di belakang gereja. Dengan memanfaatkan sumur bor sebagai sumber air, mereka menanam berbagai tanaman hortikultura seperti kangkung, sawi, tomat, cabai, dan sayuran lain yang mudah dirawat namun bernilai ekonomi tinggi.
“Mereka membentuk kelompok jemaat untuk mengelola lahan itu. Hasilnya cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, dan sisanya dijual untuk menambah penghasilan,” terang Lurah Christian.
Kegiatan ini bukan sekadar menanam tanaman, tetapi juga menumbuhkan kebersamaan. Setiap minggu, kelompok jemaat bekerja bersama merawat kebun—menyiram, membersihkan gulma, dan memanen hasil bumi. Hasil panen dibagikan secara adil untuk keluarga jemaat yang berpartisipasi, sebagian dijual di pasar lingkungan sekitar gereja.
Ketahanan Pangan dari Komunitas Iman
Langkah kreatif jemaat Betlehem Oesapa Barat ini menjadi contoh nyata bagaimana komunitas gereja dapat berperan langsung dalam mendukung program ketahanan pangan di tengah keterbatasan lahan. Gereja tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga pusat pemberdayaan dan solidaritas sosial.
Christian menilai inisiatif tersebut selaras dengan semangat pemerintah kota Kupang untuk memperkuat ketahanan pangan berbasis komunitas. Dengan kreativitas dan gotong royong, masyarakat bisa tetap produktif meski hidup di kawasan perkotaan yang padat.
“Kami bangga karena walaupun ruang terbuka hampir tidak ada, masyarakat tetap bisa berinovasi. Ini bukti bahwa semangat kebersamaan bisa menumbuhkan kesejahteraan,” tuturnya.
Hijau di Tengah Beton
Kini, kebun belakang Gereja Betlehem menjadi tempat belajar bagi warga sekitar. Anak-anak sekolah minggu ikut menanam dan belajar mengenal jenis sayuran, sementara ibu-ibu gereja mengelola hasil panen menjadi olahan makanan rumah tangga.
Setiap sore, halaman belakang gereja berubah menjadi ruang hijau yang ramai oleh aktivitas warga. Di tengah deretan rumah dan lalu lintas kota, kebun kecil itu menjadi simbol bahwa ketahanan pangan tidak harus dimulai dari lahan luas, tapi dari hati yang mau bekerja sama.
“Kami berharap apa yang dilakukan jemaat Betlehem bisa menjadi inspirasi bagi kelurahan lain di Kota Kupang. Bahwa dari lahan sempit pun, bisa tumbuh harapan besar,” pungkas Christian. (Penulis/ADV)





