Pedagang dan UMKM Kota Kupang Bernapas Lega, GPM Jadi Penopang di Tengah Harga Melonjak

oleh -433 Dilihat
Kegiatan Gerakan Pangan Murah yang Digelar oleh Pemerintah Kota Kupang. (Foto Istimewa)

Suarantt.id, Kupang-Di tengah tekanan ekonomi dan kenaikan harga kebutuhan pokok yang semakin terasa bagi masyarakat kecil, Gerakan Pangan Murah (GPM) kembali menjadi ruang harapan bagi warga Kota Kupang. Program yang digelar Pemerintah Kota Kupang melalui Dinas Ketahanan Pangan ini berlangsung pada Selasa, 18 November 2025, dan kembali menunjukkan betapa pentingnya intervensi harga bagi masyarakat maupun pelaku usaha kecil.

Sejak pagi, halaman Gereja Katolik Paroki Santo Antonius dari Padua menjadi pusat keramaian. Puluhan warga datang dengan kantong belanja, berharap bisa mendapatkan kebutuhan pokok dengan harga yang lebih bersahabat. Pasar murah ini bukan hanya diserbu pembeli, tetapi juga dirasakan manfaatnya oleh para pedagang dan UMKM yang terlibat.

UMKM Ikut Tersenyum: Dagangan Ludes, Harga Tetap Stabil

Daud, salah satu pelaku UMKM yang menjual bawang, beras, dan kacang-kacangan, menjadi saksi hidup antusiasme warga. Sejak membuka lapak, ia tidak punya waktu untuk berhenti. Arus pembeli mengalir tanpa henti hingga semua barang dagangannya habis sebelum siang.

“Kami ikut GPM untuk menstabilkan harga pangan di Kota Kupang,” ujarnya.
Ia menawarkan harga yang jauh lebih terjangkau dari harga pasar: bawang putih Rp35.000 per kilogram, bawang merah Rp28.000, beras tagi Rp24.000, kacang hijau Rp24.000, hingga lombok Rp22.000.

Menurut Daud, GPM menjadi tempat yang tidak hanya sekadar menjual barang, tetapi juga membuka peluang bagi UMKM untuk mendapat keuntungan secara cepat dan pasti. “Pembeli terus datang. Mereka berharap kegiatan ini tidak hanya sekali. Kami juga terbantu karena semua barang habis,” katanya.

Meski sudah menyediakan pembayaran digital, sebagian besar pembeli masih mengandalkan uang tunai. “QRIS ada, tapi rata-rata pembeli cash,” jelasnya.

Warga Kecil Terbantu: Pasar Murah yang Benar-Benar Murah

Di sisi lain, warga seperti Oma Lisa merasakan langsung manfaat kegiatan ini. Dengan senyum lega, ia membawa pulang minyak goreng dan beras dengan harga yang lebih murah dibanding di kios atau pasar konvensional.

“Kita orang kecil bisa jangkau harga di pasar murah. Kalau di kios, harganya mahal dan kita tidak mampu,” tuturnya sambil menunjukkan belanjaannya: minyak 9 liter seharga Rp15.700 per liter dan beras seharga Rp58.000.

Baginya, GPM bukan hanya pasar murah, tapi peluang yang jarang datang. “Lebih bagus kalau pemerintah buat dua sampai tiga bulan sekali supaya masyarakat kecil bisa terbantu,” tambahnya.

Strategi Pemerintah Jaga Stabilitas Harga

Kepala Bidang Distribusi Ketahanan Pangan Masyarakat Kota Kupang, Paul Seubelan, menjelaskan bahwa GPM merupakan program yang digagas Badan Pangan Nasional dan sudah dijalankan secara konsisten dua hingga tiga tahun terakhir.

“Tujuan utamanya menjaga keamanan dan stabilisasi pasokan serta harga pangan,” jelasnya. Program ini juga menjadi salah satu instrumen pengendalian inflasi yang krusial menjelang masa sibuk seperti Natal dan Tahun Baru.

Untuk menjamin stok aman dan harga tetap stabil, pemerintah menggandeng Bulog sebagai penyalur beras SPHP, PPI untuk kebutuhan seperti minyak goreng, gula, dan tepung, serta berbagai UMKM lokal.

“Prinsipnya adalah fasilitas distribusi. Kami menanggung biaya angkut, transportasi, dan konsumsi mereka. Sebagai gantinya, UMKM menjual dengan harga yang sudah disepakati,” terang Paul.
Ia juga memastikan bahwa GPM terbuka bagi siapa saja tanpa syarat khusus.

Tahun ini, GPM digelar di enam kecamatan di Kota Kupang dan menjelang Natal, fokus pelaksanaannya diarahkan ke gereja-gereja yang menjadi pusat berkumpulnya masyarakat.

BACA JUGA:  Survei BI Ungkap Kinerja Usaha NTT Naik, Investasi dan Produksi Ikut Menguat

Ruang Kecil yang Menahan Gelombang Harga

GPM tidak hanya memberi ruang bagi warga kecil untuk bernapas lega, tetapi juga menjadi jembatan bagi UMKM untuk tetap bergerak di tengah kondisi ekonomi yang tidak mudah. Interaksi antara pedagang, pemerintah, dan warga menciptakan ekosistem kecil yang saling menguatkan.

Selama enam hari pelaksanaan, GPM kembali membuktikan bahwa inisiatif sederhana dapat memberi manfaat besar. Di tengah harga pangan yang melonjak, GPM hadir sebagai penopang yang menjaga keseimbangan memberi harapan kecil namun nyata bagi banyak keluarga di Kota Kupang. (Penulis/ADV)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.