Potret Miris Pelajar Kota Kupang di Tengah Ancaman HIV/AIDS

oleh -1469 Dilihat
Para Pemateri Soal Meningkatnya Kasus HIV/AIDS bagi Pelajar di Kota Kupang. (Foto Hiro)

Suarantt.id, Kupang-Di tengah derasnya arus teknologi dan pergaulan bebas, Kota Kupang kini dihadapkan pada kenyataan pahit: semakin banyak pelajar dan mahasiswa terpapar HIV/AIDS. Data terbaru Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kota Kupang mencatat, terdapat 254 kasus HIV/AIDS di kalangan pelajar dan mahasiswa, angka yang bahkan melampaui kasus di kalangan pekerja seks (WPSL) yang berjumlah 203 kasus.

Berdasarkan data tersebut, pekerja swasta menjadi profesi dengan kasus tertinggi yakni 889 kasus (35 persen), diikuti oleh kategori lain-lain sebanyak 432 kasus (17 persen), ibu rumah tangga 406 kasus (16 persen), pelajar/mahasiswa 254 kasus (10 persen), dan WPSL/PSK sebanyak 203 kasus (8 persen).

Distribusi kasus tertinggi tercatat di Kecamatan Oebobo dengan 21 persen (533 kasus), disusul Kelapa Lima 20 persen (508 kasus), Maulafa 19 persen (482 kasus), Alak 17 persen (432 kasus), Kota Lama 12 persen (305 kasus), dan Kota Raja 11 persen (279 kasus).

Pendidikan Jadi Benteng Awal

Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Kupang, Okto Nitboho, menilai bahwa meningkatnya kasus di kalangan pelajar menjadi peringatan serius bagi semua pihak, termasuk dunia pendidikan.

“Walaupun hanya nol koma sekian persen naiknya, tapi ini bukan hal sepele. Ini menjadi perhatian semua stakeholder yang ada,” tegasnya dalam kegiatan edukasi pencegahan HIV/AIDS yang berlangsung di Hotel T-More Kupang pada Selasa (4/10/2025).

Menurut Okto, perkembangan teknologi menjadi faktor dominan yang mempengaruhi perilaku siswa. Akses internet yang luas tanpa pengawasan, membuka peluang bagi remaja untuk terpapar konten negatif dan gaya hidup berisiko.

“Peran kami di Dinas Pendidikan adalah meningkatkan edukasi kepada pelajar, khususnya di tingkat SMP dan SD, agar memahami dampak pergaulan bebas. Kami juga berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan dan pihak terkait untuk melakukan langkah preventif,” jelasnya.

BACA JUGA:  Gubernur Melki Tatap Muka dengan Kepala SMA/SMK se-Kabupaten Ende

Ia menambahkan, pendidikan agama di sekolah perlu diperkuat sebagai filter moral agar siswa mampu membedakan hal yang baik dan buruk. Namun, waktu siswa di sekolah yang hanya sekitar delapan jam membuat peran orang tua menjadi sangat penting dalam mengawasi aktivitas anak di luar jam belajar.

Keluarga Jadi Tembok Pertama

Ketua Komisi IV DPRD Kota Kupang, Neda Ridla Lalay, turut menyampaikan keprihatinannya terhadap fenomena tersebut.

“Sebagai seorang ibu, saya sangat terpukul dengan kenyataan ini. Fungsi keluarga, agama, dan pendidikan karakter harus benar-benar dijalankan,” ungkapnya dengan nada emosional.

Menurut Neda, orang tua sering kali merasa tabu untuk berbicara soal seksualitas dan alat reproduksi dengan anak-anak mereka. Padahal, keterbukaan justru penting agar anak tidak mencari tahu dari sumber yang salah.

“Orang tua harus jadi sahabat anak. Jangan biarkan mereka belajar dari teman atau media sosial yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Edukasi tentang alat reproduksi bukan hal tabu lagi,” tegasnya.

Neda juga mengaku prihatin karena kasus HIV/AIDS kini ditemukan pada anak-anak tingkat SMP.
“Kalau anak SMA atau mahasiswa mungkin kita tidak terlalu kaget, tapi ini anak SMP. Kita tidak pernah membayangkan hal itu bisa terjadi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa DPRD Kota Kupang akan mendorong kolaborasi lintas sektor, termasuk pendidikan dan kesehatan, untuk memperkuat program edukasi pencegahan HIV/AIDS di kalangan pelajar.

Sinergi untuk Menyelamatkan Generasi

Kegiatan edukasi di Hotel Timore tersebut dihadiri oleh perwakilan dari beberapa sekolah, antara lain SMPN 2 Kupang, SMPN 5 Kupang, SMPN 8 Kupang, dan SMPN 20 Kupang. Para guru dan siswa mendapatkan materi tentang bahaya HIV/AIDS, pergaulan bebas, serta pentingnya pengawasan keluarga di era digital.

BACA JUGA:  Irenius Take Warga Manulai II Jadi Pelanggan Pertama Program Promo Sambungan Baru Perumda Air Minum Kota Kupang

Kasus HIV/AIDS di kalangan pelajar menjadi cermin bahwa persoalan ini bukan sekadar isu kesehatan, tetapi juga krisis nilai dan komunikasi antar generasi. Upaya menekan angka penularan harus dimulai dari rumah, diperkuat di sekolah, dan disinergikan oleh pemerintah.

Karena pada akhirnya, menyelamatkan satu generasi berarti memastikan masa depan Kota Kupang tidak tenggelam dalam bayang-bayang virus yang menakutkan ini. ***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.