Menjahit Harapan dari Pesisir: Rumput Laut dan Masa Depan Ekonomi Inklusif Sumba Timur

oleh -88 Dilihat
Wakil Bupati Sumba Timur, Yonathan Hani. (Foto Istimewa)

Suarantt.id, Waingapu-Hamparan laut biru di pesisir Sumba Timur kini tak lagi sekadar menghadirkan panorama indah. Di balik riak ombaknya, tersimpan harapan baru bagi masyarakat: rumput laut, komoditas yang perlahan menjelma menjadi “emas hijau” penopang ekonomi keluarga.

Bagi warga pesisir, rumput laut bukan sekadar hasil budidaya. Ia telah menjadi sumber penghidupan utama, terutama di tengah keterbatasan musim tanam pada lahan kering. Dengan curah hujan yang singkat, banyak petani beralih ke laut, menggantungkan harapan pada tali-tali bentangan rumput laut yang mengapung di perairan dangkal.

Namun, perjalanan menjadikan rumput laut sebagai motor ekonomi tidaklah sederhana. Selama ini, petani sering berjalan sendiri berhadapan dengan fluktuasi harga, keterbatasan modal, hingga akses pasar yang sempit. Di sinilah pendekatan baru mulai hadir, merangkai potensi yang tercerai menjadi sebuah ekosistem yang lebih utuh.

Melalui proyek Promoting Micro and Small Enterprises through Improved Access to Financial Services Phase II (PROMISE II IMPACT), International Labour Organization (ILO) mencoba menjahit kembali rantai nilai rumput laut dari hulu hingga hilir. Program ini tidak hanya berfokus pada produksi, tetapi juga menghubungkan petani dengan akses pembiayaan, pasar, serta layanan pendukung lainnya.

Manajer Proyek PROMISE II IMPACT, Djauhari Sitorus, menegaskan bahwa kunci keberhasilan sektor ini terletak pada kolaborasi.

“Pemerintah, pelaku usaha, pekerja, dan masyarakat harus berjalan bersama. Tanpa itu, penguatan sektor ini sulit berkelanjutan,” ujarnya kepada media pada Minggu, 19 April 2026.

Pendekatan tersebut menempatkan petani sebagai bagian dari ekosistem usaha yang terintegrasi, bukan lagi sebagai pelaku yang berdiri sendiri. Pelatihan, digitalisasi, hingga literasi keuangan menjadi bagian dari upaya memperkuat kapasitas mereka, agar mampu bersaing dalam rantai nilai yang lebih luas.

Kerja sama antara ILO dan Pemerintah Kabupaten Sumba Timur pun mulai menunjukkan hasil.

Wakil Bupati Sumba Timur, Yonathan Hani, menyebut program ini memberikan dampak nyata, terutama dalam meningkatkan kapasitas petani dan membuka akses pasar yang selama ini belum terkelola optimal.

“Pendampingan ini bukan hanya soal teknik budidaya, tetapi juga literasi keuangan agar petani mampu mengelola pendapatan dengan baik,” ujarnya.

Perubahan mulai terasa di tingkat masyarakat. Jika sebelumnya petani dihantui ketidakpastian harga, kini adanya kepastian pasar membuat mereka lebih percaya diri untuk berproduksi. Pendapatan pun perlahan meningkat, membuka peluang baru bagi keluarga pesisir untuk memperbaiki kualitas hidup.

Tak sedikit di antara mereka yang kini mampu menyekolahkan anak ke luar daerah ke Kupang, Bali, bahkan Jawa. Rumput laut telah menjelma menjadi jembatan harapan, menghubungkan generasi pesisir dengan masa depan yang lebih cerah. Di sisi lain, keterlibatan perempuan dan generasi muda juga semakin terlihat.

Sekitar 40 hingga 50 persen perempuan di wilayah pesisir kini aktif dalam proses produksi dan penjualan. Kehadiran mereka tidak hanya memperkuat ekonomi keluarga, tetapi juga mendorong tumbuhnya ekonomi yang lebih inklusif.

Meski demikian, jalan menuju kemandirian ekonomi masih menyisakan tantangan.
Akses pembiayaan yang belum merata, standar kualitas yang perlu ditingkatkan, serta kapasitas manajemen usaha yang masih terbatas menjadi pekerjaan rumah bersama. Koordinasi antar pemangku kepentingan pun perlu terus diperkuat agar integrasi rantai nilai berjalan lebih efektif.
Dari perspektif industri, potensi rumput laut Indonesia masih terbuka lebar.

Direktur Utama PT Astil, Ayi Nurmalaela, menyebut baru sekitar 20 persen garis pantai yang dimanfaatkan, sementara permintaan global terus meningkat hingga 9-12 persen per tahun.

BACA JUGA:  Didukung Pemerintah Pusat, Kota Kupang Siap Jadi Percontohan Pengelolaan Sampah di NTT

Hal ini menunjukkan bahwa peluang pengembangan masih sangat besar, terutama di wilayah timur Indonesia seperti Sumba Timur yang memiliki sumber daya alam melimpah.

Saat ini, dari sekitar 15 ribu hektare potensi lahan budidaya, baru 200 hingga 300 hektare yang dimanfaatkan. Angka ini menjadi pengingat bahwa ruang untuk tumbuh masih terbentang luas.

Bagi masyarakat pesisir, rumput laut bukan hanya komoditas ekonomi, tetapi juga simbol ketahanan hidup. Ia hadir di tengah keterbatasan, menawarkan stabilitas di saat sektor lain tak mampu diandalkan.

Kini, melalui kolaborasi yang mulai terbangun, harapan itu perlahan dijahit kembali menghubungkan petani dengan pasar, menguatkan kapasitas dengan pengetahuan, serta membuka akses terhadap pembiayaan yang selama ini sulit dijangkau.

“Ke depan, kami berharap rumput laut bisa menjadi sentra utama yang mendorong pertumbuhan ekonomi dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di wilayah pesisir,” tutup Yonathan.

Di pesisir Sumba Timur, harapan itu terus tumbuh mengikuti arus laut yang tak pernah berhenti, membawa mimpi masyarakat menuju masa depan yang lebih inklusif dan berkelanjutan. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.